GRESIK - Kantor Pelayanan dan Pengawasan Bea Cukai (KPPBC) Gresik kembali memfasilitasi puluhan buyer asal Malaysia untuk membeli produk Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) asal Kabupaten Gresik.
Kegiatan yang bertajuk temu bisnis KBRI Kuala Lumpur dan buyer Malaysia dengan UMKM lokal itu ditargetkan bisa menciptakan nilai transaksi hingga puluhan miliar.
Kegiatan temu bisnis digelar di Kantor Bupati Gresik. Dalam kesempatan ini sedikitnya 30 pelaku UMKM hadir dan memamerkan aneka produknya.
Kepala Kantor Wilayah Bea Cukai Jatim I, Untung Basuki mengatakan, Kabupaten Gresik menjadi wilayah yang direferensikan oleh Bea Cukai lantaran dianggap banyak produk asal kota Santri yang memiliki kualitas ekspor.
Di samping banyak UMKM di Gresik yang sudah mendapatkan edukasi serta pemahaman mengenai regulasi dan aturan ekspor produk.
"Selain memiliki SDM yang unggul, produk UMKM asal Gresik tidak kalah dengan produk yang diproduksi oleh negara lain. Sehingga kami ingin membawa secara langsung para buyer ini kesini sekaligus melakukan penjajakan kira-kira barang apa yang dibutuhkan," kata Untung.
Menurutnya Untung, keunggulan SDM para pelaku UMKM di Gresik tidak lepas dari peran klinik ekspor di Bea Cukai Gresik hingga berhasil membuat sejumlah UMKM naik kelas. Disamping itu, karakter Gresik sebagai kota santri seolah selaras dengan lingkungan di Malaysia yang memiliki penduduk dengan mayoritas muslim.
"Kami optimistisnbanyak produk UMKM asal Gresik yang diminati oleh warga Malaysia seperti baju gamis, kerudung, songkok dan taqwa dan mukenah. Maka tidak berlebihan jika kami hadirkan para buyer ini datang ke kota Santri," imbuhnya.
Wakil Bupati Gresik, Aminatun Habibah mengamini apa yang disampaikan Kepala Kanwil Bea Cukai Jatim I. Menurut Bu Min (sapaan akrabnya) menyebut Kabupaten Gresik memiliki potensi yang cukup besar di sektor UMKM.
Antara lain, sentra kerajinan peci di Desa Pekelingan dan Kemuteran, sentra kain tenun di Wedani, rotan dari Kecamatan Menganti, hingga buah mangga di Kecamatan Sidayu.
"Jumlah UMKM di Kabupaten Gresik yang terdata juga cukup tinggi yakni sebanyak 60.657 UMKM," ujar Wabup Bu Min.
Menurut Wabup, dengan besarnya potensi dan banyaknya pelaku UMKM tersebut, mendorong Pemerintah Kabupaten Gresik untuk secara aktif melakukan berbagai kolaborasi dengan berbagai pihak. Disamping juga mendorong pendorong peningkatan kualitas UMKM, lewat berbagai pelatihan.
Pihaknya juga berharap agar UMKM di Kabupaten Gresik memanfaatkan kesempatan temu bisnis guna menggali informasi tentang apa-apa saja yang diinginkan para buyer.
"Dari sini, kita akan tahu bagaimana selera konsumen yang ada di Malaysia. Dengan begitu, maka proses link and match bisa berjalan dan menguntungkan kedua belah pihak," terang wabup.
Ditempat sama, Atase Perdagangan KBRI Kuala Lumpur, Deden Muhammad Fajar memberikan apresiasi kepada Bea Cukai Gresik dan Pemkab Gresik yang selama ini aktif dalam membantu UMKM agar bisa naik kelas.
"Dari seluruh daerah di Jawa Timur, menurut kami Gresik yang paling aktif dalam membangun kerja sama dan peluang-peluang ekspor," kata Deden.
Dia merincikan, besarnya pasar yang sudah terbentuk antara Pemerintah Indonesia dengan Malaysia. Tercatat, sebanyak 13,6 miliar US Dollar dibukukan dalam ekspor non migas Indonesia ke Malaysia pada tahun 2022.
Jumlah ini merupakan rekor tertinggi ekspor non migas Indonesia-Malaysia sepanjang sejarah, sekaligus menjadikan Malaysia sebagai negara utama tujuan ekspor non migas di wilayah ASEAN.
"Sehingga, kegiatan temu bisnis hari ini dilakukan antara buyer/eksportir dari Malaysia dengan rekan-rekan UMKM di Kabupaten Gresik," pungkasnya.
Kegiatan Temu Bisnis ini juga diisi dengan sesi sharing antara buyer dengan peserta. Salah satunya disampaikan Sheikh Faleigh bin Sheikh Mansor, pemilik dari Nusantara Fashion House di Malaysia. Bergerak di bidang pakaian busana muslim, dirinya menceritakan bagaimana peluang bisnis yang terbuka lebar dalam pemasaran pakaian/kain asal Indonesia di pasar Malaysia.
Pada bagian lain, Kepala Bea Cukai Gresik, Wahjudi Ardijanto menuturkan, selain menggelar kegiatan bussiness sharing, pihaknya juga mengajak para buyer asal Malaysia mengunjungi sentra UMKM di Sindujoyo. Dalam kesempatan ini, rombongan diperkenalkan berbagai produk makanan olahan, serta makanan yang menjadi ciri khas Gresik.
"Kegiatan ini merupakan kolaborasi antara Bea Cukai Gresik, Pemkab Gresik dan KBRI kuala lumpur Malaysia. Melalui kegiatan ini akan diketahui seberapa jauh produk UMKM Kabupaten Gresik, diminati di pasar Malaysia. Dengan begitu, diharapkan UMKM Gresik mendapatkan undangan mengikuti pameran makanan halal terbesar di Malaysia pada bulan September," kata Wahjudi. (fir/han)
Editor : Hany Akasah