RADAR GRESIK – Kemeriahan Ramadan 1447 H di Kabupaten Gresik terasa kian kental dengan digelarnya Festival Ramadan 2026. Acara yang berlangsung mulai 27 Februari hingga 1 Maret 2026 di depan Kantor DPRD Gresik ini bukan sekadar ajang perlombaan, melainkan menjadi mesin penggerak ekonomi bagi para pelaku UMKM lokal.
Meski sempat diguyur hujan pada hari pembukaan, antusiasme warga tidak luntur. Hal ini terbukti dari catatan omzet para pedagang yang mencapai jutaan rupiah selama tiga hari pelaksanaan.
Kabiro Radar Gresik, Siti Umi Hanik, menjelaskan bahwa festival ini merupakan kolaborasi rutin antara Radar Gresik dengan DPRD Kabupaten Gresik, serta didukung oleh berbagai sponsor. Beragam kegiatan seperti lomba da’i cilik, fashion show, al banjari, hingga pasar murah sukses menyedot perhatian massa.
"Ini kegiatan rutin tahunan untuk meningkatkan perekonomian masyarakat Gresik. Terima kasih kepada semua pihak yang telah menyukseskan acara ini," ujar Hani.
Para pelaku usaha kreatif hingga kuliner merasakan dampak langsung dari keramaian festival ini.
Sulis (Owner Ecoprint) mengaku berhasil memasarkan produk premium seperti baju ecoprint dan tas kulit. Meski hari pertama terkendala hujan dengan omzet hanya Rp 20 ribu, penjualannya melonjak di hari berikutnya.
"Total omzet selama tiga hari mencapai Rp 900 ribu, ditambah pesanan custom mukena dan tas senilai Rp 650 ribu pasca-acara," terangnya.
Hal yang sama juga dirasakan Sultan (Chicken Winner’s) di sektor kuliner, menu geprek bakar menjadi primadona. Sultan mencatatkan omzet rata-rata Rp 500 ribu per hari, dengan total pendapatan mencapai Rp 1,5 juta selama festival berlangsung.
Sementara Linda, penjual daster) meskipun merasa daya beli masyarakat sedikit menurun dibanding tahun sebelumnya karena kenaikan harga sembako, Linda tetap meraup untung. Dalam tiga hari, total penjualannya menyentuh angka Rp 2 juta.
Ada juga Rini & Mbak Mita (Dimsum & Teh Poci) menjadi salah satu yang paling laris, terutama saat jam-jam setelah salat Tarawih. Omzet mereka meningkat drastis dari Rp 600 ribu di hari pertama menjadi Rp 2,5 juta pada hari terakhir.
Bagi para pedagang seperti Rini, pelaksanaan tahun ketiga ini dirasa paling optimal karena persaingan antar-stan yang lebih sehat dan penataan yang lebih baik. Para pelaku UMKM berharap kegiatan serupa terus dipertahankan sebagai wadah promosi dan penjualan yang efektif di setiap momen Ramadan.
"Momen Ramadan memang banyak yang beli. Kalau bisa acara seperti ini digelar setiap tahun," pungkas Rini optimis. (jar/han)
Editor : Hany Akasah