RADAR GRESIK – Kebijakan larangan penyelenggaraan study tour oleh sejumlah Pemerintah Daerah (Pemda) mulai menunjukkan dampak signifikan.
Kali ini, wisata religi di Kabupaten Gresik merasakan imbasnya, terutama di Makam Sunan Maulana Malik Ibrahim atau Sunan Gresik, yang kini sepi pengunjung dan mengancam keberadaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di sekitarnya.
Sejak libur panjang Kenaikan Isa Al Masih dan libur sekolah, jumlah pengunjung Makam Sunan Gresik merosot tajam, tidak seperti tahun-tahun sebelumnya. Para peziarah dari luar daerah pun tampak berkurang drastis.
"Mulai libur panjang sampai sekarang sepi banget, tidak seperti tahun-tahun lalu. Biasanya padat pengunjung. Apalagi ekonomi sekarang sedang lesu," keluh Ali, salah satu pedagang pentol di kawasan Makam Sunan Maulana Malik Ibrahim, Selasa (3/6).
Ali berharap pemerintah segera mencarikan solusi dan mengevaluasi kebijakan larangan study tour ini. Menurutnya, kebijakan tersebut berdampak luas pada berbagai sektor, mulai dari pengelola wisata, penyedia jasa transportasi, hingga pelaku UMKM di wisata religi. "Kalau dibiarkan ya lama-lama banyak UMKM yang gulung tikar karena penghasilannya menurun signifikan. Padahal justru wisata religi sangat memberikan nilai positif dan edukasi keislaman bagi siswa," ujarnya.
Senada, Edi, pedagang rujak manis, juga mengeluhkan penurunan penjualan hingga lebih dari 50 persen. Ia khawatir jika kondisi ini terus berlanjut, banyak pedagang, terutama yang menyewa lahan, akan merugi besar dan terancam gulung tikar. "Jumlah pengunjung berkurang jauh dari tahun-tahun sebelumnya. Kalau dibiarkan seperti ini ya lama-lama banyak pedagang yang merugi, apalagi mereka yang sewa lahan," terangnya.
Pengelola Makam Sunan Maulana Malik Ibrahim atau Sunan Gresik, Sudasir, membenarkan penurunan drastis ini. Jika pada libur panjang tahun-tahun sebelumnya peziarah bisa mencapai ribuan orang per hari, kini jumlahnya hanya ratusan. "Tahun-tahun sebelumnya mencapai 2.000 peziarah yang datang setiap hari, sekarang paling cuma 200 sampai 400 orang," kata Sudasir.
Ia tidak menampik bahwa kebijakan larangan study tour menjadi pemicu utama penurunan pengunjung. Sudasir menekankan pentingnya peran pemerintah untuk mencari solusi agar kondisi ini tidak semakin memburuk. "Memang mesti dicari solusinya, termasuk dari pemerintah," pungkasnya.
Editor : Hany Akasah