Dyni Norvayanti : Anak Tidak Kekurangan Jawaban, Anak Kekurangan Kesempatan Berpikir

Hany Akasah • Dipublikasikan Senin, 24 Agustus 2026 | 10:23 WIB
Dyni Norvayanti, Pendidik di RA Nurul Huda 1 Kepatihan Menganti Gresik
Dyni Norvayanti, Pendidik di RA Nurul Huda 1 Kepatihan Menganti Gresik

RADAR GRESIK - Oleh : Dyni Norvayanti, Pendidik di RA Nurul Huda 1 Kepatihan Menganti Gresik

Bayangkan seorang anak mendapat pertanyaan sederhana. Ia belum sempat mengingat, mencoba menebak, atau berdiskusi dengan temannya. Tangannya lebih dahulu meraih gawai. Dalam beberapa detik, jawaban sudah tersedia.

Sebagai guru, saya tidak sedang menyalahkan teknologi. Saya justru kagum pada kemampuannya. Namun, ada satu pertanyaan yang terus mengusik: jika setiap kali mengalami kesulitan anak segera meminta bantuan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), kapan ia belajar menemukan jawaban dengan pikirannya sendiri?

Cara anak belajar memang telah berubah. Informasi yang dahulu harus dicari melalui buku, bertanya kepada guru, atau berdiskusi dengan orang lain kini dapat diperoleh dengan sangat cepat.

AI dapat memberikan penjelasan, contoh, rangkuman, ide, bahkan membantu menyelesaikan berbagai persoalan. Kehadirannya tidak mungkin kita abaikan, apalagi melarang anak mengenalnya sama sekali.

Yang perlu kita pikirkan bukan apakah AI boleh digunakan, melainkan bagaimana agar kemudahan AI tidak menghilangkan proses belajar anak.

Dalam pendidikan dikenal istilah cognitive offloading, yaitu ketika sebagian pekerjaan berpikir dialihkan kepada alat atau teknologi. Dalam batas tertentu, hal ini sangat membantu. Kalkulator memudahkan perhitungan dan mesin pencari membantu menemukan informasi. AI pun dapat menjadi alat belajar yang bermanfaat.

Baca Juga: Opini Pendidikan DPD RI Lia Istifhama: Return of Meaning vs Return of Investment: Melihat Arah Pendidikan Indonesia

Namun, masalah muncul ketika alat bantu berubah menjadi pengganti proses berpikir.

Sebuah penelitian pada 2025 terhadap 319 pekerja pengetahuan menunjukkan adanya hubungan antara tingginya kepercayaan kepada AI dengan berkurangnya usaha berpikir kritis.

Penelitian lain yang menelaah puluhan studi tentang penggunaan ChatGPT dalam pendidikan menunjukkan bahwa AI dapat mendukung kemampuan berpikir kritis dan kreatif apabila digunakan secara terarah, melalui pertanyaan, diskusi, refleksi, dan evaluasi. Sebaliknya, penggunaan yang pasif dapat mendorong ketergantungan.

Penelitian terhadap mahasiswa di Indonesia juga menunjukkan gambaran serupa. Penggunaan ChatGPT dalam pembelajaran yang terstruktur dapat membantu kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan reflektif. Namun, muncul pula kekhawatiran bahwa penggunaan yang berlebihan dapat membuat seseorang terlalu bergantung pada teknologi.

Artinya, AI bukan musuh pendidikan. Yang perlu kita waspadai adalah kebiasaan menyerahkan proses berpikir kepada AI.

Karena itu, saya membayangkan sebuah kebiasaan sederhana yang dapat ditanamkan kepada anak: berpikir terlebih dahulu, baru bertanya kepada AI.

Baca Juga: Opini Kepala Dinas KBP3A Gresik dr Titik Ungkap Peran Ayah Masa Kini dalam Membentuk Perempuan Sehebat Kartini

Ketika mendapatkan pertanyaan, biarkan anak mencoba menjawab dengan pengetahuannya sendiri. Biarkan ia keliru. Setelah itu, AI boleh digunakan untuk mencari informasi tambahan, menguji pendapat, atau melihat sudut pandang lain.

Jawaban AI pun tidak boleh diterima begitu saja. Anak perlu belajar bertanya, memeriksa, membandingkan, dan menjelaskan kembali dengan pemahamannya sendiri.

Di sinilah saya melihat peran guru justru semakin penting.

Ketika informasi dapat diperoleh dengan mudah, guru tidak cukup hanya menjadi penyampai pengetahuan. Guru perlu menjadi pendamping yang membantu anak memahami informasi dan belajar menggunakannya dengan benar. Orang tua pun memiliki peran yang sama. Ketika anak menggunakan AI, orang tua dapat mengajak berdialog: “Menurutmu bagaimana?”, “Mengapa kamu percaya jawaban itu?”, atau “Bagaimana jika jawaban tersebut ternyata salah?”

Sebagai guru PAUD, saya melihat pentingnya proses tersebut bahkan sejak anak masih kecil.

Ketika seorang anak belajar memakai sepatu, misalnya, kita sebenarnya dapat membantunya dalam beberapa detik. Namun, sering kali kita memilih menunggu. Anak mencoba, salah, lalu mencoba lagi. Guru mendampingi tanpa mengambil alih. Ketika akhirnya anak berhasil, yang tumbuh bukan hanya kemampuan memakai sepatu, tetapi juga rasa percaya diri dan kemandirian.

Menurut saya, proses yang sama harus tetap dipertahankan ketika anak belajar menggunakan teknologi.

Anak perlu diberi kesempatan untuk bertanya, berpikir, mencoba, menilai, dan mengambil keputusan.

Pertama, anak perlu belajar bertanya. Sebab pertanyaan yang baik lahir dari rasa ingin tahu dan pemikiran.

Kedua, anak perlu belajar berpikir sebelum mencari jawaban. Ia perlu diberi ruang untuk mengingat, menghubungkan informasi, membuat dugaan, dan menyampaikan pendapat.

Baca Juga: Opini Dede Idawati, Kepala SLB Kemala Bhayangkari 2 Gresik : Delapan Cara Seru Menggapai ABK Berdaya

Ketiga, anak perlu belajar mencoba. Kesalahan bukan sesuatu yang harus selalu dihindari. Kesalahan adalah bagian dari proses belajar.

Keempat, anak perlu belajar menilai. Tidak semua informasi dari AI pasti benar. Anak harus terbiasa memeriksa dan membandingkan informasi.

Kelima, anak perlu belajar mengambil keputusan dan bertanggung jawab. AI dapat memberikan pilihan, tetapi manusia tetap harus menentukan pilihan dan menerima konsekuensinya.

Kita tidak perlu membawa anak menjauh dari AI. Justru kita perlu mendampingi mereka agar mampu menggunakan teknologi dengan bijak.

Sebab, mungkin tantangan pendidikan di era AI bukan lagi bagaimana membuat anak memperoleh lebih banyak jawaban. Tantangannya adalah bagaimana memastikan anak tetap memiliki keinginan dan kemampuan untuk mencari jawaban dengan pikirannya sendiri.

AI boleh membantu anak menemukan jawaban. Tetapi jangan sampai kita begitu sibuk mengajarkan anak cara menggunakan AI sehingga lupa mengajarkan anak cara menggunakan pikirannya sendiri.

Sebab di tengah dunia yang semakin pandai memberikan jawaban, kemampuan manusia untuk berpikir akan menjadi semakin berharga. (*)

Editor : Hany Akasah
Dyni Norvayanti ai literasi digital Guru pendidikan anak