RADAR GRESIK – Pulau Bawean tidak hanya menawarkan keindahan pantai, tetapi juga wisata edukasi yang kini menjadi primadona. Salah satunya adalah Wisata Konservasi Mangrove Hijau Daun yang terletak di Dusun Daun Laut, Desa Daun, Kecamatan Sangkapura.
Destinasi berbasis masyarakat ini sukses menarik perhatian ribuan pengunjung selama masa libur Lebaran 2026.
Keistimewaan tempat ini terletak pada kelestarian ekosistemnya. Tercatat ada 24 jenis mangrove beserta aneka ragam hayati yang terjaga dengan baik di atas lahan seluas 70 hektar.
Baca Juga: Dua Bupati Gresik Antar Kepergian Nurhamim, Kenang Sosok Pemikir dan Sahabat Perjuangan
Wisata yang mendapatkan pembinaan dari PLN Nusantara Power Bawean ini menawarkan fasilitas yang cukup lengkap bagi pengunjung yang ingin berinteraksi dengan alam. Mulai dari jogging track di tengah rimbunnya bakau, menara pandang, hingga perahu kano untuk menyusuri rawa.
Ketua Kelompok Mangrove Hijau Daun, Subhan, mengungkapkan bahwa antusiasme masyarakat sangat tinggi. Sejak dibuka pada H+3 hingga H+7 Lebaran, tercatat sekitar 1.800 pengunjung telah memadati lokasi ini.
"Pengunjung mulai dari anak-anak hingga orang tua. Kami buka setiap hari mulai pukul 08.00 hingga 16.30 WIB, kecuali hari Jumat," ujar Subhan.
Baca Juga: Laka Beruntun di Depan SPBU Tebaloan Gresik, Satu Pemotor Asal Lamongan Meninggal
Dari sekian banyak fasilitas, menara pandang tiga lantai setinggi 17 meter menjadi spot yang paling diminati. Dari ketinggian ini, wisatawan dapat memandang hamparan hijau hutan mangrove seluas 70 hektar yang memanjakan mata.
Selain pemandangan, daya tarik lainnya adalah integrasi pengelolaan lingkungan. Di sini, masyarakat mengelola langsung budidaya udang, kepiting, peternakan, hingga bank sampah.
Wisatawan juga bisa menikmati kuliner khas Bawean seperti nasi gulung, olahan rumput laut, hingga lobster dengan harga paket mulai Rp 250 ribu hingga Rp 500 ribu.
Baca Juga: Wujudkan Zero Narkoba, Karutan dan Seluruh Petugas Rutan Gresik Jalani Tes Urine Mendadak
Sebagai wisata berbasis konservasi, pengelola menyediakan paket khusus bagi instansi atau lembaga yang ingin belajar ekosistem pesisir. Dimana tiket untuk rombongan berkisar Rp 250.000 per lembaga, jasa pemateri ekosistem cukup tambahan Rp 100.000, edukasi olahan mangrove cukup Rp 500.000 per kelompok.
Subhan menekankan bahwa pengawasan dan perawatan hutan tetap dilakukan secara ketat meski sedang tidak ada pengunjung.
"Wisata konservasi itu, ada atau tidak ada pengunjung tetap ada pengawasan dan perawatan," tegasnya.
Baca Juga: Perkuat Transformasi Digital, PT Terminal Teluk Lamong Gembleng 30 Pegawai Lewat Pelatihan CTO
Najihah, salah satu pengunjung, mengaku terkesan dengan konsep yang diusung oleh Mangrove Hijau Daun. Menurutnya, berwisata di sini memberikan pengalaman berbeda karena kental dengan nilai edukasi.
"Ini wisata satu-satunya di Pulau Bawean yang kaya edukasi dan konservasi. Jadi serasa bersahabat dengan alam," ungkapnya puas.
Bagi Anda yang ingin berkunjung pada hari biasa atau hari libur non-lebaran, pengelola memberlakukan pembatasan kapasitas sebanyak 150 orang secara bergantian guna menjaga kenyamanan dan kelestarian ekosistem setempat. (jar/han)
Editor : Hany Akasah