Ekonomi & Bisnis Features Gaya Hidup Hukum dan Kriminal Jatim Kebo Giras Kesehatan Kota Gresik Moncer Seru Olahraga Pendidikan Peristiwa Person of The Year Pojok Perkoro

Sebuah Renungan tentang Jiwa Santri, Ilmu, dan Keteguhan Akhlak di Tengah Ujian Ponpes Al Khoziny

Hany Akasah • Kamis, 9 Oktober 2025 | 15:02 WIB
Lia Istifhama
Lia Istifhama

Penulis : Dr. Lia Istifhama, S.Sos.I., S.Sos., S.H.I., M.E.I

Anggota DPD/MPR RI

Proses evakuasi korban ambruknya Musala Pondok Pesantren Al-Khoziny di Buduran, Sidoarjo, telah usai. Total korban yang berhasil dievakuasi berjumlah 171 orang. Rinciannya 104 orang selamat, sedangkan 67 dinyatakan meninggal dunia, delapan di antarnya ditemukan body part atau potongan tubuh.

Namun tanah pesantren itu masih menyimpan getar getir yang tak terlukiskan. Di antara debu dan puing, tersisa aroma kesabaran, keikhlasan, dan doa yang tak pernah padam.


Al-Khoziny bukan sekadar pondok tua; ia adalah peradaban ilmu dan adab. Dari rahimnya lahir para ulama besar yang menanamkan warisan akhlak bagi Jawa Timur. Kini bangunannya mungkin runtuh, tetapi nilai-nilainya tetap tegak. Di balik dinding yang roboh, masih memancar cahaya yang tak bisa diruntuhkan cahaya moral dan akhlak santri yang tak lekang oleh ujian.

Mereka yang kehilangan atap, tidak kehilangan arah.
Mereka yang kehilangan kitab, tidak kehilangan hikmah.
Mereka yang kehilangan tempat tidur, tidak kehilangan rasa syukur.

Ketika sirene meraung dan debu menutup langit, di sana ada pemandangan yang mengguncang hati. Anak-anak bersarung, dengan kaki berdebu, tetap menegakkan kewajiban salat.

Haikal, salah seorang santri, bercerita bagaimana ia berusaha salat di bawah reruntuhan beton yang menindih tubuhnya.

“Ayo salat, ayo salat,” serunya kepada temannya. Dalam kegelapan, ia masih mendengar suara seseorang mengimami. Namun ketika Subuh menjelang, panggilannya tak bersahut lagi—sahabat di sampingnya telah kembali pada Sang Pemilik Jiwa.

Ada kisah santri yang menolak meminum air pemberian karena berkata lirih, “Itu bukan milikku.”


Ada yang mengumandangkan adzan di tanah lapang di antara puing, seolah menegaskan meski bangunan runtuh, iman tidak pernah tumbang. Dan beberapa di antaranya selamat dengan cara yang sulit dijelaskan logika, seakan ada tangan-tangan malaikat yang menjaga mereka di bawah timbunan batu dan seng.

Kisah Zidan, santri muda yang lolos dari maut berkat lubang kecil hasil kerja sama teman-temannya, menjadi salah satu yang paling menggetarkan. Putra Ahmad Zabidi ini sempat mengevakuasi lima orang sebelum akhirnya terjebak sendiri.

“Anak saya sempat bantu lima orang keluar,” tutur sang ayah, dengan mata berkaca. “Tapi setelah itu, dia bilang ke teman-temannya: ‘Sepurane yo, Rek. Aku wes gak isoh nolong.’ (Maaf ya, aku sudah tidak bisa menolong lagi.)”

Ucapan sederhana itu bukan sekadar permintaan maaf, melainkan cerminan adab luhur yang telah tertanam sejak dini: bahkan di ambang maut, ia masih memikirkan orang lain.

Kisah lain datang dari Alfatih, santri yang ditemukan masih bernapas setelah tiga hari tertimbun puing. Wajahnya terlindungi seng, dan tubuhnya nyaris tak bergerak. Saat sadar, ia berkata seperti “ditidurkan” tidak sesak, tidak takut. Ia bermimpi berada di jalan gelap, naik mobil pick up, dan minum air dari selang.

Ayahnya, Abdul Hanan, selama menunggu kabar sang anak, tak berhenti membaca Surat Al-Kahf. “Saya yakin ayat itu yang menjaganya,” ujarnya lirih. “Saya takut dia kehabisan energi kalau terus berteriak, jadi saya terus membaca doa,” tambah Hanan.

