RADAR GRESIK – Gelombang demonstrasi besar-besaran yang dipimpin oleh "Generasi Z" mengguncang Nepal, berujung pada kerusuhan berdarah yang menyebabkan puluhan korban jiwa dan berujung pada runtuhnya pemerintahan.
Akibat tekanan massa, Perdana Menteri Sharma Oli dan Presiden Ram Chandra Paudel dilaporkan telah mengundurkan diri dari jabatan mereka pada Rabu (10/9/2025).
Demonstrasi yang dijuluki "Revolusi Gen Z" ini merupakan puncak dari kekecewaan mendalam masyarakat, terutama kaum muda, terhadap pemerintah. Akar permasalahan utamanya adalah maraknya korupsi dan nepotisme di kalangan elite politik yang dipertontonkan secara terang-terangan.
Kemarahan publik, khususnya kaum muda, memuncak saat melihat gaya hidup mewah anak-anak pejabat atau "nepo kids" yang dipamerkan di media sosial. Hal ini sangat kontras dengan kondisi ekonomi negara yang sulit, tingginya angka pengangguran, dan kurangnya jaminan sosial bagi jutaan warga Nepal.
Pemicu langsung kerusuhan adalah keputusan pemerintah untuk memblokir sejumlah platform media sosial seperti Facebook, Instagram, dan Twitter. Larangan ini dianggap sebagai upaya untuk membungkam kampanye anti-korupsi yang semakin gencar di dunia maya.
Awalnya berlangsung damai, demonstrasi yang diikuti ribuan pelajar dan mahasiswa ini berubah menjadi chaos. Bentrokan antara demonstran dan aparat keamanan tak terhindarkan.
Dilaporkan, sedikitnya 22 orang tewas dan lebih dari 100 orang terluka. Aparat merespons dengan gas air mata dan peluru tajam, sementara massa melakukan penjarahan dan pembakaran.
Gedung-gedung pemerintahan, termasuk gedung parlemen, markas besar Partai Kongres Nepal, serta rumah mantan perdana menteri dan politisi, menjadi sasaran amukan massa. Puncaknya, istri mantan Perdana Menteri Nepal, Jhalanath Khanal, Rajyalaxmi Chitrakar, dilaporkan tewas setelah rumah mereka dibakar.
Pengunduran diri Perdana Menteri dan Presiden menjadi akhir dari krisis politik ini, sekaligus membuka jalan bagi pembentukan pemerintahan baru.
Meskipun pemerintah telah mencabut larangan media sosial, gelombang protes belum sepenuhnya mereda. Situasi di Nepal masih mencekam, dan militer dikabarkan telah mengambil alih kendali di sejumlah wilayah untuk memulihkan ketertiban. (ale/han)
Editor : Hany Akasah