RADAR GRESIK – Dinas Pendidikan Kabupaten Gresik bersama Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Gresik melakukan terobosan besar untuk mengubah paradigma belajar matematika yang selama ini dianggap sulit oleh siswa.
Dengan menggandeng lembaga pendidikan asal Jepang, Sprix, sebanyak 58 guru matematika SMP negeri se-Kabupaten Gresik dibekali metode pembelajaran "Sansu". Pelatihan tersebut digelar di Gedung Guru dan dibuka pada Rabu (3/2) .
Pelatihan intensif selama dua hari ini merupakan tindak lanjut dari kerja sama strategis yang sebelumnya telah dijalin oleh Bupati Gresik, Fandi Akhmad Yani pada November tahun lalu.
Fokus utamanya adalah transformasi pembelajaran matematika agar lebih cepat, mudah, dan menyenangkan bagi siswa di Kota Pudak.
Ketua PGRI Gresik, Beri Avita Prasetiya, mengungkapkan bahwa langkah ini diambil sebagai respons atas hasil pra-Tes Kemampuan Akademik (TKA) siswa yang menunjukkan nilai rata-rata matematika masih di bawah standar.
“TKA itu dibatasi waktu, sementara kemampuan hitung cepat siswa masih kurang. Metode Sansu ini memiliki keunggulan mengkolaborasikan otak kanan dan kiri sehingga siswa memiliki teknik hitung yang lebih efisien. Guru-guru inilah yang nantinya akan mengimplementasikan ilmu tersebut kepada siswa,” jelas Beri.
Metode Sansu dikenal di Jepang karena pendekatannya yang logis namun sederhana. Rencananya, pada Senin (9/2) pekan depan, seluruh siswa kelas VII dan VIII akan mengikuti pra-tes untuk mengidentifikasi sejauh mana pemahaman numerasi mereka. Hasil tes tersebut akan menjadi database bagi guru untuk menentukan pola penguatan yang tepat bagi tiap siswa.
Sementara itu, Kepala Bidang SMP Dinas Pendidikan Gresik, Syifaul Qulub, menjelaskan bahwa metode Sansu ini nantinya akan diterapkan melalui jalur ekstrakurikuler di masing-masing sekolah.
“Pelatihan dibagi menjadi enam sesi. Jika dimasukkan ke dalam jam pelajaran formal, akan sulit menyesuaikan dengan kurikulum yang sudah ada. Maka dari itu, penguatannya dilakukan lewat ekstrakurikuler agar lebih fleksibel,” terang Syifaul.
Tahapan identifikasi kemampuan siswa yang dimulai pekan depan diharapkan mampu memberikan potret riil kekurangan siswa di tiap lini.
“Goal besar kami adalah meningkatkan kompetensi numerasi guru dan memberikan hasil akhir berupa nilai matematika siswa yang memuaskan serta kompetitif,” pungkasnya. (rir/han)
Editor : Hany Akasah