Manyar – Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, meresmikan fasilitas pemurnian emas PT Freeport Indonesia (PTFI) di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) JIIPE Gresik, Senin (17/03). Pabrik ini menjadi fasilitas pemurnian emas pertama dan terbesar di Indonesia sekaligus menandai babak baru dalam hilirisasi industri pertambangan nasional.
Dengan kapasitas produksi emas mencapai 50 ton per tahun atau setara Rp80 triliun, smelter ini tidak hanya memurnikan emas, tetapi juga memproduksi perak, platinum group metals (PGM), selenium, bismut, dan timbal. Smelter ini menggunakan teknologi hydrometallurgy, menjadikannya sebagai salah satu fasilitas pemurnian logam mulia modern dan terintegrasi terbesar di dunia.
Dalam paparannya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa pembangunan smelter ini merupakan bagian dari syarat peralihan kontrak Freeport dari Kontrak Karya (KK) menjadi Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) pada 2018. Freeport mengalokasikan 4,2 miliar dollar AS. Dari investasi itu sebesar 630 juta dollar AS atau ssekitar Rp10 triliun khusus untuk pembangunan fasilitas pemurnian emas.
"Dulu, bangsa ini selalu curiga terhadap Freeport. Proses negosiasi panjang akhirnya menghasilkan kesepakatan, dan pada 2021, Freeport bersedia berinvestasi untuk membangun smelter ini," ujar Bahlil.
Dijelaskan, Smelter Gresik ini mampu memurnikan 6.000 ton lumpur anoda per tahun, menghasilkan 50 ton emas, 210 ton perak, serta berbagai logam berharga lainnya. Sebagian besar hasil produksi emas akan diserap oleh PT ANTAM, yang telah menandatangani perjanjian pembelian sebesar 30 ton emas per tahun, memperkuat hilirisasi dan industrialisasi emas di dalam negeri.
Sementara itu, Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa peresmian ini adalah tonggak penting dalam strategi hilirisasi mineral Indonesia. Menurutnya, Indonesia harus mengakhiri ketergantungan pada ekspor bahan mentah dan mulai menghasilkan produk bernilai tambah.
"Kita tidak boleh lagi hanya mengekspor bahan baku. Ke depan, kita harus mengolah sumber daya kita sendiri dan menghasilkan produk yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi," tegas Prabowo.
Prabowo juga melihat pentingnya pengelolaan sumber daya alam yang baik. Dengan cadangan emas terbesar keenam di dunia, Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi pemimpin dalam industri emas global. Namun, tantangan seperti pertambangan ilegal dan penyelundupan emas masih menjadi ancaman yang harus segera ditangani.
"Pemerintah akan terus memberantas penyelundupan emas yang merugikan negara. Kita harus memastikan bahwa sumber daya alam kita benar-benar memberi manfaat bagi bangsa ini," tambahnya.
Pada acara yang sama, Presiden Direktur PT Freeport Indonesia, Tony Wenas mengungkapkan, jika Smelter ini tidak hanya meningkatkan nilai tambah emas Indonesia, tetapi juga menciptakan efek berantai dalam industri logam mulia dan manufaktur. Produksi emas yang lebih besar akan meningkatkan industri perhiasan, elektronik, dan sektor keuangan domestik. Selain itu, pemanfaatan logam samping seperti platinum, paladium, dan bismut akan mendukung berbagai industri strategis.
"Hadirnya fasilitas ini, Indonesia semakin memperkuat kemandiriannya dalam industri emas dan logam mulia. Smelter ini bukan hanya menjadi simbol keberhasilan negosiasi pemerintah dengan Freeport, tetapi juga menjadi bukti nyata bahwa hilirisasi mineral dapat memberikan dampak ekonomi yang signifikan bagi negara," tandas Tony.
Editor : Cak Fir