Ekonomi & Bisnis Features Gaya Hidup Hukum dan Kriminal Jatim Kebo Giras Kesehatan Kota Gresik Moncer Seru Olahraga Pendidikan Peristiwa Person of The Year Pojok Perkoro

Pasca Bencana Bawean: Banjir di Kepuhteluk Mulai Surut, Pembersihan Material Longsor Gunung Malang Terus Dikebut

Yudhi Dwi Anggoro • Minggu, 11 Januari 2026 | 10:06 WIB
BANJIR : Dokumentasi saat air merendam empat dusun di Desa Kepuhteluk, Bawean pada Kamis (8/1) lalu.
BANJIR : Dokumentasi saat air merendam empat dusun di Desa Kepuhteluk, Bawean pada Kamis (8/1) lalu.

RADAR GRESIK – Kondisi geografis Pulau Bawean yang berbukit dan berbatasan langsung dengan pesisir membuatnya rawan terdampak cuaca ekstrem.

Pada Kamis (8/1) lalu, wilayah ini dihantam hujan deras berdurasi lama yang mengakibatkan banjir di Kecamatan Tambak serta tanah longsor di Kecamatan Sangkapura.

Hingga beberapa hari pasca kejadian, warga dan petugas terus berupaya memulihkan kondisi lingkungan dan memantau stabilitas tanah untuk mencegah bencana susulan.

Banjir yang melanda Desa Kepuhteluk pada Kamis siang dipicu oleh hujan lebat selama lebih dari dua jam. Akibatnya, air meluap dan merendam empat dusun sekaligus, yakni Dusun Pesisir, Telukkemur, Daya Sungai, dan Pecinan.

Perangkat Desa Kepuhteluk, Reza Fahlefi, mengenang saat debit air naik dengan cepat setinggi di atas mata kaki hingga merendam pemukiman warga.

"Hujan turun sejak pukul 12.00 WIB hingga 14.00 WIB. Selain rumah warga, area persawahan di Dusun Telukkemur juga tergenang air, yang memicu kekhawatiran petani akan potensi gagal tanam," jelasnya.

Kepala Desa Kepuhteluk, Tamyis, menyebutkan bahwa kejadian tersebut merupakan fenomena baru karena cakupan banjir yang meluas ke dusun-dusun yang biasanya aman. Pemerintah desa kini fokus memantau drainase agar air dapat mengalir lancar saat hujan kembali turun.

Kondisi lebih berat dialami warga Desa Patar Selamat, Kecamatan Sangkapura. Pada hari yang sama sekitar pukul 14.30 WIB, tebing setinggi 3 meter longsor dan menimbun badan jalan menuju kawasan Gunung Malang sepanjang 25 meter.

Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Kabupaten Gresik, Sukardi, mengonfirmasi bahwa pemicu utama longsor adalah struktur tanah yang labil akibat guyuran hujan deras dalam waktu lama.

"Tim Reaksi Cepat (TRC) bersama perangkat desa langsung bergerak ke lokasi sesaat setelah laporan masuk. Meski material longsor cukup besar dan memutus akses jalan, alhamdulillah tidak ada laporan korban jiwa dalam insiden ini," ujar Sukardi, Minggu (11/1).

BPBD Gresik kini merekomendasikan langkah-langkah teknis permanen untuk mencegah kejadian serupa di lokasi tersebut. Beberapa poin krusial yang diusulkan antara lain pembangunan dinding penahan tanah (talud) atau bronjong, serta penguatan drainase jalan.

Selain perbaikan fisik, Sukardi menekankan pentingnya menjaga vegetasi hutan di perbukitan Bawean.

"Kami gencar mensosialisasikan larangan penebangan pohon di wilayah hutan pegunungan. Akar pohon yang kuat adalah benteng alami paling efektif untuk menahan tanah agar tidak longsor," pungkasnya. (yud/han)

Editor : Hany Akasah
#BPBD #gresik #Banjr #BAWEAN #longsor