RADAR GRESIK - Kue satru, camilan manis yang identik dengan momen Lebaran di Gresik, kini mulai terlupakan. Kue yang populer di era 80-an dan 90-an ini semakin sulit ditemukan, meskipun beberapa toko kue dan makanan di kota Gresik masih setia menjualnya.
Etik Ernawati, warga Jalan Sindujoyo, Kelurahan Sukodono Kecamatan Gresik yang merupakan salah satu penjual kue satru di Gresik menceritakan bahwa kue ini merupakan kudapan khas Gresik yang masuk dalam golongan kue kering. Teksturnya yang agak keras saat digigit berbanding terbalik dengan rasa manisnya yang lumer di mulut, diiringi aroma kacang hijau yang menggoda.
"Dulu, kue satru selalu menjadi primadona saat Lebaran. Hampir di setiap rumah di Gresik selalu menyajikan kue ini untuk dinikmati bersama keluarga dan tamu," kenang Etik.
Namun, seiring berkembangnya zaman dan munculnya berbagai kudapan baru, popularitas kue satru kini mulai memudar. Generasi muda pun banyak yang tidak mengenal kue ini.
"untuk membuat kue satru bisa dibilang gampang-gampang susah. Pertama yang harus dilakukan adalah menggoreng biji kacang hijau tanpa minyak. Kalau masyarakat Gresik menyebutnya disangrai. Ini dilakukan agar kulit kacang hijau lepas dari bijinya. Proses ini dilakukan sampai semua kulitnya lepas." Ucap Etik.
Setelah kulit terlepas, tumbuk sedikit biji kacang hijau hingga halus dan tuangkan gula bubuk sesuai dengan selera.
"Campur semua bahan sampai benar-benar rata. Masukkan air sedikit demi sedikit ke dalam adonan sambil tetap diaduk hingga rata sampai terbentuk adonan yang pulen," Jelas Etik.
Setelah adonan terbentuk, tuang adonan ke dalam alat pencetak kue dan selanjutnya masukkan ke dalam oven dengan suhu 145-160 derajat celcius. Panggang adonan selama kurang lebih 10- 15 menit.
"Angkat kue dari oven saat bentuknya mulai kering dan berwarna kecoklatan, "ungkap Etik.
Setelah kue matang, angkat kue dan tiriskan di tempat yang sejuk namun tidak terlalu dingin.
"Meskipun bisa dimasukkan ke dalam kulkas, namun lebih baik didinginkan secara alami. Sebab rasa kue bisa berubah kalau dimasukkan ke lemari pendingin," tutur Etik.
Baca Juga: Pecel Lele Lamongan, Kuliner Khas yang Jadi Primadona
Dicerikana Etik, pada awal dirinya membuat kue, bentuk kue yang dia produksi berbentuk kotak pojoknya setengah bundar. Namun dalam perkembangannya, kini Etik memproduksi kue yang berbentuk bunga, bulan sabit dan burung.
"Walaupun kue ini cukup sederhana dan murah, namun rasanya sangat lezat, sehingga membuat orang yang memakannya seakan-akan tidak ingin berhenti hingga kue habis," Pungkas Etik (Rin/Han)
Editor : Hany Akasah