RADAR GRESIK – Kondisi fisik dua unit Ruang Praktik Siswa (RPS) di SMK Negeri 1 Cerme kini sangat memprihatinkan. Bangunan sekolah tersebut tampak miring dan dinilai sangat membahayakan keselamatan aktivitas belajar mengajar akibat penurunan atau amblesnya kontur tanah di lokasi setempat.
Kepala SMKN 1 Cerme, Darwati, mengungkapkan bahwa dua ruangan tersebut sebenarnya sudah tidak difungsikan secara rutin sejak tahun 2022. Pihak sekolah sebelumnya hanya memanfaatkan ruangan tersebut sewaktu-waktu jika ada kebutuhan mendesak akan keterbatasan ruang.
Namun, seiring berjalannya waktu, kondisi bangunan kian mengkhawatirkan karena sisi belakang bangunan berbatasan langsung dengan telaga, sehingga resapan air dan labilnya struktur tanah memicu amblesnya area tersebut.
Baca Juga: Tanamkan Disiplin Sejak Dini, Koramil Gresik Gembleng Siswa Baru SMK SIG Lewat Pelatihan PBB
Guna mengatasi ancaman keselamatan akibat dampak pergerakan tanah di dekat area telaga tersebut, pihak sekolah bersama Komite Sekolah mengambil langkah cepat melalui penggalangan dana swadaya masyarakat dan wali murid untuk membangun Pemasangan Penyanhga Tanggul Tanah (PTT) serta pengurukan lahan.
Nampak di lokasi beberapa truck bermuatan tanah urug dan excavator melakukan pengurugan secara permanen, Rabu (29/7).
"Karena pengurukan ini belum bisa dicover secara penuh mengingat luasnya lahan dan dalamnya tingkat pengurukan, maka program penanganan ini kami sosialisasikan secara terbuka kepada seluruh wali murid demi menjaga transparansi dan keselamatan bersama," ujar Darwati.
Darwati menjelaskan, area tanah di SMKN 1 Cerme yang menjadi telaga dan berdampak pergerakan tanah tersebut cukup luas, yakni mencapai sekitar setengah hektar atau sekitar lebar 60 meter dan panjang 80 meter. Untuk mengamankan struktur tanah agar tidak terus ambles ke arah telaga, lahan seluas 30 meter x dengan ketinggian sedalam 2,5 hingga 2,75 meter di area terdampak akan diurug dan dibangun tanggul secara permanen.
"Tanggul penyangga tanah tersebut akan dibangun secara permanen agar memperkuat tanah agar tidak kembali amles. Dengan ketinggian urugan mencapai 2,5 hingga 2,7 meter, proses pengurukan diprediksi membutuhkan sekitar 100 hingga 150 truk material tanah urug," pungkas Darwati.
Pekerjaan fisik dan pengurukan lahan dilaporkan sudah mulai berjalan sejak Senin sore. Seluruh rangkaian proses pembangunan ditargetkan rampung dalam waktu dua minggu, dengan rincian satu minggu fokus pada pengerjaan pengurukan tanah dan minggu berikutnya untuk penyelesaian struktur tanggul serta pemagaran.
Pihak sekolah menegaskan bahwa inisiatif swadaya komite ini murni dilakukan demi menciptakan lingkungan belajar yang aman dan kondusif bagi seluruh warga sekolah. Setelah proses pengurukan dan penanggulan area batas telaga selesai, lahan tersebut rencananya akan dimaksimalkan untuk menunjang program-program pengembangan sekolah.
Beberapa program yang direncanakan ialah implementasi program Sekolah Inovatif Ketahanan Pangan (SIKAP) dan pemanfaatan tempat pengelolahan Sampah sekolah.
Mengenai kondisi gedung yang miring, pihak sekolah sebenarnya telah mengajukan permohonan revitalisasi bangunan kepada dinas terkait.
Baca Juga: Diskominfo Gresik Gelar Monev Satu Data, DPRD Dorong Pembangunan Tepat Sasaran
Namun, proses perbaikan khusus untuk Ruang Praktik Siswa tersebut masih harus menunggu selesainya pengamanan dan penguatan kontur tanah agar tidak kembali tergerus dan ambles di kemudian hari. (rir/han)
Editor : Hany AkasahSumber : Radar Gresik