Menenun Asa Tanpa Diskriminasi, Kisah Innik Hikmatin dan Cikal Bakal Pendidikan Inklusif di Gresik

Hany Akasah • Dipublikasikan Sabtu, 18 Juli 2026 | 20:13 WIB
PENUH PERJUANGAN : Dari sebuah ruang kelas kecil di Desa Mriyunan, Sidayu, perjuangan Innik Hikmatin kini telah menjelma menjadi rumah perlindungan besar yang memanusiakan manusia di seluruh penjuru Gresik. (IST/ RADAR GRESIK)
PENUH PERJUANGAN : Dari sebuah ruang kelas kecil di Desa Mriyunan, Sidayu, perjuangan Innik Hikmatin kini telah menjelma menjadi rumah perlindungan besar yang memanusiakan manusia di seluruh penjuru Gresik. (IST/ RADAR GRESIK)

 

RADAR GRESIK - Dunia pendidikan di Kabupaten Gresik, Jawa Timur, memiliki cerita indah tentang ketulusan yang mengubah keterbatasan menjadi harapan. Di jantung perubahan itu, berdiri tegak sosok Innik Hikmatin, S.Pd., M.Pd.I. Perempuan asal Sidayu ini telah mewakafkan sebagian besar perjalanan hidupnya demi sebuah prinsip mulia: Education for All yaitu pendidikan untuk semua anak tanpa diskriminasi.

Langkah perjuangannya bermula dari sebuah sekolah kecil yang menjadi saksi bisu lahirnya sejarah pendidikan inklusif di Kota Pudak yaitu SD Negeri Mriyunan Kecamatan Sidayu.

Kilas balik pada tahun ajaran Agustus 2003/2004, SD Mriyunan bukanlah sekolah yang populer. Saat Innik pertama kali menapakkan kakinya di sana, kondisi sekolah cukup memprihatinkan dengan jumlah murid yang sangat minim, yakni hanya 58 siswa untuk seluruh kelas.

Namun, lewat ketekunan dan tangan dingin Innik, sekolah ini perlahan mulai memikat hati masyarakat. Perlahan tapi pasti, jumlah siswa merangkak naik dengan tambahan 23 siswa baru. Menariknya, di antara gelombang siswa baru tersebut, terdapat 2 anak Berkebutuhan Khusus (ABK).

Baca Juga: Senator Lia Istifhama Hadiri Seminar Anak Gifted di Gresik,Tegaskan Hak Konstitusi dan Landasan Yuridis Pendidikan Inklusif

Bukannya menolak, Innik justru membuka pintu lebar-lebar. Baginya, setiap anak bagaimanapun kondisinya memiliki hak yang sama untuk mengecap indahnya dunia pendidikan.

"Pendidikan bukan tentang menyaring siapa yang pintar dan menyingkirkan yang lambat. Education for all berarti melayani setiap anak tanpa diskriminasi. Ketika sekolah membuka pintu bagi anak-anak berkebutuhan khusus, di situlah kemanusiaan kita sedang diuji sekaligus ditingkatkan." tutur Innik Hikmatin.

Tantangan mengajar anak berkebutuhan khusus tentu tidak mudah. Di bawah bimbingan dan kesabaran Innik, tercatat ada sebelas anak slow learner (lambat belajar) yang mendapatkan perhatian khusus. Lewat pendekatan yang humanis dan metode yang adaptif, sebelas anak yang awalnya tertinggal ini perlahan mulai menunjukkan kemajuan pesat. Mereka kembali bersinar dan membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah akhir dari segalanya.

Perjuangan Innik tidak berhenti di dalam ruang kelas saja. Ia sadar bahwa agar gerakan inklusi ini bisa berdampak luas, dibutuhkan payung hukum yang kuat dari pemerintah.

Baca Juga: Momen Khidmat Milad ke-109 'Aisyiyah Gresik, Lantunan Ayat Suci dan Ngaji Isyarat yang Menyentuh Hati

Momen krusial terjadi pada tahun 2009. Seiring terbitnya Permendikbud No. 70 Tahun 2009 tentang Pendidikan Inklusif, Innik bergerak cepat mengajukan permohonan resmi kepada pemerintah daerah.

Perjuangan tersebut membuahkan hasil manis. Pemerintah Kabupaten Gresik akhirnya menerbitkan Surat Keputusan (SK) Bupati tentang Perintisan Sekolah Inklusi. SK inilah yang menjadi batu pijakan resmi, mengubah gerakan akar rumput yang diinisiasi Innik menjadi program daerah yang mendasari lahirnya sekolah-sekolah inklusi di seluruh Kabupaten Gresik.

"Lahirnya SK Bupati tahun 2009 itu adalah gerbang pembuka. Permendikbud Nomor 70 Tahun 2009 menjadi amunisi kami untuk meyakinkan pembuat kebijakan bahwa anak-anak luar biasa ini butuh wadah legal. Menjadi pionir perintisan sekolah inklusi di Gresik adalah perjalanan air mata sekaligus kebahagiaan yang tidak ternilai," ujar Innik Hikmatin.

