RADAR GRESIK - Di balik sorotan lampu panggung dan gemerlap pertunjukan sirkus yang memukau ribuan penonton, tersimpan kisah kelam yang memilukan.
Sejumlah mantan pemain sirkus yang pernah bekerja di bawah naungan Oriental Circus Indonesia (OCI), yang kerap tampil di Taman Safari Indonesia, mengungkap perlakuan tidak manusiawi yang mereka alami selama bertahun-tahun bekerja di dunia hiburan tersebut.
Kesaksian mengejutkan itu disampaikan dalam sebuah podcast Madilog di channel Forum keadilan Tv dan langsung viral di media sosial.
Dalam tayangan tersebut, beberapa perempuan dengan wajah sedih dan mata berkaca-kaca, menceritakan penderitaan mereka sebagai pekerja sirkus.
Salah satu korban, perempuan mantan pemain sirkus, mengaku bahwa dirinya pernah disetrum oleh pihak pengelola. Tak hanya itu, meski tengah mengandung, ia tetap dipaksa naik panggung untuk tampil di hadapan penonton.
“Saya dipaksa tampil meskipun sedang hamil besar. Jika menolak, saya disetrum. Kami juga sering dirantai agar tidak kabur,” ujar salah satu mantan pemain dengan suara terbata.
Selain penyiksaan fisik, korban juga mengungkapkan beragam bentuk eksploitasi lain yang lebih mengerikan. Beberapa di antaranya dipaksa berada dalam kondisi yang sangat berbahaya, seperti dikurung dalam kandang macan selama berhari-hari sebagai hukuman.
Tak hanya itu, ada pula yang dipaksa menelan kotoran gajah hanya karena berani meminta makan kepada bos mereka. Praktik-praktik ini menunjukkan betapa kejamnya perlakuan yang diterima para pemain sirkus yang seharusnya mendapat perlindungan dan perhatian, bukan penderitaan.
Bukan hanya tekanan fisik, para korban juga mengaku mengalami tekanan mental dan psikologis selama bekerja.
Mereka harus berlatih berjam-jam setiap hari dengan makanan dan istirahat yang terbatas. Bahkan, beberapa di antaranya tidak memiliki kontrak kerja yang jelas dan tidak menerima upah layak.
Laporan ini menimbulkan gelombang keprihatinan di masyarakat. Banyak netizen menyuarakan kemarahan dan menuntut agar praktik eksploitasi terhadap pemain sirkus ini segera dihentikan.
Baca Juga: Maling HP di Acara Hajatan Gempolkurung Gresik Diamuk Warga, Pemuda Asal Surabaya Kritis
“Ini bukan hiburan, ini penyiksaan yang dibungkus dalam kemasan pertunjukan!” tulis salah satu pengguna media sosial.
Hingga saat ini, pihak Taman Safari Indonesia belum memberikan keterangan resmi atas tuduhan tersebut. Namun, organisasi perlindungan pekerja dan LSM hak asasi manusia telah mendesak aparat berwenang untuk segera melakukan investigasi mendalam dan memberikan perlindungan kepada para korban.
Kasus ini membuka mata publik bahwa eksploitasi tidak hanya terjadi pada hewan sirkus, tetapi juga manusia yang terlibat di dalamnya. Masyarakat kini mulai mempertanyakan kembali etika pertunjukan semacam ini dan menyerukan reformasi total terhadap industri hiburan sirkus di Indonesia. (mil/lid/han)
Editor : Hany Akasah