RADAR GRESIK - Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Disperpusip) Pemprov Jatim melakukan modernisasi untuk meningkatkan literasi di masyarakat. Salah satunya dengan penambahan koleksi buku fisik dan digital termasuk pengumpulan naskah kuno, pembangunan ruang-ruang representatif seperti inkubator literasi, gazebo literasi, co-working.
Bahkan, Disperpusip Jatim memiliki berbagai tempat podcast dan diskusi yang instagramable, serta rangkaian program jemput bola yang familier dengan berbagai segmen masyarakat, diantaranya mobil perpustakaan keliling (lestari), dongeng anak dan remaja keliling (darling).
Hal ini seperti yang disampaikan oleh Kepala Dinas Perpustakaan dan Pengarsipan Pemprov Jatim, Tiat S. Soewardhi, saat dikunjungi senator terpilih, Lia Istifhama, di kantornya, 11/9.
"PR kita adalah bagaimana masyarakat mau datang dan membaca serta menganggap perpustakaan bukan tempat gudang buku. Jadi berbagai langkah inovatif harus dilakukan dengan terus mengkolaborasikan aspek digital," jelas Tiat yang kemudian mengajak ning Lia, sapaan akrab Keponakan Gubernur Jatim 2019-2024 Khofifah Indar Parawansa, berkeliling melihat segala inovasi fasilitas Dispusip Jatim.
Lebih lanjut, perempuan asal bandung ini menjelaskan terkait fungsi literasi perpustakaan dalam melakukan transformasi sosial.
Istilah sekarang adalah TPBIS (Transformasi Perpustakaan Berbasis Ilmu Sosial), masyarakat datang, membaca serta dapat pengetahuan dan ketrampilan.
"Dari pengetahuan dan keterampilan itu bisa diimplementasikan dalam meningkatkan perekonomiannya," sambungnya.
Dispusip Jatim, menurutnya, juga terus memberikan sumbangsih nyata dalam pengembangan buku digital.
“Kami terus mengembangkan buku digital sehingga bisa diakses semua pihak, bukan hanya anak-anak sekolah, kuliah, tapi juga kelompok rentan seperti orang lanjut usia, wanita hamil, dan penyandang cacat atau disabilitas. Kami juga terus menyuplai buku bagi penghuni Lembaga Pemasyarakatan di Jatim.”
Tak ayal, apresiasi tinggi disampaikan Lia Istifhama selaku DPD RI terpilih jatim periode 2024-2029.
“Dulu saya kutu buku yang hampir setiap minggu dua sampai tiga kali ke Perpusda (Perpustakaan Daerah yang dinaungi Dispusip Jatim, red.). perubahan sangat drastid dengan segala fasilitas yang cozy dan menarik genzy. Ini tentu tidak mudah karena dunia literasi saat ini mengalami tantangan besar pasca perkembangan revolusioner digital.”
Doktoral UINSA yang dikenal sebagai penulis itu juga menyebut peran penting ‘Perpustakaan’.
Menurutnya, keberadaan perpustakaan sebagai institusi penjaga kekayaan pengetahuan dan pengetahuan budaya selama berabad-abad.
Saat ini, lanjut Lia Istifhama, dunia menghadapi tantangan baru yang memerlukan adaptasi yang cepat. Di tengah transformasi digital, perpustakaan pun dituntut mampu menavigasi serangkaian isu-isu tersebut untuk tetap relevan dan bermanfaat bagi masyarakat modern.”
“Oleh karena itu, rangkaian upaya inventif dan inovatif Dispusip sangat signifikan menarik preferensi masyarakat untuk berkunjung. Pengunjung yang datang pun tidak hanya dimanjakan oleh ketersediaan literatur yang komplit tapi juga diberikan kenyamanaan yang luar biasa. Ini tentu sangat penting sebagai stimulus kecintaan publik terhadap literasi," pungkasnya. (han)
Editor : Hany Akasah