Ekonomi & Bisnis Features Gaya Hidup Hukum dan Kriminal Jatim Kebo Giras Kesehatan Kota Gresik Moncer Seru Olahraga Pendidikan Peristiwa Person of The Year Pojok Perkoro

Refleksi Peringatan Maulid 1447 H, Senator Lia Istifhama: Perjuangan Rasulullah Jadi Cermin Bangsa Indonesia

Hany Akasah • Jumat, 5 September 2025 | 18:55 WIB
Anggota DPD RI Lia Istifhama
Anggota DPD RI Lia Istifhama

RADAR GRESIK - Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1447 Hijriah senantiasa menjadi ruang refleksi untuk bangsa. Tidak hanya sebagai perayaan kelahiran Rasulullah, tetapi juga sebagai momentum meneladani perjuangan beliau dalam membangun peradaban dengan landasan akhlak, kesantunan, dan visi keberlangsungan umat.

Hal itu disampaikan Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Lia Istifhama, atau akrab disapa Ning Lia. Menurutnya, setiap peristiwa besar dalam sejarah Nabi menyimpan makna yang relevan dengan perjalanan bangsa Indonesia.

“Ketika Nabi menghadapi penindasan Quraisy, beliau tidak pernah mengedepankan kekerasan sebagai jalan utama. Bahkan Perang Badar, Uhud, hingga Khandaq, semuanya merupakan reaksi defensif, untuk menjaga marwah umat Islam yang diganggu. Tawanan perang pun diperlakukan dengan penuh perikemanusiaan. Inilah teladan besar bahwa perjuangan kebenaran harus diiringi dengan akhlak mulia, bukan dengan kebrutalan,” ujar Ning Lia.

Ning Lia menambahkan, spirit perjuangan Nabi itu sejatinya juga diwarisi oleh para pendiri bangsa. KH. Hasyim Asy’ari, Bung Karno, hingga Jenderal Sudirman, menjadikan nilai moral dan spiritual sebagai energi perjuangan.


“Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 adalah contoh nyata. Ulama dan santri tidak sekadar mengangkat senjata, tetapi juga mengangkat moral bangsa untuk tidak tunduk pada penjajahan. Ini sangat sejalan dengan misi Rasulullah yakni membebaskan manusia dari belenggu penindasan, tanpa kehilangan martabat sebagai manusia beradab,” jelasnya.

Putri KH Maskur Hasyim itu mengingatkan proklamasi kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945 tidak lahir dari kekerasan membabi buta, melainkan dari kesadaran kolektif yang dipupuk oleh nilai perjuangan panjang, dialog, dan semangat gotong royong.

“Para founding fathers kita sangat menyadari apa yang Nabi Muhamamd lakukan membangun umat dengan fondasi persaudaraan (ukhuwah) dan musyawarah. Bahkan Piagam Jakarta dan Pancasila pun lahir dari musyawarah, bukan paksaan. Itu adalah jejak peradaban Nabi Muhammad yang dihidupkan dalam konteks kebangsaan kita,” imbuh senator yang akrab disapa Senator Cantik tersebut.

Refleksi itu semakin relevan ketika Indonesia dihadapkan pada tragedi kerusuhan. Beberapa gedung bersejarah, termasuk Gedung Negara Grahadi di Surabaya, hangus terbakar akibat provokasi oknum.

“Ini bukan sekadar kehilangan bangunan, melainkan kehilangan memori kolektif bangsa. Sama halnya dengan ketika kaum Quraisy mencoba merusak Ka’bah, itu bukan sekadar menghancurkan batu, tapi merusak simbol persatuan umat,” ucap Ning Lia.

Yang lebih memprihatinkan, menurutnya, adalah keterlibatan anak-anak di bawah umur dalam aksi-aksi destruktif. “Betapa mirisnya jika anak-anak yang mestinya tumbuh menjadi penerus bangsa justru dijadikan pion kerusuhan. Padahal Nabi bersabda al-syabāb ‘imād al-ummah (pemuda adalah tiang umat). Kalau tiangnya dirusak sejak dini, bagaimana bangunan bangsa ini akan kokoh?” tegasnya.

Ning Lia menegaskan, memperkuat pendidikan adalah jalan utama agar bangsa tidak kehilangan arah. Guru sebagai “orang tua kedua” harus diberdayakan, bukan dibebani.

“Beban administrasi yang berlebihan membuat guru kehilangan fungsi sejatinya, yaitu mendidik dan membentuk karakter. Kalau kita ingin anak-anak kita kebal dari provokasi, maka biarkan guru fokus membangun hubungan interpersonal dengan murid. Pendidikan Nabi adalah contoh: beliau tidak sekadar menyampaikan wahyu, tetapi membentuk karakter sahabat dengan kasih sayang dan keteladanan,” ujarnya.

Ia juga menyoroti efek jangka panjang pendidikan daring saat pandemi, yang membuat anak-anak kehilangan interaksi langsung. “Efeknya jelas: anak-anak lebih rentan pada disinformasi dan ujaran kebencian. Maka Maulid Nabi ini harus menjadi momentum untuk memperkuat pendidikan humanis yang membangun akal, hati, dan moral secara bersamaan,” tambahnya.

Di akhir, Ning Lia menekankan peringatan Maulid Nabi adalah panggilan untuk membangun masa depan bangsa dengan nilai luhur.
“Jika Nabi Muhammad mampu mengubah masyarakat jahiliyah menjadi umat terbaik hanya dalam 23 tahun, bangsa Indonesia pun bisa keluar dari krisis moral dan sosial. Syaratnya adalah menempatkan ilmu, akhlak, dan kasih sayang sebagai senjata utama. Inilah senjata yang lebih kuat daripada kekerasan apa pun,” pungkasnya. (*)

Editor : Hany Akasah
#cerminan #peringatan maulid nabi #senator #Rasullulah SAW #refleksi #Lia Istifhama #Ning Lia