RADAR GRESIK – Pemerintah melalui Kementerian Agama Republik Indonesia resmi menetapkan 1 Syawal 1447 Hijriah atau Hari Raya Idulfitri jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026. Keputusan tersebut diambil dalam sidang isbat yang dipimpin Menteri Agama, Nasaruddin Umar, Kamis (18/3/2026).
Menteri Agama Nasaruddin Umar menyampaikan bahwa penetapan ini didasarkan pada hasil hisab (perhitungan astronomi) dan rukyatul hilal (pemantauan langsung) di berbagai wilayah Indonesia.
“Berdasarkan hasil sidang isbat, disepakati bahwa 1 Syawal 1447 Hijriah jatuh pada hari Sabtu,” ujarnya dalam konferensi pers.
Sidang isbat tersebut turut dihadiri oleh perwakilan Komisi VIII DPR RI, Majelis Ulama Indonesia (MUI), organisasi masyarakat Islam, ahli falak, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), serta akademisi dari berbagai perguruan tinggi seperti Institut Teknologi Bandung (ITB).
Sebelum sidang isbat, Kementerian Agama menggelar seminar posisi hilal yang membahas data astronomi terkait awal bulan Qamariah. Dalam pemaparan tersebut dijelaskan bahwa ketinggian hilal di Indonesia berada pada kisaran 3 hingga lebih dari 6 derajat.
Baca Juga: Hilal Tak Terlihat di Gresik, LFNU Laporkan Hasil Rukyatul Hilal ke Kemenag
Namun demikian, hasil rukyatul hilal yang dilakukan di 117 titik pemantauan di seluruh Indonesia tidak berhasil melihat hilal. Laporan dari berbagai daerah, mulai dari Aceh hingga Papua, menyatakan bahwa hilal tidak terlihat karena berbagai faktor, termasuk kondisi cuaca.
Dengan tidak terlihatnya hilal, maka bulan Ramadan 1447 Hijriah disempurnakan menjadi 30 hari (istikmal), sehingga Idulfitri ditetapkan jatuh pada hari Sabtu.
Kementerian Agama menegaskan bahwa metode penentuan awal bulan Hijriah di Indonesia mengacu pada kombinasi hisab dan rukyat, serta mempertimbangkan kriteria visibilitas hilal yang disepakati secara regional oleh negara-negara seperti Brunei Darussalam, Malaysia, dan Singapura. (han)
Editor : Hany Akasah