RADAR GRESIK - Gempa masih terus terjadi di Pulau Bawean. Untuk itu, Kementerian Agama (Kemenag) Gresik meminta agar sekolah tidak memaksakan melaksanakan Asesmen Madrasah seperti kondisi normal.
"Kami minta sesuaikan dengan kondisi di lapangan. Karena memang disana masih terjadi bencana gempa," ujar Kepala Kemenag Gresik Dr H Moh Ersat, M.HI.
Ia menjelaskan, kalau sesuai jadwal pelaksanaan asesmen madrasah tingkat MTS sudah dimulai sejak 22 April hingga 12 Mei mendatang.
"Untuk yang Gresik daratan karena kondisinya normal asesmen madrasah bisa dilakukan secara normal," ungkap Kepala Kemenag Gresik Dr H Moh Ersat, M.HI.
Sedangkan untuk di Bawean, karena kondisi bencana asesmen madrasah tingkat MTS baru akan digelar pada 6 Mei mendatang.
"Itu pun kami minta agar melihat kondisi di lapangan," terang Kepala Kemenag Gresik Dr H Moh Ersat, M.HI.
Kalau kondisi di lapangan memungkinkan bisa menggunakan sistem computer assisted test (CAT).
"Kalau tidak memungkinkan digelar dengan sistem CAT, bisa menggunakan sistem tulis," kata Kepala Kemenag Gresik Dr H Moh Ersat, M.HI.
Kalau memang sistem tulis juga tidak memungkinkan dilakukan, bisa dengan wawancara peserta didik.
"Kalau wawancara juga tidak bisa, maka sekolah bisa menggunakan portofolio penilaian siswa selama tiga tahun pendidikan," tandas Kepala Kemenag Gresik Dr H Moh Ersat, M.HI.
Menurut dia, asesmen madrasah memang wajib ada sebagai penentu kelulusan siswa kelas akhir.
"Hanya saja caranya lebih longgar. Melihat situasi dan kondisi di lapangan," terang Kepala Kemenag Gresik Dr H Moh Ersat, M.HI.
Ia menambahkan, untuk kelulusan siswa madrasah ditentukan oleh sejumlah pertimbangan selain asesmen madrasah.
"Mulai menyelesaikan seluruh mata pelajaran selama tiga tahun, berkelakuan baik hingga asesmen," imbuhnnya. (rof)
Editor : Fahtia Ainur Rofiq