RADAR GRESIK – Pulau Bawean dikenal memiliki potensi perikanan yang melimpah. Sayangnya, para nelayan di sana masih menghadapi kendala besar: minimnya fasilitas pendingin atau cold storage.
Akibatnya, ikan hasil tangkapan tidak bisa bertahan lama dan sering kali terbuang sia-sia.
Plt. Kepala Dinas Perikanan Gresik, Arif Wicaksono, mengatakan bahwa keberadaan cold storage sangat vital untuk menjaga kesegaran ikan. Ia menambahkan bahwa unit cold storage yang ada saat ini sudah rusak dan perlu diganti atau diperbarui.
“Hasil perikanan di Pulau Bawean itu sangat melimpah, tapi terkendala cold storage yang minim. Cold storage itu alat pendingin untuk menjaga ikan tetap segar dan tidak cepat membusuk. Karena tidak ada, akhirnya ikan yang ditangkap gampang busuk,” jelas Wicaksono.
Saat produksi ikan sedang tinggi, tanpa alat pendingin yang memadai, nelayan terpaksa menjual ikan dengan harga sangat murah atau bahkan membuang kembali hasil tangkapannya ke laut. Padahal, standar tangkapan ikan di Bawean bisa mencapai 200 ton.
Untuk mengatasi masalah ini, Dinas Perikanan Gresik berencana menggandeng Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Jawa Timur dan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).
"Kami akan mengupayakan kerja sama karena biayanya besar dan tidak bisa dianggarkan melalui APBD," kata Wicaksono.
Langkah ini mendapat dukungan penuh dari Anggota Komisi II DPRD Gresik, Muhammad Kurdi. Ia mendorong agar pembiayaan juga bisa diupayakan melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) dari perusahaan-perusahaan di wilayah pesisir.
"Saat ini masih dalam tahap koordinasi dengan Dinas Perikanan Gresik. Kami juga mendorong agar CSR dari perusahaan-perusahaan pesisir bisa dimanfaatkan untuk mendukung pengadaan alat pendingin," tutup Kurdi.
Dengan sinergi lintas sektor ini, diharapkan permasalahan fasilitas pendingin dapat segera teratasi, sehingga potensi besar hasil perikanan Pulau Bawean tidak lagi terbuang percuma. (jar/han)
Editor : Hany Akasah