Ekonomi & Bisnis Features Gaya Hidup Hukum dan Kriminal Jatim Kebo Giras Kesehatan Kota Gresik Moncer Seru Olahraga Pendidikan Peristiwa Person of The Year Pojok Perkoro

Tradisi Malam Selawe, Sejak Zaman Sunan Giri Berburu Lailatul Qodar

Hany Akasah • Senin, 17 April 2023 | 16:42 WIB
BERZIARAH : Para peziarah saat mengaji, membaca yasin dan tahlil, dan beriktikaf di area Makam Sunan Giri, Kecamatan Kebomas. (Yudhi/Radar Gresik)
BERZIARAH : Para peziarah saat mengaji, membaca yasin dan tahlil, dan beriktikaf di area Makam Sunan Giri, Kecamatan Kebomas. (Yudhi/Radar Gresik)
GRESIK - Tradisi malem selawe sudah banyak yang mengetahui, khususnya bagi masyarakat Gresik. Pada Ramadan 2023 ini, Malam Selawe digelar pada tanggal 15 April 223. Apa itu malem selawe? Tradisi ini merupakan sebuah tradisi masyarakat Giri yang sudah ada sejak zaman Sunan Giri, salah satu tokoh Wali Songo, salah satu penyebar Islam di Jawa.

Menurut sejarah, tradisi malam selawe merupakan kegiatan rutin yang dilakukan di zaman Sunan Giri. Seorang penyiar agama islam di Pulau Jawa. Saat itu, sebelum mudik, Raden Paku (Sunan Giri) mengajak para santrinya beri’tikaf di Masjid Giri dengan harapan mendapat berkah malam istimewa di Bulan Ramadhan.

Putra Alm KH. Muchtar Jamil, Fakhruddin Fakhry mengatakan malem selawe berarti menjelang hari ke-25 Ramadan. Awalnya Malam Selawe merupakan ajang sowan atau berpamitan para santri kepada Kanjeng Sunan Giri. Kebetulan saat itu banyak santri berasal dari berbagai daerah di Nusantara.

Baca Juga : Dari Pesantren Berubah Menjadi Kerajaan Islam Pertama di Tanah Jawa

" Biasanya, sebelum mereka pulang kampung atau mudik Lebaran, pada Ramadan malam ke-25 itulah para santri melaksanakan qiyamul lail, mengaji, membaca yasin dan tahlil, dan beriktikaf, " ujar Gus Fakhry.

Sementara salah itu, Mohammad Tajudin salah satu pengurus Yayasan Makam Nyai Ageng Pinatih yang mendampingi Gus Fakhruddin Fakhry menyampaikan hingga sekarang, Malam Selawe menjadi sebuah tradisi yang berlangsung turun menurun. Banyak peziarah yang datang ke Makam Sunan Giri, mulai dari anak kecil, remaja, hingga orang tua.

"Para peziarah dari Gresik maupun dari luar Kabupaten Gresik biasanya datang berbondong-bondong untuk iktikaf, berdoa, mengaji, dengan harapan mendapat berkah. Juga, berharap mendapat malam yang sangat istimewa, yaitu Lailatul Qadar, " tuturnya.



Saat malem selawe itulah seluruh masyarakat dari sekitar Giri dan daerah lainnya berdatangan. Menapaki sepanjang Jalan Sunan Giri sampai dengan area masjid dan makam. " Di Kanan-kiri jalan banyak penjual UMKM, makanan, minuman, mainan, baju, jilbab, dan lain-lain. Bagi warga sekitar dan penjual, malam selawe menjadi berkah jelang Hari Raya Idul Fitri, " ungkkapnya.

Pada era sekarang, tradisi tersebut berkembang tidak hanya beritikaf di masjid melainkan berziarah ke makam Sunan Giri serta banyaknya ratusan pelaku UMKM yang berjualan di lokasi makam.

Mereka menjajakan aneka produk usahanya yang dijual kepada para peziarah. Rahmat ,44, warga asal Kebomas yang berjualan baju muslim. Dirinya sangat berharap banyak adanya kegiatan ini untuk menambah kebutuhan sehari-hari. “Alhamdulillah dengan adanya pasar malam selawe, bisa membuat ekonomi para pedagang seperti saya ketiban rejeki banyak,” ujarnya.

Baca Juga : Diminta Mencari Tanah Seperti di Pasai Hingga Dirikan Pesantren

Wakil Bupati (Wabup) Gresik, Aminatun Habibah atau akrab dipanggil Bu Min mengatakan, banyaknya pengunjung di Masjid Giri. Hal ini bagus untuk UMKM sekitar mengingat menjelang Lebaran banyak masyarakat yang membutuhkan bermacam pakaian, atau kebutuhan yang baru. Sehingga, juga dapat meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar.

“Semangat Sunan Giri dalam mengajak masyarakat bermunajat kepada Allah SWT terus diwariskan ke masyarakat Gresik termasuk diantaranya membangkitkan kembali UMKM pasca pandemi covid-19,” pungkasnya.(yud/han) Editor : Hany Akasah
#berita #giri #malam 25 #malam selawe #gresik #kebomas #News #sunan giri