RADAR GRESIK- Kasus pencabulan yang dilakukan oknum kiai NS, seorang pangasuh Ponpes Tahfidz Hidayatul Qur'an As Syafi'i di Dusun Kalimalang, Desa Daun, Kecamatan Sangkapura, Pulau Bawean membawa luka para santriwati. Santriwati mengalami sakit stroke ringan hingga trauma.
Seperti dialami oleh RA santriwati yang baru saja keluar pondok selama tiga bulan ini, juga merasakan hal yang sama atas tindakan tidak senonoh NS. Bahkan, dirinya pun mulai buka suara atas kasus ini, setelah NS sudah masuk tahanan Mapolres Gresik.
Baca Juga: Bangun Proyek KEK JIIPE, Warga Gresik Terdampak Pelebaran Jalan Raya Manyar Terima Ganti Rugi Rp 4,8 Miliar
“NS ini sering menyuruh pijat santriwati. Biasanya siang atau malam hari. Di luar jam pelajaran. Biasanya di ruang kamar bu Nyai lantai 2. Kadang juga di rumah lantai dasar. Karena rumah Kiai hanya disekat musala dengan asrama putri,” ujarnya, Jumat (29/12).
Ada sekitar 38 santriwati yang mondok disana. Dari para santriwati yang memiliki wajah dan paras yang cantik, selalu dipanggil kiai NS. “Kalau santri yang wajahnya biasa saja, biasanya ditugaskan menjadi petugas sampah di pondok pesantren,” jelasnya.
Saat melakukan pemanggilan ini, lanjut dia, ada sekitar tiga sampai lima santri, kadang juga satu santriwati yang diminta pijat. Hingga ada paksaan dari NS untuk melakukan pencabulan dan pelecehan seksual. Seperti mencium, dan menyuruh memijat alat vitalnya.
“Setelah satu bulan mondok disana, sudah dapat giliran pijat kiai. Dengan dalih kalau tidak mau, kamu tidak taat sama Kiainya. Kamu tidak akan selamat dunia akhirat,” ucap sambil menahan isak tangis.
Baca Juga: Gus Yani Berantas Kemiskinan di Gresik dengan PKH Inisiatif
Santri yang sudah mondok sekitar dua tahun lebih itu, mengaku trauma dan sangat takut. Tidak kuat atas tindakan NS, para santri terpaksa keluar dan berhenti mondok. Ia pun masih terbayang dengan kalimat Kiainya NS. Dari trauma tersebut, santri yang masih berusia 16 tahun itu mengalami sakit stroke ringan.
“Dari trauma ini saudara saya sakit, dan dibawa ke rumah sakit Bawean. Dari keterangan dokter akibat kepikiran dan depresi berat hingga mengalami stroke ringan,” ungkap NA salah satu keluarga RA.
Baca Juga: Fandi Akhmad Yani, Sosok Bupati Visioner yang Membawa Gresik Baru
Pihak keluarga masih melanjutkan sekolah formal pindah ke sekolah dekat rumah. Namun, ketika dimintai untuk aktivitas mondok kembali agar melanjutkan hafalan Qur'an, RA tidak mau dan selalu menolak selagi berada di Bawean. Sampai sekarang, belum ada petugas PPA datang ke rumahnya.
“Beberapa kali kami dari keluarga menawari mondok, tidak mau selagi di Pulau Bawean. Bahkan keluarga ada yang sudah menjamin semua pembiayaannya. Tapi RA trauma berat,” jelasnya.
Ibu RA, SA, mengatakan, kondisi keluarga yang kurang mampu ini, belum bisa memberikan pengobatan kepada anaknya.
Dia menceritakan, anaknya sejak 17 hari keluar dari pondok, RA mengalami sakit kepala hingga menjalar sakit di bagian tangan dan kaki kirinya.
“Kalau berdiri sangat sulit, RA masih teringat ucapan NS. Bahwa santri yang tidak nurut kiainya, akan kualat. Ucapan itu yang masih diingat korban,” ceritanya menirukan ucapan Kiai kepada santri yang keluar dari pondok. “Kami harap anak saya sehat seperti semula, dan bisa melanjutkan sekolah dan hafalan tahfidznya,” pungkasnya.(yud/han)
Editor : Hany Akasah