Vice President Corporate Communications PT Freeport Indonesia, Riza Pratama mengatakan bahwa pendanaan untuk pembangunan proyek smelter akan didanai secara mandiri oleh perusahaan. Apalagi PTFI baru saja menerbitkan surat utang berdenominasi dolar Amerika Serikat (AS) senilai total 3 miliar dollar AS atau setara Rp 43,05 triliun.
Menurut Riza dengan pelaksanaan proyek yang telah mencapai 21 persen ini, setidaknya biaya yang sudah dikeluarkan perusahaan mencapai 688 juta dollar AS. Biaya tersebut mulai untuk pemadatan tanah hingga pemasangan tiang pancang.
Tahun ini targetnya pelaksanaan proyek 50 persen. Kita sudah mencanangkan 50 persen tahun ini. Semoga gak ada kendala covid semoga gak ada lagi," katanya.
Sebelumnya, Presiden Direktur PT Freeport Indonesia Tony Wenas menilai setidaknya butuh lima tahun lagi untuk proyek smelter ini selesai, atau paling cepat bisa beroperasi sepenuhnya ada 2024 mendatang.
Proyek ini sendiri nantinya akan menjadi smelter single line terbesar di dunia. Sehingga, waktu yang dibutuhkan untuk proses pembangunan dapat memakan waktu jika dibandingkan untuk membangun skala yang lebih kecil.
"Tentunya tidak dalam hitungan 2-3 tahun ke depan, karena tergantung skalanya bagaimana membangun smelter tersebut. Contohnya smelter PTFI akan dibangun dalam lima tahun dan smelter tembaga ini adalah smelter tembaga single line terbesar di dunia," tandasnya. (fir/han) Editor : Hany Akasah