Para santri itu tidak menyalahkan siapa pun. Tidak ada amarah, tidak ada keluh. Hanya ucapan terima kasih kepada tim SAR, dan zikir lirih yang terus bergema. Nilai-nilai itu tidak diajarkan lewat kata, tapi lewat riyadhah dan keteladanan para kiai.

Dalam dunia modern yang gemerlap tapi kering rasa, peristiwa ini seperti tamparan sunyi bagi kita semua. Di saat moral sering dipinggirkan dan adab dianggap kuno, santri Al-Khoziny justru menunjukkan kecerdasan sejati tidak lahir dari kepala, melainkan dari hati.

Immanuel Kant pernah menulis moralitas sejati tidak diukur dari akibat, melainkan dari niat. Tindakan bermoral adalah tindakan yang dilakukan karena kewajiban moral itu sendiri. Maka ketika para santri tetap bersabar, tidak menuduh, dan menegakkan salat berjamaah di tengah reruntuhan, mereka sejatinya sedang menghidupkan moralitas itu dalam bentuk paling murni.

Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menegaskan, “Ilmu adalah pohon, dan adab adalah buahnya. Bila kau tanam tanpa berbuah, itu bukan ilmu, melainkan kesombongan.” Di Al-Khoziny, ilmu tidak berdiri sendiri. Ia berakar pada penghormatan kepada guru dan penghormatan kepada ilmu itu sendiri. Itulah sebabnya, bahkan ketika kitab mereka terkubur debu, nilai-nilai ilmu tetap berdenyut dalam perilaku.

Filsuf Prancis, Emmanuel Levinas, pernah mengatakan, “Wajah orang lain adalah seruan moral.”
Maka dalam wajah para santri Al-Khoziny berdebu, berair mata, namun tetap teduh dunia modern seharusnya bercermin. Mereka membantu bukan karena disorot kamera, menolong bukan karena pamrih, dan menahan diri bukan karena takut dihukum, tetapi karena rasa ihsan kesadaran Allah selalu melihat, bahkan ketika dunia berpaling.
Mereka menolak minum air yang bukan miliknya, karena adab terhadap hak orang lain telah mendarah daging. Mereka tetap berjamaah di tanah lapang, karena ukhuwah bukan sekadar teori, melainkan ruh yang menautkan satu hati dengan hati lain.

Ini bukan sekadar kisah heroik anak pesantren. Ini adalah cermin bagi kita semua. Barangkali, di luar pesantren, banyak dari kita yang kehilangan kesantunan dalam marah, kehilangan syukur dalam duka, kehilangan rasa malu dalam salah.

Reruntuhan fisik Al-Khoziny justru menegakkan kembali bangunan moral bangsa. Nietzsche pernah menyebut manusia modern membangun “gedung moralitas” yang rapuh karena fondasinya bukan keikhlasan, melainkan gengsi. Namun para santri Al-Khoziny membalikkan tesis itu. Di atas reruntuhan nyata, mereka membangun moralitas baru dengan bahan dasar ketulusan. Di kalangan kaum pondok pesantren diyakini santri itu tidak dibentuk oleh dinding, tapi oleh doa. Dan benar, doa-doa itulah yang kini menegakkan kembali Al-Khoziny di hati kita semua.

Ketika dunia sibuk mengukur kesuksesan dengan gelar dan angka, Al-Khoziny mengingatkan hakikat insan kamil manusia paripurna adalah mereka yang menyatukan ilmu dan adab, logika dan cinta, kepala dan hati. Mereka yang meninggal saat salat, saat mengaji dan menempuh ilmu dipastikan syahid.

Dari reruntuhan Al Khoziny, kita belajar generasi yang mungkin tak punya banyak fasilitas, tetapi memiliki kekayaan moral yang tak ternilai. Mereka tidak hanya menghafal ayat, tapi menghidupinya. Tidak hanya belajar akhlak, tapi menjelma menjadi akhlak itu sendiri.

Dan mungkin, dari tanah berdebu itu, sedang tumbuh akar peradaban baru yang kelak mengajarkan pada dunia bahwa reruntuhan bukan akhir dari pesantren, melainkan awal dari kebangkitan akhlak bangsa. (*)

Editor : Hany Akasah
#Santri #Ponpes #AKHLAK #Al Khoziny #sIDOARJO #ilmu