Ekonomi & Bisnis Features Gaya Hidup Hukum dan Kriminal Jatim Kebo Giras Kesehatan Kota Gresik Moncer Seru Olahraga Pendidikan Peristiwa Person of The Year Pojok Perkoro

PetroNite Fest Jadi Panggung UMKM Desa, Dari Markisa Sukorame hingga Jahe Merah Karangturi Makin Dikenal

Cak Fir • Selasa, 7 Juli 2026 | 18:01 WIB
PetroNite Fest 2026 tidak hanya menjadi pesta hiburan dalam rangka HUT ke-54 Petrokimia Gresik. Lebih dari itu, ajang ini menjadi ruang promosi sekaligus akselerasi ekonomi bagi UMKM lokal.
PetroNite Fest 2026 tidak hanya menjadi pesta hiburan dalam rangka HUT ke-54 Petrokimia Gresik. Lebih dari itu, ajang ini menjadi ruang promosi sekaligus akselerasi ekonomi bagi UMKM lokal.

Kebomas – Aroma jahe merah hangat berpadu dengan segarnya minuman markisa menyambut ribuan pengunjung yang memadati kawasan SOR Tri Dharma, Gresik, dalam gelaran PetroNite Fest 2026.

Di antara ratusan tenant yang berjejer, stan-stan desa dan kelurahan binaan Petrokimia Gresik menjadi magnet tersendiri. Bukan sekadar menjual produk, mereka membawa cerita tentang semangat warga mengolah potensi kampung menjadi sumber penghidupan.

Salah satu yang paling ramai diserbu pengunjung adalah stan Kelurahan Sukorame. Minuman markisa segar dan kerupuk bayam Brazil menjadi buruan. Menariknya, seluruh bahan baku berasal dari hasil budidaya masyarakat setempat.

Retno Istanti, anggota tim stan Kelurahan Sukorame, menuturkan bahwa produk tersebut lahir dari kebiasaan warga memanfaatkan lahan di lingkungan tempat tinggal. Kampung Markisa yang dikembangkan masyarakat kini memiliki sekitar 10 anjang-anjang markisa produktif. Hampir setiap rumah juga menanam bayam Brazil dalam pot.

"Markisa dan bayam Brazil kami olah menjadi produk bernilai ekonomi. Awalnya hanya untuk konsumsi sendiri, sekarang menjadi produk unggulan kelurahan," ujarnya.

Budidaya markisa dilakukan secara gotong royong. Di RW 1 saja, terdapat 12 kader ibu-ibu dan 10 bapak-bapak yang merawat sekitar 100 tanaman markisa kuning maupun ungu. Sementara bayam Brazil yang tumbuh di ratusan pot warga kini tidak hanya menjadi sayuran, tetapi juga diolah menjadi kerupuk yang memiliki nilai jual lebih tinggi.

Perjalanan produk Sukorame menuju pasar yang lebih luas tidak terjadi dalam semalam. Menurut Tanti, panggilan akrab Retno Istanti, pendampingan Petrokimia Gresik melalui Program Lontar (Kelompok Jajanan Masyarakat Sekitar) menjadi titik balik perkembangan usaha masyarakat.

Jika sebelumnya pemasaran hanya mengandalkan penjualan dari rumah dan promosi melalui WhatsApp, kini produk Sukorame mulai dikenal masyarakat luas. Bahkan saat momen Lebaran, penjualan minuman markisa mampu menembus sekitar 100 boks, masing-masing berisi 16 gelas.

"Pendampingannya bukan hanya produksi, tetapi juga pemasaran. Kami diberi kesempatan mengikuti PetroNite Fest dan produk kami juga masuk ke Swalayan K3PG. Dampaknya sangat terasa bagi pelaku UMKM," katanya.

Cerita serupa datang dari Kelurahan Karangturi. Berawal dari bibit jahe merah yang diberikan Petrokimia Gresik, masyarakat kini mampu memproduksi minuman jahe merah instan dalam kemasan sachet maupun botol.

Yuanita Fitri Agustin, tim stan Karangturi, mengatakan masyarakat mendapatkan pendampingan mulai dari teknik budidaya hingga proses pengolahan produk.

"Kami belajar dari awal sampai akhirnya bisa menghasilkan produk yang layak dipasarkan. Sekarang jahe merah menjadi salah satu produk unggulan Karangturi," ujarnya.

Selain minuman herbal, stan Karangturi juga menghadirkan lontong Ubus, kuliner khas Gresik yang selalu laris diburu pengunjung. Selama PetroNite Fest berlangsung, sekitar 40 kotak lontong Ubus dengan harga Rp12 ribu habis terjual setiap hari.

"Alhamdulillah kegiatan seperti ini benar-benar membantu meningkatkan pendapatan masyarakat," imbuhnya.

PetroNite Fest 2026 tidak hanya menjadi pesta hiburan dalam rangka HUT ke-54 Petrokimia Gresik. Lebih dari itu, ajang ini menjadi ruang promosi sekaligus akselerasi ekonomi bagi UMKM lokal.

Tahun ini, sebanyak 670 tenant ikut meramaikan kegiatan, terdiri atas 558 pedagang kaki lima, 73 stan outdoor VIP, dan 39 stan indoor VIP. Diantaranya terdapat 12 tenant mitra binaan Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) Petrokimia Gresik. Delapan tenant berasal dari desa dan kelurahan sekitar perusahaan, yakni Karangpoh, Karangturi, Roomo, Sukorame, Kroman, Lumpur, Ngipik, dan Tlogopojok.

Melalui pendampingan yang berkelanjutan, Petrokimia Gresik tidak hanya membantu masyarakat menghasilkan produk berkualitas, tetapi juga membuka akses pasar yang lebih luas. Dari kampung-kampung di sekitar perusahaan, lahir berbagai produk lokal yang kini semakin dikenal, memiliki daya saing, dan berpeluang berkembang menjadi usaha yang berkelanjutan.

Editor : Cak Fir
#UMKM #Petrokimia Gresik #pnf