RADAR GRESIK – Hari ini, Dr. Lia Istifhama, S.Sos., S.H.I., S.Sos.I., M.E.I yang akrab disapa Ning Lia meraih penghargaan Radar Surabaya Award (RSA) 2025 yang digelar Radar Surabaya di Hotel Vasa Surabaya, Kamis, 31 Juli 2025. Ning Lia menjadi sorotan nasional usai Pemilu 2024. Ia mencatat sejarah sebagai senator perempuan non-petahana dengan suara tertinggi se-Indonesia, meraih 2.739.123 suara. Perolehan ini hanya berada di bawah dua nama fenomenal Komeng (Jawa Barat) dan Gus Yasin (Jawa Tengah).
Namun, yang membuat Ning Lia semakin istimewa bukan hanya elektabilitasnya, melainkan pendekatannya yang membumi. Ia dikenal hobi turun ke bawah (turba), atau dalam istilah Jawa, mudun ngisor, untuk mendengar langsung aspirasi masyarakat.
Meski berasal dari keluarga terpandang keponakan mantan Gubernur Jawa Timur dan Ketua Umum PP Muslimat NU, Khofifah Indar Parawansa Ning Lia tetap memilih jalur yang sederhana. Ia adalah putri bungsu tokoh NU KH Masykur Hasyim, mantan pimpinan DPRD Jatim.
"Bagi saya, politik itu soal amanah dan ketulusan. Kita tidak boleh jauh dari masyarakat. Jangan hanya di atas podium, tapi juga mendengarkan langsung di bawah," ujar Ning Lia menegaskan filosofi politiknya.
Ning Lia dikenal gigih menuntut ilmu. Ia tercatat menempuh kuliah S1 secara bersamaan di Universitas Airlangga (Unair), IAIN (UIN) Sunan Ampel Surabaya, dan STID Taruna Surabaya.
Untuk jenjang magister dan doktoral, ia fokus pada Ekonomi Islam di UINSA Surabaya. "Pernah ikut kuliah lintas prodi, bahkan beda angkatan. Jadi kadang yang paling tua sendiri," kenangnya sambil tertawa. Kegemarannya membaca membuatnya dijuluki kutu buku, karena rutin mengunjungi perpustakaan.
Sebelum menjadi senator, Ning Lia punya pengalaman kerja beragam. Ia pernah menjadi guru, bekerja paruh waktu sebagai resepsionis dan event organizer saat kuliah, hingga menjadi sales kartu kredit setelah lulus.
Semangat kerjanya pun tak surut saat hamil. Pada 2011, ia menjabat Sekretaris Yayasan HM Cheng Hoo Indonesia (YHMCHI) meski sedang mengandung. Hal ini menunjukkan etos kerjanya yang dikenal workaholic dan disiplin.
Tak hanya politisi, Ning Lia adalah aktivis sosial, advokat, akademisi, penulis, bahkan musisi. Karakter Ning Lia yang dikenal jujur, pemaaf, dan peduli wong cilik menegaskan citra seorang senator yang tak sekadar berburu kursi kekuasaan, melainkan benar-benar ingin melayani rakyat.
Salah satu momen kampanyenya sempat viral di TikTok. Di Madiun, seorang ODGJ (Orang Dalam Gangguan Jiwa) terekam mencium spanduk wajahnya. Alih-alih marah, Ning Lia menanggapinya dengan bijak.
"Orang ODGJ itu polos, tidak ada niat jelek. Anggap saja tanda tulus," kata Ning Lia. (han)
Editor : Hany Akasah