Ekonomi & Bisnis Features Gaya Hidup Hukum dan Kriminal Jatim Kebo Giras Kesehatan Kota Gresik Moncer Seru Olahraga Pendidikan Peristiwa Person of The Year Pojok Perkoro

Manisnya Warisan Ramadhan di Gresik: Kolak Srikaya, Sang Primadona yang Hanya Hadir Setahun Sekali

Yudhi Dwi Anggoro • Senin, 23 Februari 2026 | 10:46 WIB

KOLAK SRIKAYA : Warga di Dusun Pesucinan, Desa Leran saat berburu takjil Kolak Srikaya yang di jual Fatimah di depan Rumahnya menjelang buka Puasa.
KOLAK SRIKAYA : Warga di Dusun Pesucinan, Desa Leran saat berburu takjil Kolak Srikaya yang di jual Fatimah di depan Rumahnya menjelang buka Puasa.

RADAR GRESIK - Setiap daerah memiliki cerita tersendiri tentang Ramadhan. Di wilayah Kecamatan Manyar, Gresik, terdapat satu sajian khas yang menjadi primadona menu berbuka puasa namun hanya muncul setahun sekali, yaitu Kolak Srikaya. Hidangan manis ini selalu dinanti warga sebagai pelengkap saat membatalkan puasa.

Sekilas, Kolak Srikaya tampak menyerupai bongko kopyor. Perbedaan mencolok terletak pada kemasannya; jika bongko biasanya dibungkus daun pisang, Kolak Srikaya disajikan dalam cup plastik.

Isinya sederhana namun menggugah selera, terdiri dari kuah santan manis yang lembut, selembar roti tawar yang mengapung di atasnya, taburan bubur mutiara, irisan pisang, serta sehelai daun pandan untuk memperkuat aroma.

Aroma santan yang berpadu dengan pandan menghadirkan wangi khas yang seakan menjadi penanda waktu berbuka.

Tekstur roti yang menyerap kuah santan, berpadu dengan kenyalnya mutiara dan lembutnya pisang, menciptakan sensasi rasa hangat yang nyaman di tenggorokan setelah seharian berpuasa.

Tradisi kuliner ini masih setia dijaga oleh Fatimah, warga Dusun Pesucinan, Desa Leran, Manyar, Gresik. Perempuan berusia 50 tahun dengan empat cucu ini mulai beraktivitas sejak pukul 14.00 WIB setiap harinya untuk menyiapkan bahan-bahan.

“Ini hanya disediakan saat bulan puasa saja. Selain disuguhkan untuk anak dan cucu di rumah, saya juga jual di depan rumah. Bulan-bulan lain ya nggak ada,” ujar Fatimah sembari meracik Kolak Srikaya di rumahnya.

Menurut Fatimah, proses pembuatan Kolak Srikaya tidaklah sulit karena bahan-bahannya mudah didapat di pasar. Untuk menghasilkan 12 porsi, ia membutuhkan satu buah kelapa untuk santan, 750 gram gula pasir, dua butir telur, dua liter air, serta pelengkap seperti pisang, daun pandan, roti tawar, dan bubur mutiara.

Meski sederhana, cita rasa tradisional ini memiliki daya tarik yang kuat. Setiap hari, Fatimah membatasi produksinya hanya sekitar 50 cup yang dijual dengan harga Rp 4.000 per cup.

“Hanya membuat 50 buah saja setiap harinya. Kebanyakan dibeli orang untuk berbuka puasa dan untuk takjil di masjid,” tuturnya.

Dalam berjualan di depan rumah, Fatimah dibantu oleh anaknya. Selain menu utama tersebut, ia juga menyediakan aneka gorengan seharga Rp 1.000 sebagai pelengkap takjil.

Di tengah gempuran makanan modern dan minuman kekinian, Kolak Srikaya tetap bertahan sebagai simbol kebersamaan dan kesederhanaan warga Manyar.

Sajian ini bukan sekadar menu berbuka, melainkan bagian dari warisan rasa yang terus menghangatkan suasana Ramadhan di Kota Santri. (yud/han) 

Editor : Hany Akasah
#srikaya #gresik #Ramadan #manyar #kolak #takjil