RADAR GRESIK – Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Kabupaten Gresik menggelar sosialisasi Peraturan Pertandingan Pencak Silat Nasional 2025 sekaligus Technical Meeting Grisse Pencak Silat Championship 11.
Kegiatan ini dihadiri oleh sebanyak 114 pelatih dan wasit dari 16 perguruan pencak silat se-Kabupaten Gresik.
Sosialisasi ini menjadi langkah proaktif IPSI Gresik untuk memastikan seluruh perguruan siap menerapkan regulasi terbaru yang secara tegas memprioritaskan keselamatan atlet di gelanggang.
Sekretaris IPSI Gresik, Aris Afandi, menyampaikan bahwa perubahan aturan pertandingan tahun 2025 ini lahir dari komitmen untuk melindungi atlet.
“Aturan baru ini melihat pencak silat sebagai olahraga, bukan semata bela diri. Pencak silat murni adalah kekayaan budaya Indonesia. Regulasi 2025 ini sangat safety karena memprioritaskan keselamatan atlet,” katanya.
Aris menjelaskan, aturan sebelumnya masih mengacu pada beberapa teknik yang kerap ditemukan di beladiri lain, seperti teknik tarikan dan jatuhan yang berpotensi membahayakan atlet, mengingat pernah adanya tragedi atlet meninggal di gelanggang.
“Salah satu poin penting di aturan terbaru adalah larangan teknik takedown, seperti angkatan dan tarikan yang memungkinkan atlet jatuh dengan kepala lebih dulu,” jelasnya.
Dalam peraturan terbaru, seluruh gerakan wajib mengikuti kaidah pencak silat yang lebih jelas dan murni.
Setiap teknik diarahkan untuk memperlihatkan identitas seni bela diri asli Indonesia yang tidak membahayakan peserta.
“Di aturan baru setiap gerakan memiliki kaidah yang harus dijalankan. Ini mengembalikan karakter pencak silat sebagai budaya bangsa,” imbuhnya.
Meskipun masih menunggu pengesahan resmi, aturan 2025 telah diuji coba dalam ajang nasional, seperti PON. Melalui sosialisasi ini, IPSI Gresik memastikan pelatih dan perguruan dapat memahami lebih awal agar siap menerapkannya.
“Kami sosialisasi sambil menunggu pengesahan final. Ketika aturan ini ditetapkan, Gresik sudah siap. Harapannya aturan baru ini melahirkan pesilat-pesilat baru yang sebelumnya takut bertanding, sekarang menjadi berani,” pungkas Aris Afandi. (jar/han)
Editor : Hany Akasah