Ekonomi & Bisnis Features Gaya Hidup Hukum dan Kriminal Jatim Kebo Giras Kesehatan Kota Gresik Moncer Seru Olahraga Pendidikan Peristiwa Person of The Year Pojok Perkoro

Nekat Banting Setir, Mantan Kontraktor Ini Justru Sukses Besar Jadi Juragan Kambing Kurban

Yudhi Dwi Anggoro • Rabu, 7 Mei 2025 | 09:14 WIB
Imam tak hanya menjual hewan kurban namun membuka jasa penitipan hewan hingga hari H Iduladha tanpa tambahan biaya.
Imam tak hanya menjual hewan kurban namun membuka jasa penitipan hewan hingga hari H Iduladha tanpa tambahan biaya.

Kebomas – Di tengah rimbunnya pepohonan Desa Klangonan, Kecamatan Kebomas, berdiri sebuah kandang sederhana yang ramai oleh suara kambing. Kandang itu bukan sembarang kandang. Di sanalah kisah inspiratif Imam Kusumo, 62, bermula kisah tentang keberanian, cinta keluarga, dan insting bertani yang tak disangka mengantarkannya jadi juragan hewan kurban.

Dulu, Imam adalah seorang kontraktor. Ia mondar-mandir dari satu proyek ke proyek lain, sebagian besar berada di Kabupaten Tuban. Pekerjaan itu menjanjikan secara ekonomi, tapi menyita banyak waktu dan menjauhkannya dari keluarga.

“Saya rindu pulang. Saya ingin lebih dekat dengan istri dan anak-anak,” ujar Imam sembari mengelus bulu kambing jantannya yang berbobot besar.

Keputusan itu tak mudah. Meninggalkan dunia proyek yang sudah akrab, ia memulai lembaran baru sebagai peternak dari nol. Tahun 2018, ia membeli sepasang kambing. Dirawat sendiri, diberi makan dengan penuh kesabaran, dibersihkan kandangnya setiap pagi. Tak butuh waktu lama, kambing-kambing itu beranak pinak. Pelanggannya pun mulai berdatangan, mulut ke mulut menyebarkan reputasinya.

Kini, Imam mengelola 120 kambing dan 40 sapi di Kandang WK66 kandang miliknya yang terletak di Jalan Sunan Prapen II No. 66. Menjelang Iduladha, kandangnya nyaris tak pernah sepi. Pembeli berdatangan dari berbagai kota: Gresik, Surabaya, Lamongan, Sidoarjo, bahkan Mojokerto.

“Kalau bulan biasa, orang beli buat aqiqah. Tapi kalau sekarang, ya, semua buat kurban,” katanya dengan senyum lebar.

Yang unik, Imam tak hanya menjual. Ia juga menyediakan jasa penitipan hingga hari H Iduladha tanpa tambahan biaya, plus ongkir gratis untuk lima kota. Tak heran, kambing-kambingnya cepat ludes. Di tubuh beberapa kambing, cat merah jadi tanda bahwa mereka sudah dipesan, meski belum diangkut.

Perjalanan Imam tentu bukan tanpa rintangan. Ia pernah kehilangan beberapa ekor kambing karena penyakit perut. Ada pula yang mati dalam perjalanan pengiriman.

“Di sinilah tantangan peternak. Harus sabar, harus siap rugi, tapi jangan putus semangat,” tutur pria tiga anak ini.

Harga jual kambing di Kandang WK66 mulai dari Rp2 juta, sementara sapi dibanderol mulai Rp 20 juta. Di musim kurban, omzetnya bisa tembus ratusan juta rupiah. Tapi bagi Imam, bukan angka yang membuatnya bahagia. Melainkan momen ketika ia bisa duduk di teras rumah, melihat anak-anaknya tumbuh, dan tetap bekerja di dekat orang-orang yang dicintainya.

“Yang penting bisa dekat keluarga. Soal rezeki, Insya Allah selalu ada,” pungkasnya, menutup percakapan dengan kerendahan hati yang langka di tengah kesuksesan. (yud/fir)

Editor : Cak Fir
#Idul Adha #hewan kurban #kambing