RADAR GRESIK - Gelombang manusia tak terputus, suhu menyengat, langkah kaki yang tak lagi ringan. Di tengah puncak ibadah haji Armuzna, perjuangan jutaan jemaah mencapai titik paling menguras fisik dan mental.
Dalam situasi inilah, Anggota DPD RI Lia Istifhama, mengajak jemaah kembali pada esensi ibadah yakni menuntaskan yang wajib, dan merelakan sisanya kepada Allah.
Menurutnya, Armuzna bukan sekadar rangkaian ritual. Ia adalah ujian kesabaran, kekuatan, sekaligus keikhlasan. Sejak 8 hingga 13 Zulhijjah, jutaan jemaah dari berbagai penjuru dunia bertumpu di titik yang sama yakni Arafah, Muzdalifah, dan Mina. Di sanalah batas fisik diuji, dan hati dipaksa belajar menerima.
Di tengah kepadatan yang nyaris tak terurai, nama Lia Istifhama muncul dengan pesan sederhana namun dalam. “Fokus saja pada yang wajib. Selebihnya kita pasrahkan kepada Allah,” ujarnya, Kamis (29/5/2026), dengan nada tenang di tengah riuhnya lautan manusia.
Bagi Ning Lia yang juga senator Jatim itu, kelancaran ibadah bukan semata soal fasilitas atau sistem, melainkan tentang bagaimana jemaah mengelola rasa lelah, cemas, dan ekspektasi.
Baca Juga: Sinergi CSR Iduladha, Gressmall dan Aston Gresik Salurkan Hewan Kurban ke Tujuh Yayasan
Menurutnya, praktik tanazul sebuah bentuk keringanan ibadah yang justru sarat makna spiritual. Dalam konsep muamalah, tanazul berarti merelakan sesuatu yang dimiliki demi kemaslahatan.
Di Mina, tanazul hadir dalam bentuk kebijakan jemaah tak lagi harus mabit. Usai melontar jumrah, mereka diperbolehkan kembali ke hotel di Makkah.
“Bagi sebagian jemaah, ini bukan sekadar keringanan. Ini adalah pelajaran: bahwa dalam ibadah pun, ada saatnya manusia belajar melepaskan idealisme demi menjaga diri,” kata Ning Lia.
Di tengah tenda yang sesak, antrean panjang, dan ruang gerak yang terbatas, tanazul menjadi jalan tengah—terutama bagi lansia dan mereka yang rentan.
Namun di balik semua keterbatasan itu, ada kekuatan lain yang tumbuh yakni solidaritas. Menurut Ning Lia, kebersamaan antarjemaah justru menjadi energi paling nyata selama Armuzna berlangsung.
“Kita jauh dari keluarga, berada di negeri orang, dengan cuaca yang berbeda. Tapi justru di situ, kita saling menguatkan,” tuturnya.
Di antara langkah kaki yang tertatih, ada tangan yang membantu. Di antara wajah lelah, ada senyum yang menenangkan. Solidaritas menjadi bahasa universal yang menyatukan jutaan manusia tanpa sekat.
Baca Juga: Mangsa Ayam Warga Manyar, Ular Piton 3 Meter Dievakuasi Damkarla Gresik
Perjuangan itu bukan sekadar cerita. Putri KH Maskur Hasyim itu sendiri mengalaminya. Di tengah padatnya arus jemaah, ia sempat terpisah dari rombongan. Tak ada wajah familiar, tak ada pendamping. Hanya lautan manusia yang terus bergerak. Namun ia memilih satu hal: tidak panik.
Dengan langkah mantap, ia mengikuti penanda sederhana—ransel jemaah Indonesia, arus pergerakan, dan arah menara yang dikenalnya. Di setiap langkah, ia menanamkan keyakinan.
“Bismillah, tetap jalan. InsyaAllah akan dipertemukan kembali,” katanya.
Dan benar, di tengah kerumunan yang tak terhitung, pertemuan itu akhirnya terjadi.
Pada akhirnya, semua kembali pada satu titik: keikhlasan. Di tanah suci, kesempurnaan bukanlah tentang fasilitas terbaik atau perjalanan tanpa hambatan. Justru di tengah ketidaknyamanan itulah makna ibadah menemukan bentuknya.
Antrean panjang, perjalanan kaki belasan kilometer, hingga tenda yang hanya cukup untuk duduk—semua menjadi bagian dari ujian.
“Apa yang kita rasakan, juga dirasakan jemaah lain. Ketika mereka ikhlas, semoga kita juga. Armuzna bukan hanya tentang ibadah dalam arti ritual. Ia adalah perjalanan batin dari ambisi menuju kepasrahan, dari kelelahan menuju keikhlasan. Di tengah lautan manusia, pesan itu menggema sederhana namun kuat: tuntaskan yang wajib, dan selebihnya, serahkan kepada Allah,” katanya. (han)
Editor : Hany AkasahSumber : Radar Gresik