Mengenal Gita Fernanda, Sinden Muda Gresik yang Menembus Gempuran Zaman

RADAR GRESIK -;Di tengah kencangnya arus modernisasi, seorang gadis muda asal Kecamatan Wringinanom, Gresik, memilih jalan hidup yang tak biasa bagi remaja seusianya.
Reggita Insandini Fernanda, atau yang akrab menyapa panggung dengan nama Gita Fernanda, adalah sosok seniwati muda berusia 19 tahun yang mendedikasikan hidupnya untuk merawat nafas kesenian tradisional Jawa, mulai dari panggung dangdut hingga sakralnya pelataran wayang kulit.
Darah seni yang mengalir dalam tubuh alumni SMA Negeri 1 Wringinanom ini bukanlah hasil karbitan. Gita mengaku memiliki bakat alami yang diwarisi dari para leluhurnya.
Tanpa guru vokal formal, ia belajar secara otodidak melalui kaset DVD dan kanal YouTube sejak dini. Perjalanan profesionalnya dimulai sejak kelas 2 SD, saat ia dengan berani mengikuti sang kakek untuk "nyinden" di pertunjukan wayang kulit dan jaranan.
"Saya mulai fokus di dunia seni pada kelas 2 SD. Waktu itu saya ikut kakek saya di pertunjukan wayang kulit sebagai sinden. Saya juga ikut kakek saya nyinden di acara Kuda Lumping atau Jaranan. Namun, setelah sekian lama saya sempat berhenti karena sering mengantuk di kelas," kenang Gita saat menceritakan awal mula perjuangannya.
Titik balik kariernya terjadi saat ia duduk di bangku kelas 6 SD. Bermula dari menyumbangkan suara di hajatan tetangga, Gita mulai jatuh cinta pada genre dangdut. Memasuki jenjang SMP, ia melakukan gebrakan dengan mulai bernyanyi dari panggung kecil ke panggung besar.
Tak puas hanya di satu genre, saat kelas 2 SMP, ia kembali merambah dunia karawitan, campursari, hingga ludruk, meski harus pandai membagi waktu agar pendidikan formalnya tidak terbengkalai.
Prestasi Gita pun tidak main-main. Ia tercatat pernah meraih penghargaan dalam Lomba Kidungan Jula Juli di Museum Mpu Tantular (2022), Lomba Musik Kreasi Fellasia di Universitas Brawijaya (2023), hingga Lomba Karawitan Olimpiade Pariwisata Nasional ke-12 di Universitas Gadjah Mada (2023).
Baginya, menjadi seniwati adalah tentang mengasah kesabaran dan tidak mudah menyerah.
"Motivasi saya, kalau menjadi seorang seniwati harus meningkatkan kesabaran, jangan mudah menyerah, fokuslah pada diri kamu dan tujuan kamu. Karena semua akan mendapatkan hasil jika kamu sudah berusaha dari usaha kamu sendiri. Ada pepatah 'Sopo sing nandur bakal ngunduh', artinya siapapun yang menanam pasti akan menuai hasilnya. Jadi jangan putus asa untuk melakukan sesuatu, kejarlah sampai target dan impian kamu terpenuhi," tuturnya dengan penuh semangat.



