RADAR GRESIK - Sebanyak 1001 tanaman hias bonsai dengan berbagai kelas dipamerkan secara apik di depan kantor Bupati Gresik. Pameran bonsai skala nasional ini diikuti oleh penggemar dan kolektor dari berbagai provinsi di Indonesia, menampilkan beragam kelas mulai dari bintang (12 peserta), utama (23 peserta), madya (64 peserta), pratama (274 peserta), hingga prospek (628 peserta).
Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Gresik, dr. Asluchul Alif, menjelaskan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gresik melalui Dinas Pertanian bekerja sama dengan Perkumpulan Penggemar Bonsai Indonesia (PPBI) untuk menggelar pameran dan kontes bonsai tingkat nasional ini.
Keistimewaan pameran bonsai kali ini adalah digelarnya kelas bintang untuk pertama kalinya di Kabupaten Gresik.
“Kami sangat mendukung pameran bonsai ini karena dapat memperluas seni bonsai dan meningkatkan nilai ekonomi bonsai di Kabupaten Gresik,” kata dr Alif.
Menurutnya, target utama dari pameran bonsai ini adalah mendorong para petani dan penggemar bonsai untuk menghasilkan bonsai yang lebih banyak dan bernilai tinggi, sehingga berpotensi menciptakan lapangan kerja dan menurunkan angka pengangguran di Kabupaten Gresik.
“Tadi saya memilih salah satu bonsai karena keunikannya. Keunikannya terletak pada nilai seni dan bukan hanya pada tanamannya saja, tetapi juga pada penataan potnya. Bonsai tersebut ditata sedemikian rupa sehingga memberikan ilusi pohon di atas angin, seolah tidak ditanam di tanah dan tampak seperti terbang, meskipun bonsainya masih tergolong muda,” ujarnya.
Beberapa wilayah di Kabupaten Gresik yang memiliki potensi besar dalam pengembangan bonsai, antara lain Panceng, Dukun, Balongpanggang, Kedamean, dan Wringinanom.
Sementara itu, Ketua Umum Pusat Perkumpulan Penggemar Bonsai Indonesia (PPBI), Alex Tangkulung, menyampaikan PPBI memiliki 220 cabang yang tersebar di seluruh kabupaten di Indonesia.
Setiap cabang memiliki kesempatan untuk menggelar pameran bonsai tingkat nasional, dan Kabupaten Gresik menjadi tuan rumah pertama untuk kelas bintang. Beliau mengapresiasi dukungan Pemerintah Kabupaten Gresik yang selalu mendukung kegiatan bonsai di wilayah ini.
“Pengalaman saya menggelar pameran bintang di Tangerang menunjukkan bahwa acara seperti ini memiliki dampak ekonomi yang signifikan. Perputaran uang bisa mencapai Rp 5 miliar, mulai dari penjualan bonsai, produk UMKM, hingga transaksi perlengkapan bonsai,” ungkap Alex Tangkulung.
Mengenai harga bonsai yang dipamerkan, Alex Tangkulung menjelaskan harga sangat relatif dan bergantung pada penilaian pemilik saat ini. “Untuk harga, sangat tergantung pada pemiliknya. Bahkan, bonsai pemenang bisa bernilai hingga Rp 1 miliar lebih,” pungkasnya. (yud/han)
Editor : Hany Akasah