RADAR GRESIK – Warga Desa Banyuwangi, Kecamatan Manyar, Gresik, kembali menggelar tradisi tahunan Sedekah Bumi. Kegiatan yang berlangsung sehari penuh ini menjadi momentum sakral untuk memanjatkan rasa syukur atas nikmat Tuhan sekaligus mempererat tali silaturahmi antarwarga.
Tradisi Sedekah Bumi di Dusun Banyutami ini diisi dengan serangkaian kegiatan keagamaan dan kebersamaan. Sejak pagi, para warga tampak khidmat melaksanakan Khotmil Qur’an 30 juz, pembacaan Ayat Kursi, dan Surat Yasin sebanyak 40 kali.
Kegiatan ini dipusatkan di area sumur keramat yang selama ini diyakini memiliki manfaat besar dan menjadi sumber kehidupan bagi warga setempat. Malam harinya, acara dilanjutkan dengan Istighosah, doa bersama, dan makan bareng yang dikenal dengan istilah lengseran di area berbeda, diikuti oleh seluruh warga Dusun Banyutami.
Kepala Desa Banyuwangi, Siti Maslahah, menyampaikan bahwa acara ini merupakan simbol kebersamaan dan wujud rasa syukur.
“Alhamdulillah acara sejak pagi berjalan lancar. Acara ini rutin diadakan setiap tahun untuk mensyukuri adanya sumur keramat yang manfaatnya terus dirasakan hingga sekarang,” ujarnya.
Menurut Siti Maslahah, sumur keramat yang berada di sebelah utara Dusun Banyutami itu memiliki nilai sejarah dan keunikan. Meskipun aksesnya hanya berupa jalan setapak melewati kawasan pergudangan, antusiasme warga tetap tinggi.
“Sumur itu airnya tidak pernah surut, bahkan juga dimanfaatkan untuk kebutuhan PDAM warga. Sejak dulu sumur ini menjadi sumber kehidupan warga Desa Banyuwangi,” jelasnya.
Ia turut mengisahkan cerita turun-temurun tentang desa tersebut. Dahulu, terdapat sembilan sumur atau dikenal dengan sumur songo di wilayah Banyutami, yang dipercaya memiliki khasiat sebagai penawar penyakit. Namun, kini hanya tersisa satu sumur yang masih aktif dimanfaatkan warga.
Ketua Panitia Sedekah Bumi, Shoin Sarkawi, mengucapkan terima kasih atas dukungan dan partisipasi seluruh pihak.
“Saya atas nama panitia mengucapkan terima kasih kepada semua pihak, baik warga maupun pemerintah desa yang sudah guyub rukun mendukung acara ini. Semoga keberkahan selalu menyertai Desa Banyuwangi,” katanya.
Kegiatan tasyakuran tahun ini juga diisi dengan Mauidhotul Jasanah dan Nguri-nguri Tradisi oleh tokoh agama Khoirul Anam. Beliau mengisahkan asal-usul Banyutami dan sejarah keberadaan sumur songo yang konon dibuat oleh Siti Fatimah binti Maimun, tokoh penyebar Islam di wilayah setempat.
“Banyu ne iku banyu sempurno, air yang bagus. Karena menjadi sumber kehidupan,” ucap Khoirul Anam.
Siti Maslahah berharap kegiatan ini bisa terus berlangsung setiap tahun. “Selain sebagai ajang syukur, juga mempererat silaturahmi antara warga dan pemerintah desa. Kita ingin lebih meriah dan lebih baik ke depan,” imbuhnya. (jar/han)
Editor : Hany Akasah