RADAR GRESIK — Pemerintah Desa Betoyokauman, Kecamatan Manyar, menggelar upacara peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 dengan konsep yang unik di LP Ma’arif NU pada Minggu (3/5/2026).
Berbeda dari biasanya, seluruh petugas yang terlibat dalam upacara tersebut, mulai dari pemimpin upacara hingga pasukan pengibar bendera, sepenuhnya diisi oleh kalangan perempuan.
Kehadiran para petugas perempuan yang mengenakan busana adat kebaya dan jarik ini membawa nuansa kuat akan semangat emansipasi dan pemberdayaan perempuan di ruang publik.
Kegiatan ini diikuti oleh berbagai elemen masyarakat, termasuk pelajar, Linmas, Karang Taruna Putri, hingga anggota TP PKK Desa Betoyokauman. Ketua panitia, Khurriyyah Ahmad, menjelaskan bahwa pemilihan petugas perempuan ini terinspirasi oleh semangat perjuangan Kartini mengenai kesetaraan pendidikan yang baru saja diperingati.
“Kartini dikenal dengan gagasan bahwa pendidikan tidak mengenal gender, baik laki-laki maupun perempuan. Ini menjadi bukti bahwa perempuan juga mampu mengambil peran, salah satunya dengan menjadi petugas upacara,” ujar Khurriyyah.
Senada dengan hal tersebut, Ketua TP PKK Kecamatan Manyar, Kumala Wardhani, memberikan apresiasi atas peran perempuan yang kini semakin luas dan tidak hanya terbatas pada peran domestik di dalam keluarga saja.
Menurutnya, keterlibatan aktif perempuan dalam kegiatan publik seperti ini menunjukkan integritas dan kemampuan mereka dalam berkarya serta berkarir di berbagai bidang.
“Di era emansipasi ini, perempuan tidak hanya berperan dalam keluarga, tetapi juga bisa berkarir, berkarya, bahkan menjadi petugas upacara seperti hari ini. Ini adalah bentuk nyata bahwa perempuan mampu mengambil peran di ruang publik,” tutur Kumala Wardhani.
Kepala Desa Betoyokauman, M. Ali Mansur, menegaskan bahwa peringatan Hardiknas merupakan agenda rutin tahunan di desanya, yang sejak 2015 telah dikenal sebagai desa berwawasan pendidikan.
Baca Juga: Tragedi Perahu Besi Tua di Gresik: Satu Meninggal Dunia, Tim SAR Buru Dua Korban Hilang
Sebagai komitmen nyata, desa ini masih konsisten menerapkan kebijakan jam wajib belajar bagi anak-anak, di mana setiap warga dilarang menyalakan televisi dari setelah Maghrib hingga pukul 19.30 WIB untuk mendukung waktu belajar anak.
“Melalui kegiatan seperti ini, kami ingin terus menanamkan pentingnya pendidikan sekaligus membangun karakter generasi muda di desa kami. Harapannya kegiatan ini bisa terus berjalan semakin besar,” pungkas M. Ali Mansur. (jar/han)
Editor : Hany Akasah