Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Sambut Tradisi Kupatan, Warga Gresik Mulai Ramai Berburu Anyaman Janur

F
Penulis: Fajar Yuliyanto❯
Cekatan : Salah satu warga Desa Suci, Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik, mulai menganyam janur untuk persiapan tradisi Kupatan. (Fajar/Radar Gresik)
Cekatan : Salah satu warga Desa Suci, Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik, mulai menganyam janur untuk persiapan tradisi Kupatan. (Fajar/Radar Gresik)

Advertisement

RADAR GRESIK – Tradisi Kupatan yang jatuh sepekan setelah Idulfitri mulai terasa geliatnya di Kabupaten Gresik. Warga kini mulai sibuk mempersiapkan segala perlengkapan, terutama janur kelapa untuk membuat anyaman ketupat yang menjadi hidangan utama dalam momen penutup puasa sunnah Syawal tersebut.

Di Desa Suci, Kecamatan Manyar, aktivitas warga menganyam janur sudah mulai terlihat di teras-teras rumah. Tradisi ini bukan sekadar urusan kuliner, melainkan simbol silaturahmi dan permohonan maaf antarwarga.

Salah satu warga Desa Suci, Murthosiah, mengungkapkan bahwa permintaan janur meningkat tajam menjelang hari H. Hal ini pun berdampak pada fluktuasi harga di pasar maupun pedagang rumahan.

"Sekarang warga sudah mulai beli janur. Untuk yang belum dianyam, harganya sekitar Rp30.000 per ikat isi 75 biji. Kalau beli satuan sekitar Rp1.000 per biji," ujar Murthosiah, Kamis (26/3).

Bagi warga yang tidak ingin repot menganyam sendiri, tersedia pula ketupat kosong yang sudah dibentuk.

Advertisement

Untuk ketupat kosong dihargai Rp2.000 per biji, sedangkan ketupat matang (isi nasi/lepet) dihargai Rp4.000 per buah.

"Kalau semakin dekat hari H, harganya biasanya bisa semakin mahal," tambahnya.

Secara filosofis, Murthosiah menjelaskan bahwa kata "Kupat" berasal dari istilah bahasa Jawa ngaku lepat yang berarti mengakui kesalahan. Tradisi ini menjadi sarana bagi warga untuk saling memaafkan dengan tulus.

Di Desa Suci sendiri, perayaan Kupatan memiliki keunikan tersendiri yang dikenal dengan Tradisi Brahatan. Dalam tradisi ini, para pria membawa tumpeng nasi lengkap dengan lauk-pauk, ketupat, dan lepet ke masjid pada pagi hari.

"Pagi-pagi bapak-bapak ke masjid membawa tumpeng. Di sana ada doa bersama, makan bersama, lalu dibagikan ke warga yang lain," jelasnya.

Advertisement
Editor : Hany Akasah
Sumber : Radar Gresik

Artikel Terkait

Merawat Ingatan Warga, Festival Menjadi Gresik Jadikan Kampung Kemasan Ruang Arsip Sejarah Kota

Merawat Ingatan Warga, Festival Menjadi Gresik Jadikan Kampung Kemasan Ruang Arsip Sejarah Kota

RADAR GRESIK — Sejarah dan identitas Kota Gresik tidak hanya terpatri pada deretan bangunan kuno maupun lembaran dokumen resmi. Lebih dari itu, ingatan kolektif warga mengenai tradisi kuliner, busana, seluk-beluk kampung

Melibatkan WNA Asal Cina, Empat Tersangka Kasus 3,37 Ton Kuncup Ganja Cerme Bersiap Jalani Sidang

Melibatkan WNA Asal Cina, Empat Tersangka Kasus 3,37 Ton Kuncup Ganja Cerme Bersiap Jalani Sidang

RADAR GRESIK – Perkara megaskandal penyelundupan 3,37 ton cannabis buds atau kuncup bunga ganja yang berhasil diungkap jajaran Badan Narkotika Nasional Republik Indonesia (BNN RI) bakal segera memasuki babak persidangan

Pererat Silaturahmi dan Tingkatkan Kekompakan Organisasi, DWP Rutan Kelas IIB Gresik Gelar Pertemuan

Pererat Silaturahmi dan Tingkatkan Kekompakan Organisasi, DWP Rutan Kelas IIB Gresik Gelar Pertemuan

RADAR GRESIK – Jajaran Dharma Wanita Persatuan (DWP) Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Gresik menggelar agenda pertemuan rutin bulanan di Aula Rutan Kelas IIB Gresik, Selasa (3/11/2026).

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer