RADAR GRESIK - Universitas Muhammadiyah Gresik (UMG) semakin mempertegas posisinya sebagai perguruan tinggi berwawasan global yang responsif terhadap dinamika zaman.
Pada tahun 2026 ini, UMG secara konsisten mengintegrasikan keterbukaan internasionalisasi dengan penguatan jaringan industri regional dan nasional.
Langkah strategis ini dirancang bukan sekadar untuk meningkatkan daya saing institusi, melainkan juga sebagai wujud komitmen terhadap nilai-nilai kemanusiaan dan pembangunan ekonomi berkelanjutan.
Rektor UMG, Prof. Dr. Khoirul Anwar, S.Pd., M.Pd memaparkan bahwa salah satu fokus utama UMG adalah membuka ruang seluas-luasnya bagi mahasiswa asing, khususnya yang berasal dari wilayah konflik seperti Timur Tengah dan Afrika.
Program internasionalisasi ini ditempatkan bukan sebagai ajang mobilitas akademik semata, melainkan sebagai bagian dari misi kemanusiaan UMG dalam memberikan pendidikan yang inklusif.
"Bagi UMG, internasionalisasi bukan sekadar menerima mahasiswa asing, tetapi juga menjalankan misi kemanusiaan. Kami ingin memberikan kesempatan belajar bagi mahasiswa dari wilayah konflik agar mereka tetap memiliki harapan untuk meraih masa depan yang lebih baik. Inilah wujud komitmen UMG terhadap pendidikan yang inklusif, nilai kemanusiaan, dan kolaborasi global," tegas Prof. Dr. Khoirul Anwar.
Kehadiran mahasiswa mancanegara ini secara langsung mentransformasi suasana kampus UMG menjadi lebih multikultural.
Mahasiswa lokal kini dapat berinteraksi langsung dengan berbagai latar belakang budaya, meningkatkan kemampuan komunikasi lintas budaya (cross-cultural communication), serta memperkuat toleransi tanpa harus meninggalkan lingkungan kampus.
Untuk mendukung proses adaptasi tersebut, UMG melalui International Relation Office (IRO) dan Pusat Pengembangan Bahasa mendesain berbagai program pendampingan, mulai dari kelas Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA), buddy system bersama mahasiswa lokal, hingga kegiatan cultural exchange.
Di sisi lain, memanfaatkan posisi strategis Kabupaten Gresik sebagai salah satu pusat industri terbesar di Jawa Timur, UMG meluncurkan forum bisnis strategis bertajuk UMG-NEXUS 2026. Forum ini diinisiasi oleh Direktorat Sertifikasi Profesi, Pengembangan Bahasa, dan Usaha (DSP2BU) untuk menyinergikan akademisi, pelaku industri, dan pemerintah.
Melalui platform knowledge sharing dan business matching, hasil riset perguruan tinggi dapat diselaraskan secara presisi dengan kebutuhan riil dunia kerja, transformasi digital, serta isu transisi energi.
Komitmen link and match tersebut dibuktikan dengan perluasan kemitraan industri yang intensif. Dalam kurun waktu satu tahun terakhir, UMG berhasil menambah kerja sama dengan 22 perusahaan baru.
Berbagai kolaborasi konkret tengah berjalan, di antaranya bersama PGN Saka dalam pengabdian masyarakat, RSUD Ibnu Sina, Rumah Sakit Muhammadiyah Gresik dan Lamongan, PT Petrokimia Gresik, hingga anak perusahaan dalam grup PT Semen Indonesia seperti Silog, SID, Swabina Gatra, dan VUFA. Kemitraan ini mencakup kurikulum berbasis industri, magang bersertifikat, riset terapan, hingga uji sertifikasi profesi.
Lebih jauh, UMG juga mulai mengintegrasikan keberadaan mahasiswa internasional ke dalam jaringan industri tersebut. Mahasiswa asing dan lokal didorong untuk terlibat bersama dalam penelitian kolaboratif dan proyek inovasi yang berorientasi pada penyelesaian masalah industri, sehingga mereka memiliki pengalaman belajar berskala internasional yang relevan dengan pasar kerja global.
Dampak dari seluruh inisiatif strategis ini diukur UMG secara komprehensif melalui Key Performance Indicators (KPI) yang ketat, mulai dari peningkatan jumlah kerja sama, mobilitas civitas akademika, hingga employability atau tingkat serapan lulusan di dunia kerja.
"Kami mengukur dampaknya melalui beberapa indikator, seperti peningkatan jumlah mahasiswa internasional, bertambahnya kerja sama dengan mitra luar negeri dan industri, hingga umpan balik dari para mitra. Dalam jangka panjang, kami melihat kontribusinya terhadap peningkatan employability lulusan. Bagi kami, keberhasilan internasionalisasi tidak hanya diukur dari angka, tetapi juga dari kualitas pengalaman belajar dan jejaring global yang dimiliki mahasiswa," jelas Prof. Khoirul Anwar.
Rangkaian program inovatif ini merupakan bagian terintegrasi dari Rencana Induk Pengembangan Kampus UMG tahap ke-5 yang berfokus pada Rekognisi Internasional.
“Ke depan, UMG telah menetapkan sejumlah target strategis untuk memperkuat peta jalan (roadmap) menuju universitas unggulan berdaya saing global. Target tersebut mencakup pencapaian akreditasi institusi Unggul, peningkatan mobilisasi civitas akademika internasional di setiap program studi, penguasaan bahasa asing yang aktif serta sertifikasi kompetensi bagi lulusan, hingga peningkatan kualitas dan kuantitas kerja sama dengan perusahaan multinasional dan lembaga internasional.”pungkas Prof. Khoirul Anwar. (nov/han)
Editor : Hany Akasah
Sumber : Radar Gresik