RADAR GRESIK - Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Lia Istifhama, memberikan apresiasi tinggi terhadap berbagai program unggulan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS), yang dinilai mampu menjangkau semua generasi dan lapisan masyarakat. Hal ini disampaikannya dalam kegiatan Silaturahmi Kaukus Nahdliyin DPD RI bersama BAZNAS RI di Jakarta.
Mengusung tema "Zakat sebagai Pilar Keadilan Sosial dan Penguatan Ekonomi Umat", kegiatan tersebut dihadiri Ketua BAZNAS RI Prof. Dr. KH. Noor Achmad, MA, serta Wakil Ketua H. Mokhamad Mahdum. Berbagai program produktif BAZNAS dipaparkan sebagai bentuk konkret pemberdayaan masyarakat, khususnya kelompok rentan dan mustahik.
Lia Istifhama mengapresiasi keberhasilan BAZNAS dalam menghadirkan solusi nyata bagi peningkatan kesejahteraan umat. Mulai dari Z Mart, Z Chicken, Rumah Sehat Baznas, Beasiswa Baznas, Rumah Layak Huni, Santripreneur, hingga program strategis seperti Desa Zakat, Balai Ternak, pengentasan kemiskinan ekstrem dan penanganan stunting.
"Program BAZNAS ini sangat adaptif dengan kebutuhan zaman. Bahkan menyentuh sektor wisata melalui penguatan desa wisata, termasuk penginapan berbasis ekonomi umat. Ini bentuk inovasi yang luar biasa," ungkap Ning Lia yang akrab disapa Lia Istifhama.
Program microfinance juga menjadi perhatian. Ia menilai keberadaan sistem keuangan mikro berbasis zakat mampu menggerakkan ekonomi akar rumput, terutama di kalangan pelaku UMKM.
Dalam forum tersebut, turut mengemuka harapan dari perwakilan Lazisnu Jawa Timur mengenai pengelolaan zakat karyawan. Usulan yang disampaikan adalah penerapan sistem pemotongan zakat secara otomatis dari gaji bulanan, yang terintegrasi langsung dengan sistem pemerintah.
"Zakat seharusnya dapat dijadikan sebagai pengurang penghasilan kena pajak. Ini akan mendorong lebih banyak karyawan menunaikan zakat tanpa merasa terbebani pajak ganda," ujar salah satu peserta forum.
Namun, tantangan implementasi masih besar, terutama terkait edukasi dan integrasi sistem dengan regulasi pajak nasional. Forum ini juga menyinggung soal pengelolaan dan distribusi daging kurban dari jamaah haji, terutama yang disembelih di dalam negeri. Salah satu pertanyaan yakni distribusi dilakukan berdasarkan domisili jamaah atau diprioritaskan ke daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). “Evaluasi ke depan kami berharap dalam rangka pemerataan manfaat ibadah kurban, terutama untuk masyarakat yang sangat membutuhkan,” harapnya. (han)
Editor : Hany Akasah