Ekonomi & Bisnis Features Gaya Hidup Hukum dan Kriminal Jatim Kebo Giras Kesehatan Kota Gresik Moncer Seru Olahraga Pendidikan Peristiwa Person of The Year Pojok Perkoro

Lewat Program Tameng, Petrokimia Gresik Kembangkan Living Lab Pertanian Berkelanjutan Pertama di Indonesia

Muhammad Firman Syah • Sabtu, 11 Oktober 2025 | 14:26 WIB
Petani binaan PG memberikan penjelasan mengenai sistem Smart Greenhouse kepada pengunjung di kawasan Program Tawangargo Smart-Eco Farming Village (TAMENG), Kabupaten Malang.
Petani binaan PG memberikan penjelasan mengenai sistem Smart Greenhouse kepada pengunjung di kawasan Program Tawangargo Smart-Eco Farming Village (TAMENG), Kabupaten Malang.

Malang – Di tengah tantangan perubahan iklim yang kian kompleks, Desa Tawangargo, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang, menjawabnya dengan inovasi hijau. Melalui program Smart-Eco Farming Village “TAMENG”, kawasan ini bertransformasi menjadi Living Lab berbasis masyarakat model kolaborasi inklusif pertama di Indonesia yang dikembangkan oleh petani binaan Petrokimia Gresik.

Karmukit, Local hero Program TAMENG mengatakan, sebagai Living Lab, TAMENG kini menjadi ruang kolaboratif antara petani, peneliti, mahasiswa, hingga komunitas. Di sinilah ide diuji, teknologi sederhana diterapkan, dan inovasi lahir dari kerja bersama.

“Di Living Lab ini, kami para petani bukan lagi objek, tapi subjek. Kami melakukan riset dan uji coba nyata untuk menciptakan sistem pertanian yang berkelanjutan,” ujar Karmukit, Kamis (9/10).

Dia menjelaskan, program yang dimulai pada 2022 ini menggandeng 35 petani dari kelompok Agronova Vision. Sejak awal, Petrokimia Gresik hadir mendampingi dengan penerapan konsep Climate Smart Agriculture pertanian cerdas iklim yang tidak hanya menjaga keberlanjutan hortikultura, tetapi juga meningkatkan pendapatan petani.

Adapun kegiatan TAMENG meliputi seluruh rantai usaha tani: mulai pembibitan, penanaman, panen, hingga pemasaran. Kini, desa ini berkembang menjadi sentra hortikultura modern dengan dukungan teknologi ramah lingkungan. Penggunaan solar cell untuk menggerakkan pompa air, sistem drip irrigation, sprinkle, hingga pengelolaan limbah menjadi bukti keseriusan mereka membangun ekosistem hijau.

Inovasi TAMENG tak berhenti di lahan. Para petani kini aktif mengelola limbah pertanian dan rumah tangga melalui sistem pemilahan organik dan anorganik. Limbah organik diolah menjadi plant booster (POC), agensia hayati, serta pakan ternak.

Sementara limbah sayur yang masih layak konsumsi diolah oleh para istri petani menjadi produk bernilai jual seperti mie sayur, keripik, dan dodol sayur. Mereka bahkan membuka warung dan area kuliner bagi pengunjung yang ingin menikmati hasil panen langsung dari kebun.

“Untuk limbah anorganik, kami bekerja sama dengan Bank Sampah dan pengepul. Bahkan limbah B3 pun kami pisahkan agar tidak berbahaya,” imbuh Karmukit.

Untuk memperluas sumber pendapatan, kelompok TAMENG mengembangkan usaha peternakan domba, ikan, dan budidaya azolla. Mereka juga memproduksi kascing (pupuk organik dari cacing) yang sekaligus menyerap limbah pertanian.

Menariknya, kawasan ini kini juga dikembangkan menjadi agrowisata edukatif. Wisatawan dapat memetik buah dan sayur segar, mengikuti pelatihan budidaya hortikultura, hingga belajar mengolah hasil panen menjadi produk kreatif.

Atas keberhasilannya, Program TAMENG terpilih oleh Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian RI sebagai bagian dari program Closed Loop kolaborasi multi-stakeholder yang melibatkan BUMDes Sumber Rejeki sebagai kios produk pertanian. Berbagai produk unggulan seperti plant booster dan agensia hayati kini juga dijual secara komersial.

“Dengan konsep Living Lab, TAMENG menjadi ekosistem hortikultura dari hulu hingga hilir yang mampu meningkatkan kemandirian petani dan mendukung swasembada pangan nasional,” tegas Karmukit.

Ia pun menyampaikan apresiasi kepada Petrokimia Gresik atas dukungan dan pendampingan yang konsisten sejak awal program.

“Berkat Petrokimia Gresik, kami belajar menjadi petani yang kreatif dan adaptif. TAMENG bukan hanya solusi atas tantangan iklim, tapi juga bukti nyata bahwa pertanian Indonesia bisa naik kelas,” pungkasnya.

Editor : Cak Fir
#Malang #tameng #Binaan #Petrokimia Gresik #Petani