RADAR GRESIK - Kabupaten Gresik terpilih menjadi tuan rumah Biennale Jatim XI, pameran seni tahunan yang mengangkat tema unik, “Hantu Laut”. Acara ini berlangsung dari 24 Agustus hingga 20 September 2025 di dua lokasi: Pundak Galeri dan Sindujoyo Lumpur.
Pameran ini menampilkan karya 64 seniman dari berbagai komunitas, baik dalam maupun luar negeri, termasuk dari Jepang, Kazakhstan, Inggris, dan Prancis. Pengunjung dapat menikmati beragam karya seni, seperti lukisan, instalasi seni, video, film, dan performance art.
Tema “Hantu Laut” tidak merujuk pada sosok menyeramkan, melainkan pada perasaan "terhantui" yang dialami oleh para nelayan. Menurut Tody, perasaan ini muncul akibat dampak keberadaan pabrik-pabrik di wilayah pesisir yang mengganggu mata pencaharian dan kehidupan nelayan.
"Nama tema ini diambil dari perahu nelayan bernama “Cak Barok” yang melambangkan semangat juang dan perjuangan nelayan Gresik," terang Tody.
Diungkapkannya tema ini merupakan bagian dari tiga tema besar Biennale Jatim, yaitu urban, pesisir, dan pegunungan. Gresik dipilih sebagai lokasi untuk tema pesisir karena relevansi isu yang diangkat.
"Setiap akhir pekan, Biennale Jatim di Gresik menyelenggarakan berbagai program tambahan. Pada hari Sabtu, ada lokakarya dan pertunjukan seni, sementara pada hari Minggu digelar tur kuratorial dan pemutaran film," imbuhnya.
Kegiatan ini bertujuan membuka wacana seni kontemporer mengenai hubungan manusia dengan alam dan industri, serta bagaimana seni dapat menjadi media untuk kritik sosial dan refleksi budaya.
Pameran dibuka setiap hari dari pukul 10.00 hingga 21.00 WIB. Untuk membantu pengunjung memahami setiap karya, tersedia fitur scan barcode yang berisi informasi makna dan arti di balik karya seni tersebut.
Kehadiran Biennale Jatim ini menjadi momen penting bagi Gresik dalam memajukan seni kontemporer dan meningkatkan kesadaran publik terhadap isu-isu lingkungan. (sof/ale/han)
Editor : Hany Akasah