GRESIK- Kasus penganiayaan yang dialami BGS (16) siswa SMK Maarif NU Driyorejo terus bergulir. Kali ini pihak keluarga menyatakan menolak untuk berdamai dan meminta keadilan agar para pelaku pengeroyokan segera ditangkap dan dijatuhi hukuman yang setimpal.
Aris Pujianto, 47, ayah korban mengaku, usai kasus ini ramai di media pihaknya didatangi sejumlah keluarga terduga pelaku untuk meminta maaf. Dalam kesempatan tersebut, Aries mengaku keluarganya akan memberikan maaf dengan catatan kasus hukum terus dilanjutkan.
"Kami sudah menyerahkan kasus ini kepada pihak berwajib untuk ditangani sesuai hukum. Selebihnya mari kita ikuti semua proses yang bergulir," kata Aris, Sabtu (07/10).
Ditegaskan, berdasarkan pengakuan sang anak, BGS pelaku pengeroyokan berjumlah lebih dari tiga orang. Ada yang sudah tidak sekolah. Dalam peristiwa penganiayaan di sebuah sawah yang tidak jauh dari sekolah itu, kepala korban sempat dibenturkan ke paving jalan di lokasi kejadian penganiayaan.
"Yang dilakukan para pelaku ini murni tindak pidana. Mereka berniat membuat anak saya mengalami luka berat atau bahkan cacat," jelasnya.
Tidak cukup disitu, usai melakukan penganiayaan para pelaku bahkan mengeluarkan ancaman akan terus menganiaya korban.
"Anak saya masih ingat pesan pelaku yang mengancam dengan kata-kata, mene koen tak entek o mane" (besok kamu tak habisi lagi). Itu yang membuat hati saya sebagai orang tua sakit," imbuhnya.
Sementara itu hingga kini korban belum berani untuk masuk ke sekolah lagi. BGS mengaku masih trauma dan ketakutan karena teringat ancaman pelaku.
Bahkan BGS minta pindah domisili ke Surabaya.
Seperti diberitakan sebelumnya, seorang siswa kelas XII SMK Maarif NU Driyorejo berinisal BGS, 16, dihajar enam temannya saat pulang dari sekolah pada (06/09) lalu.
Kasus penganiayaan ini bermula saat BGS menyembunyikan sepatu siswi satu kelasnya bernama CLT, 16. Nah, karena tidak terima sepatunya disembunyikan, CLT melaporkan BGS kepada pacarnya.
Mendengar laporan tersebut, pacar CLT yang belum diketahui identitasnya itu lantas menunggu BGS diluar sekolah bersama puluhan temannya. (fir/han)
Editor : Hany Akasah