RADAR GRESIK - Era globalisasi hadir membawa berbagai pengaruh signifikan, menembus ruang dan waktu, dan memungkinkan pertukaran budaya yang lebih cepat. Kemudahan akses informasi budaya luar membuka wawasan masyarakat terhadap budaya negara lain. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta arus globalisasi, turut memberi dampak pada dunia kuliner Indonesia.
Salah satu dampaknya adalah tergerusnya minat masyarakat terhadap makanan tradisional, digantikan makanan asing yang menjadi tren anak muda. Hal ini terlihat dari unggahan status atau story di media sosial yang menunjukkan kebanggaan mereka saat menyantap makanan luar.
Upaya pelestarian makanan tradisional dapat dilakukan dengan memasukkannya ke dalam kurikulum pendidikan, memadukan kurikulum nasional dengan kearifan lokal. Hal ini bertujuan untuk menumbuhkan kesadaran akan pentingnya budaya lokal sebagai jati diri bangsa.
Generasi muda memegang peran penting dalam mewarisi dan melestarikan budaya lokal. Upaya ini dapat dilakukan melalui dua cara, yaitu Culture Experience dan Culture Knowledge.
A. Culture Experience: Pelestarian budaya yang dilakukan secara langsung, seperti belajar dan berlatih tarian tradisional yang kemudian dipentaskan dalam acara tahunan atau festival.
B. Culture Knowledge: Pelestarian budaya dengan membuat pusat informasi kebudayaan yang dapat difungsikan untuk edukasi, pengembangan budaya, dan potensi kepariwisataan daerah.
Implementasi Kurikulum Merdeka dan Penanaman Wawasan Kebangsaan
Kurikulum Merdeka hadir sebagai jawaban atas memudarnya kearifan lokal. Kurikulum ini memberi keleluasaan bagi satuan pendidikan untuk menambahkan muatan lokal sesuai kearifan lokal daerahnya melalui tiga opsi:
1. Mengembangkan muatan lokal dengan memilih tema sendiri
2. Mengintegrasikan muatan lokal ke dalam seluruh tema
3. Melalui proyek penguatan profil pelajar Pancasila
Salah satu upaya penanaman wawasan kebangsaan sejak dini adalah dengan mengenalkan berbagai makanan khas Nusantara. Hal ini penting untuk memupuk rasa bangga dan cinta terhadap tanah air, yang merupakan cikal bakal rasa nasionalisme.
Di PAUD Gresik, anak-anak dapat dikenalkan dengan makanan khas daerahnya, yaitu "sego krawu". Kegiatan ini dapat dilakukan dalam puncak tema, dengan mengenalkan cara memasak dan merasakan cita rasa sego krawu.
Anak-anak juga dapat diajari nyanyian atau tepuk sego krawu untuk meningkatkan kecintaan mereka terhadap makanan tradisional dan kebanggaan terhadap sego krawu sebagai makanan khas Gresik.
Penulis : Norma Diana Fitri, M.Pd., Mahasiswa S3 Pendidikan Dasar Universitas Negeri Surabaya, Kepala Program Studi PG PAUD STKIP Bina Insan Mandiri surabaya (*/rir)
Editor : Hany Akasah