RADAR GRESIK-Meski usia Prahmana Riza tak lagi muda. Namun, Perempuan 67 tahun tersebut sudah menunjukkan beragai aksi nyata lingkungan hidup terus dilakukannya setiap hari. Mulai dari mengurangi sampah non organik hingga pengolahan sampah yang dihasilkan.
“Kami kader lingkungan diajak ke Malang bersama rombongan. Dalam satu kamar 6-7 orang, saya pertama yang punya cucu, lainnya muda-muda. Saya menceritakan cucu saya pertama belajar bicara dan menyanyi lagu Cicak-Cicak di Dinding, tapi pengucapannya salah menjadi Dindinding, mereka ketawa, semua bilang dasar Nenek,” ujar Prahmana Riza, Rabu (27/12).
Baca Juga: Perempuan Harus Punya Pesona, Lia Istifhama Raih Person of The Year 2023 Radar Surabaya
Dari ungkapan tersebut, Prahmana Riza akhirnya dipanggil Nenek. “Bahkan saya dulu setiap kali pertemuan, ada sampah plastik gelas minuman, selalu saya bawa pulang. Minimal di dalam tas saya ada 3, kalau ada kardus ya, saya bawa. Pernah sesekali ada yang ngerasani, tapi nggakpapa,” ungkap Nenek Prahmana Riza.
Dia adalah pejuang lingkungan hidup Kota Surabaya. Kepeduliannya terhadap lingkungan sudah dimulai sejak kecil. Tapi, dia mulai mengabdikan diri untuk lingkungan berawal pada 2005 silam.
“Sejak sekolah dasar kita diajarkan bahwa kebersihan sebagian dari iman. Ya itu yang kita lakukan jadi terbiasa sampai sekarang,” ucap Prahmana Riza.
Pada 2006, ibu empat anak itu mulai aktif dalam kegiatan lingkungan. Nenek menjadi pemateri tentang pengelolaan sampah. Penyampaiannya yang jelas dan lugas membuat pendengar antusiasme.
Menurutnya, yang terpenting adalah memilah sampah dari rumah. Yaitu memisahkan sampah kering dan basah. Upayanya itu bisa mengurangi beban tempat pembuangan sementara (TPS) dan tempat pembuangan akhir (TPA).
“Akhirnya, saat kepemimpinan Pak Bambang DH dibentuk kader lingkungan. Kita tersebar di masing-masing wilayah, saya wilayah selatan,” ucap Prahmana Riza.
Perempuan kelahiran 1957 itu menyebutkan, selama menjadi kader, murni dari kecintaannya terhadap lingkungan. Sehingga, dia menyadari untuk tidak memaksa siapa pun. Sebab, pengelolaan lingkungan berasal dari kesadaran warga yang peduli terhadap sekitar.
Nenek selalu terlibat dalam kegiatan lingkungan hidup di Surabaya. Mulai dari Merdeka Dari Sampah (MDS), Surabaya Green &Clean, Surabaya Smart City (SSC), hingga Kampung Surabaya Hebat (KSH). Perannya cukup besar untuk menggerakkan semangat warga di wilayah Selatan. (han)
Editor : Hany Akasah