Ekonomi & Bisnis Features Gaya Hidup Hukum dan Kriminal Jatim Kebo Giras Kesehatan Kota Gresik Moncer Seru Olahraga Pendidikan Peristiwa Person of The Year Pojok Perkoro

Hebat! Warga Bungah Gresik Gotong Royong Bangun Tanggul Darurat Agar Sawahnya Selamat

Fajar Yuliyanto • Senin, 19 Mei 2025 | 05:12 WIB

 

Gotong Royong : Warga Bungah Gresik membangun tanggul darurat imbas luapan air Bengawan Solo.
Gotong Royong : Warga Bungah Gresik membangun tanggul darurat imbas luapan air Bengawan Solo.

Bungah Ketika air Bengawan Solo kembali merayap ke arah pemukiman dan lahan pertanian, warga Desa Bungah, Kecamatan Bungah, Gresik, tak tinggal diam. Mereka tahu, jika hanya menunggu, sawah akan kembali tenggelam, dan harapan panen tinggal kenangan.

Sejak pagi buta, puluhan warga dan petani sudah berkumpul di perbatasan Dusun Dukuh dan Dusun Karangpoh. Dengan cangkul di tangan, mereka bahu-membahu menggali tanah, mengisi karung goni, dan menyusunnya menjadi tanggul darurat sepanjang hampir 100 meter.

Karung-karung itu adalah sisa bantuan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gresik saat banjir Ramadan lalu. Kali ini, mereka manfaatkan sepenuh hati untuk melindungi lahan yang menjadi tumpuan hidup.

“Kami mulai kerja bakti sejak pukul setengah tujuh pagi sampai jam sebelas siang. Alhamdulillah, warga kompak,” tutur Subaqir, Kepala Desa Bungah, Minggu (18/5).

Subaqir mengatakan, sebanyak 1.000 karung goni disusun rapi sebagai benteng penahan air. Langkah darurat ini diambil karena belum ada tanggul permanen di wilayahnya. Ia menyebut, ada 39 hektare lahan persawahan di tiga dusun yang terancam antaralain Dusun Karangpoh, Dukuh, dan Kaliwot. Musim ini saja, banjir sudah datang tiga kali.

“Kalau tidak kita hadang, sawah-sawah bisa habis. Air cepat masuk, tapi susah sekali surut,” jelasnya.

Warga tahu, ini bukan solusi jangka panjang. Namun mereka juga sadar, menunggu proyek besar dari pemerintah bisa memakan waktu. Maka, gotong royong menjadi pilihan terbaik, dan solidaritas menjadi bahan bangunan utama tanggul darurat mereka.

Banjir di Desa Bungah terjadi akibat luapan air Bengawan Solo yang volumenya meningkat karena hujan deras di daerah-daerah hulu sungai dalam beberapa pekan terakhir. Air mulai menggenangi permukiman warga pada Minggu siang, dengan ketinggian antara 30 hingga 50 sentimeter.

“Desa Bungah memang termasuk titik rawan. Tidak ada tanggul di bantaran sungai. Jadi saat Bengawan Solo meluap, air langsung masuk ke sawah dan rumah warga,” kata F.X. Driatmiko Herlambang, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Gresik.

Miko menambahkan, banjir di kawasan tersebut tergolong sulit surut karena topografi dan sistem drainase yang kurang optimal. Itulah sebabnya, keberadaan tanggul sangat penting untuk melindungi wilayah pertanian dan pemukiman di sekitar bantaran sungai.

Warga berharap ada tindak lanjut nyata dari pemerintah daerah. Bukan hanya bantuan sesaat, tapi juga pembangunan tanggul permanen yang selama ini absen.

“Bantuan darurat seperti ini tentu kami syukuri. Tapi untuk jangka panjang, kami mohon Pemkab Gresik membangun tanggul permanen di bantaran Bengawan Solo,” harap Subaqir.

Di tengah ketidakpastian cuaca dan ancaman banjir yang selalu datang tiba-tiba, kekuatan masyarakat Desa Bungah justru tampak dalam kesederhanaannya: kerja sama, ketulusan, dan keyakinan bahwa bersama, mereka bisa menjaga tanah kelahiran tetap berdiri tegak—meski hanya dengan karung-karung goni berisi tanah. (jar/fir)

Editor : Cak Fir
#Bengawa Solo #bungah #sawah #Banjir #Tanggul