RADAR GRESIK – Dinas Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak (KBPPPA) Kabupaten Gresik terus berkomitmen menciptakan lingkungan kerja yang aman dan inklusif bagi kaum hawa.
Salah satu langkah strategis yang kini tengah digencarkan adalah mendorong setiap perusahaan di wilayah Kabupaten Gresik untuk membentuk Rumah Perlindungan Pekerja Perempuan (RP3).
Melalui program ini, setiap perusahaan diimbau memiliki Surat Keputusan (SK) kebijakan internal, yang kemudian diikuti dengan penyiapan ruangan khusus lengkap dengan fasilitas penunjang.
Baca Juga: Dinas KBPPPA Gresik Dorong Forum Anak Benjeng Jadi Pelopor dan Pelapor
Kehadiran RP3 ini diproyeksikan mampu memberikan ruang aman bagi pekerja perempuan yang mengalami atau menjadi korban tindakan kekerasan, sekaligus berfungsi sebagai pos pelaporan utama di lingkungan kerja.
Kepala Dinas KBPPPA Kabupaten Gresik, dr. Titik Ernawati, menjelaskan bahwa jika ada persoalan atau kasus kekerasan yang nantinya tidak bisa diatasi secara internal di tingkat perusahaan, maka Dinas KBPPPA dipastikan akan langsung turun tangan untuk menindaklanjuti dan memberikan pendampingan hukum maupun psikologis.
Menurut dr. Titik, urgensi penyediaan ruang aman dan fasilitas pendukung seperti daycare (tempat penitipan anak) di perusahaan sangat tinggi. Realitas sosial saat ini menunjukkan bahwa sebagian besar perempuan memutuskan untuk bekerja bukan lagi sekadar pilihan, melainkan karena mematuhi imbauan serta tuntutan demi menopang ekonomi keluarga.
Baca Juga: Sasar Pelajar SMP, KBPPPA Gresik Gelar Lomba Film Pendek KIDTION 2026 Guna Cegah Kekerasan Anak
"Mengingat banyaknya pekerja perempuan di Gresik, fenomena saat ini menunjukkan mereka bekerja lebih banyak karena alasan imbauan, bukan lagi sekadar pilihan. Dampak dari kondisi ini, banyak anak yang akhirnya tidak bisa mendapatkan pengasuhan secara maksimal di rumah. Oleh karena itu, perusahaan harus hadir memberikan fasilitas agar perempuan bisa bekerja dengan lebih aman, nyaman, dan tenang," ujar dr. Titik Ernawati, Sabtu (27/6/2026).
Demi mematangkan implementasi kebijakan tersebut, Dinas KBPPPA Gresik dalam waktu dekat berencana melakukan studi banding ke kementerian terkait untuk mempelajari standardisasi pelayanan yang ideal.
Selain itu, koordinasi lanjutan juga akan diajukan ke tingkat Pemerintah Provinsi Jawa Timur guna menyelaraskan standarisasi pelayanan daycare yang ramah anak di kawasan industri.
Sebagai langkah awal yang terukur, Dinas KBPPPA saat ini tengah gencar melakukan pendataan berkala mengenai jumlah riil pekerja perempuan yang telah memiliki anak di seluruh sektor industri Gresik.
Dalam menyukseskan program perlindungan ini, Dinas KBPPPA tidak bergerak sendiri. Pemkab Gresik akan menjalin kerja sama strategis dengan program Corporate Social Responsibility (CSR) Sigap untuk turun langsung melakukan sosialisasi dan edukasi ke perusahaan-perusahaan.
"Dorongan ini utamanya diprioritaskan bagi korporasi atau perusahaan skala besar yang memiliki kemampuan finansial mapan serta mempekerjakan banyak tenaga kerja perempuan. Fasilitas RP3 dan ruang ramah perempuan serta day care ini dibutuhkan oleh karyawan secara gratis tanpa memotong hak-hak karyawan," terangnya.
Baca Juga: DPRD Gresik Dukung E-Voting Pilkades 2026, Pemkab Pastikan Keamanan dan Transparansi
Pihaknya tidak menampik bahwa potensi maupun angka tindak kekerasan terhadap perempuan di lingkungan kerja itu ada. Hanya saja, selama ini fenomena tersebut kerap menyerupai gunung es karena banyak korban yang enggan atau takut melapor.
Hingga saat ini, laporan dan informasi mengenai kesiapan fasilitas perlindungan pekerja perempuan baru masuk dari sektor perusahaan PT. Petrokimia Gresik dengan day care yang dimilikinya. Namun, progres positif juga mulai ditunjukkan oleh kawasan industri terpadu JIIPE (Java Integrated Industrial and Ports Estate) yang kini aktif mempromosikan serta mensosialisasikan kebijakan RP3 ini kepada seluruh tenant perusahaan di dalam wilayahnya.
Melalui edukasi dan pengawasan yang konsisten, Dinas KBPPPA Gresik berharap seluruh sektor industri di Gresik dapat bertransformasi menjadi kawasan yang ramah gender, sekaligus mendukung produktivitas kerja yang sehat demi menyongsong generasi masa depan yang berkualitas. (rir/han)
Editor : Hany Akasah