Langkah maju ini kemudian diperkuat pada tahun 2013 dengan terbitnya Surat Edaran Bupati No. 421/4457/437.53/2013 tentang Penyelenggaraan Pendidikan Inklusif di Semua Sekolah.

Konsistensi ini membawa Innik dipercaya mengemban tugas sebagai Kepala Resource Centre Dinas Pendidikan (Dispendik) Gresik yang saat ini bernama Unit Pelaksana Teknis Layanan Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus (UPT LP ABK) .

Di tangannya, lembaga ini bertransformasi menjadi pusat perhatian pemerintah, perusahaan, hingga masyarakat. Berbagai inovasi pembelajaran dilahirkan, salah satunya adalah Amakasa yaitu metode belajar mengaji isyarat yang dirancang khusus untuk anak-anak berkebutuhan khusus.

Baca Juga: Dedikasi Menebar Manfaat, 'Aisyiyah Kabupaten Gresik Raih Penghargaan Bergengsi dari Radar Surabaya

Puncaknya, dedikasi Innik mendapat pengakuan luar biasa dari warga persyarikatan. Pada Musyawarah Daerah (Musyda) XI Muhammadiyah dan 'Aisyiyah Gresik di Komplek Perguruan Muhammadiyah Bungah (19 Februari 2023), Innik berhasil meraup suara terbanyak, yakni 96 suara, dan resmi terpilih sebagai Ketua Pimpinan Daerah 'Aisyiyah (PDA) Kabupaten Gresik periode 2022-2027.

"Saya merasa belum kober (sempat) dan belum pinter, tapi saya terpilih menjadi ketua Pimpinan Daerah 'Aisyiyah Gresik. Saya sampai menangis." cerita Innik Hikmatin saat mengenang dirinya terpilih menjadi ketua PDA Kabupaten Gresik.

Di bawah kepemimpinannya, nafas inklusi dan kepedulian sosial kian masif bergerak. Tepat pada 31 Maret 2024, PDA Kabupaten Gresik resmi meluncurkan Pusat Layanan Terpadu (PLT) 'Aisyiyah di Perumahan Bhakti Pertiwi (BP) Kulon, Gresik. Gedung megah senilai Rp1,350 miliar tersebut berdiri di atas tanah wakaf keluarga Tjipto Soemarsono dan Noor Azizah.

Di bawah komando Innik, PLT 'Aisyiyah hadir membawa berbagai layanan nyata yang menyentuh berbagai lapisan masyarakat. Pusat layanan ini mengintegrasikan Unit Layanan Disabilitas (ULD) yang dilengkapi dengan ruang bermain anak multiguna sebagai sarana terapi disabilitas, sebuah fasilitas yang terwujud berkat dukungan dari Laksamana Pertama TNI Dr. Mukhlis, S.T., M.M. dan dr. Roudhotul Ismaillya Noor Mukhlis, Sp.PK (K). 

Semangat inklusivitas ini juga diperluas melalui GALA Disabilitas 'Aisyiyah (Gerakan 'Aisyiyah Layani Disabilitas) yang kini telah tersebar di 18 Cabang atau Kecamatan di seluruh Kabupaten Gresik, serta didukung oleh GANTARI (Gerakan Cinta Anak Tanpa Diskriminasi), sebuah program PAUD Inklusif 'Aisyiyah yang telah dideklarasikan sejak 2 Mei 2019. 

Tidak hanya berfokus pada anak-anak dan penyandang disabilitas, PLT 'Aisyiyah juga menghadirkan BIKKSA SAHLIA (Biro Informasi Konsultasi Keluarga Sakinah 'Aisyiyah) dan Griya Lansia sebagai wadah penguatan keluarga serta lansia. Selain itu, program ini dilengkapi dengan Tim Kifayah 'Aisyiyah yang secara tulus menyediakan layanan pemulasaran jenazah gratis bagi masyarakat yang membutuhkan.

Baca Juga: Pejuang Pendidikan ABK, Innik Hikmatin Jadi Ketua Aisyiyah Gresik

Di sektor kesehatan, program 'Aisyiyah Majelis Kesehatan turut merealisasikan Gerakan 'Aisyiyah Sehat (GRASS). Beberapa program prioritasnya meliputi percepatan eliminasi stunting serta pemenuhan hak kesehatan reproduksi bagi remaja.

Langkah nyata ini menuai apresiasi setinggi-tingginya dari Pemerintah Kabupaten Gresik, yang berterima kasih atas kontribusi nyata Muhammadiyah dan 'Aisyiyah dalam membantu pemerintah memberikan pelayanan terbaik untuk masyarakat.

Innik Hikmatin telah membuktikan bahwa dengan cinta, ketegasan, dan keberanian melakukan regulasi, pendidikan dan ruang publik yang memanusiakan manusia bukanlah sebuah kemustahilan. Perjalanannya dari ruang kelas kecil di Mriyunan kini telah menjelma menjadi rumah perlindungan yang besar bagi seluruh anak dan masyarakat Gresik. (nov/han)

Editor : Hany Akasah
Sumber : Radar Gresik
'Aisyiyah Innik Hikmatin mriyunan Inklusi inklusif