Ekonomi & Bisnis Features Gaya Hidup Hukum dan Kriminal Jatim Kebo Giras Kesehatan Kota Gresik Moncer Seru Olahraga Pendidikan Peristiwa Person of The Year Pojok Perkoro

Duka di Puncak Lawu, Mbok Yem Sang Penjaga dan Sahabat Pendaki Kini Tinggal Kenangan

Hany Akasah • Kamis, 24 April 2025 | 17:26 WIB
SELAMAT JALAN MBOK YEM: Tiga Dekade Melayani di Atap Lawu, Kini Tinggal Kenangan.
SELAMAT JALAN MBOK YEM: Tiga Dekade Melayani di Atap Lawu, Kini Tinggal Kenangan.

RADAR GRESIK - Berdiri di ketinggian 3.150 meter di atas permukaan laut, dekat puncak Gunung Lawu terdapat sebuah warung sederhana yang telah menjadi saksi bisu perjalanan ribuan pendaki.

Warung itu milik Wakiyem, yang lebih akrab disapa Mbok Yem, sosok legendaris yang telah melayani para pendaki selama lebih dari tiga dekade. Tepat pada Hari Rabu (23/04) kabar duka datang dari Dusun Dagung, Desa Gonggang, Kecamatan Poncol, Magetan.

Mbok Yem menghembuskan napas terakhirnya di usia 82 tahun akibat pneumonia setelah sempat dirawat di RSU Siti Aisyiah Ponorogo. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi komunitas pendaki dan masyarakat sekitar.

Terletak hanya sekitar 115 meter dari puncak Hargo Dumilah, warung Mbok Yem dikenal sebagai warung tertinggi di Indonesia.

Baca Juga: Tragedi Gunung Lewotobi Laki-Laki : Sembilan Korban Jiwa dan Kerusakan Luas di Flores Timur

Di tempat yang sering diselimuti kabut dan suhu dingin menusuk, warung ini menjadi oase bagi para pendaki yang mencari kehangatan dan hidangan sederhana seperti nasi pecel, mie rebus, serta teh panas.

Setiap harinya, Mbok Yem melayani para pendaki Gunung Lawu, dengan lonjakan jumlah pendaki yang signifikan saat peringatan 17 Agustus dan 1 Suro. Logistik untuk warungnya diantarkan oleh dua kerabatnya setiap dua hari sekali, melalui perjalanan melelahkan selama 6-7 jam dari Posko Cemoro Kandang atau Cemoro Sewu.

Lebih dari sekadar penjual makanan, Mbok Yem adalah penjaga tradisi dan sahabat bagi para pendaki.

Baca Juga: Naomi Daviola, Kisah Pendaki Remaja yang Ditemukan Selamat Setelah Tersesat di Gunung Slamet

Setiap tahun, menjelang Lebaran, beliau selalu turun gunung untuk merayakan hari raya idulfitri bersama keluarga. Namun, tahun ini, karena kondisi kesehatannya yang menurun sejak bulan Februari lalu,  Mbok Yem terpaksa turun lebih awal dengan ditandu oleh enam orang.

Keberadaan Mbok Yem di puncak Gunung Lawu telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari pengalaman para pendaki. Banyak yang mengenangnya sebagai sosok yang ramah, tegar, dan penuh semangat, meskipun harus menghadapi cuaca ekstrem dan kesunyian di ketinggian.

Kepergian Mbok Yem meninggalkan kekosongan di puncak Gunung Lawu. Namun, warisan semangat dan dedikasinya akan terus hidup dalam kenangan para pendaki yang pernah singgah di warungnya. Beliau telah membuktikan bahwa dengan ketulusan dan kerja keras, seseorang dapat memberikan dampak besar bagi banyak orang, bahkan dari lokasi yang terpencil sekalipun. (fhm/han)

 

 

 

Editor : Hany Akasah
#Warung #pecel #puncak #gunung lawu #magetan #mbok yem #pendaki