RADAR GRESIK – Dalam upaya mendorong kemandirian ekonomi dan mengoptimalkan potensi lokal, tim Pengabdian Masyarakat (Pengmas) kolaborasi antara Program Studi Teknologi Industri Pertanian (TIP) dan Manajemen Rekayasa (MR) Universitas Internasional Semen Indonesia (UISI) melaksanakan rangkaian program strategis di Desa Sukomulyo, Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik.
Rangkaian kegiatan yang berlangsung intensif sejak awal Januari hingga akhir April 2026 ini berfokus pada dua agenda utama, yakni inisiasi budidaya jamur tiram putih serta penyusunan roadmap tata kelola eduwisata terpadu.
Melihat potensi sumber daya alam Desa Sukomulyo yang besar namun belum optimal, Kelompok Pengmas UISI yang beranggotakan Sayyidah Khoirun Nisa’i Khutmy, Fitriyani Syafiqotuz Zahrah, Tri Subiantoro, dan Muhammad Angger Pangestu, bergerak cepat menginisiasi budidaya jamur tiram putih.
Baca Juga: Sambut Hari Bhayangkara ke-80, Polres Gresik Gelar Doa Bersama Lintas Agama Bersama Forkopimda
Sementara kelompok pengmas yang beranggotakan Dwi Zahra Farikhatul Mustofa, Eva Nadya Izza Aulia, Qurrata a'yunina, dan Mirza Ibrahim Al Fharitdzi menyusun roadmap tata kelola terpadu
Di bawah bimbingan para dosen ahli, Zara Safira Ramadhani, S.T., M.T., Fara Kamila Hudy, S.T., M.T., Yunita Siti Mardhiyyah, S.TP., M.Si., dan Wahyu Kamal Setiawan, S.TP., M.Si., Ph.D. dari prodi TIP (Teknologi Industri Pertanian), tim melakukan transfer teknologi dan pengetahuan langsung kepada masyarakat.
Salah satu mahasiswa Sayyidah Khoirun Nisa’i Khutmy menuturkan langkah awal tim dimulai dengan melakukan benchmarking ke Desa Gending yang telah sukses membudidayakan dan memasarkan jamur tiram.
Tim kemudian mengadopsi metode tersebut, mencari supplier baglog berkualitas, mengobservasi lokasi, mendirikan kumbung sementara, hingga membuat rak pertumbuhan.
“ Selama masa pendampingan penuh di desa, komoditas jamur tiram terbukti berhasil tumbuh optimal dan sukses dipanen sebanyak dua kali dalam sebulan. Sebagai langkah keberlanjutan program, kami menyusun buku panduan budidaya serta melakukan sosialisasi langsung kepada ibu-ibu PKK, kelompok tani, serta masyarakat setempat,” terangnya.
Di sisi lain, tim Pengmas UISI yang didampingi oleh Niswatun Faria, S.T., M.Sc dari Prodi Manajemen Rekayasa berfokus pada aspek tata kelola makro eduwisata desa. Hal tersebut didasari oleh potensi Desa Sukomulyo yang kaya akan spot potensial seperti kawasan WADAS GLOW, kebun hidroponik melon, budidaya tanaman TOGA, markisa, lele, hingga pisang Cavendish. Namun, pengelolaannya masih belum terintegrasi karena konsep wisata dirancang menyebar hingga ke tingkat RT dan RW.
Niswatun Faria menuturkan tata kelola makro eduwisata desa ini dimulai melalui pendekatan Participatory Action Research (PAR) dengan metode deskriptif kualitatif. Dimana tim melibatkan aktif pemerintah desa dan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) agar masyarakat tidak sekadar menjadi objek program.
Alur pelaksanaan program ini meliputi observasi awal, identifikasi potensi, serta pelaksanaan wawancara dan Focus Group Discussion (FGD) bersama pemangku kepentingan desa. Selanjutnya, dilakukan pemetaan potensi desa ke dalam beberapa zona eduwisata berbasis pertanian, lingkungan, dan konservasi.
“Sebagai output utama, tim kami berhasil menyusun dokumen roadmap strategis pengembangan eduwisata terpadu jangka pendek, menengah, dan panjang, beserta modul sosialisasi. Melalui program ini, pemerintah desa dan Pokdarwis kini memiliki acuan legal yang jelas untuk mengarahkan pengembangan eduwisata secara mandiri dan berkelanjutan,” pungkasnya.
Sementara itu, Kepala Desa Sukomulyo, Subianto, memberikan apresiasi yang sangat tinggi atas dedikasi dan kontribusi nyata yang dibawa oleh Civitas Akademika UISI. Rangkaian program komprehensif ini dinilai sangat relevan dengan kebutuhan mendasar desa dalam melakukan lompatan kemajuan di berbagai sektor.
"Saya mengucapkan terima kasih dan apresiasi yang sebesar-besarnya kepada Tim Pengabdian Masyarakat UISI yang telah hadir dan berkolaborasi. Seluruh program yang telah dilaksanakan mulai dari budidaya jamur, penyusunan roadmap eduwisata, pengolahan markisa dan melon menjadi produk berkelanjutan, budidaya BSF/maggot, hingga pelatihan digitalisasi melalui AI, konten digital, dan e-commerce sangat relevan dengan kebutuhan kami," ujar Subianto.
Pihak pemerintah desa berharap agar kolaborasi ini tidak berhenti sampai di sini, melainkan terus berkembang agar memberikan dampak ekonomi yang masif dan mewujudkan visi besar Desa Sukomulyo BESTARI MAGIYA (Bersih, Sehat, Lestari, Mandiri Energi, dan Berdaya). (rir/han)
Editor : Hany Akasah