RADAR GRESIK - Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah (PDA) Kabupaten Gresik menyemarakkan Milad ke-108 dengan fokus pada ketahanan pangan berbasis desa dan pemberdayaan perempuan.
Mengusung tema “Memperkokoh Ketahanan Pangan Berbasis Desa Qaryah Thayyibah Menuju Ketahanan Nasional,” serangkaian kegiatan digelar sebagai bukti nyata gerakan perempuan Muhammadiyah dalam menjawab tantangan zaman.
Rangkaian kegiatan Milad diawali dengan penyuluhan dan pelatihan untuk Kelompok Wanita Tani ‘Aisyiyah (KWTA) pada 5–6 Juli 2025. Program ini dilaksanakan oleh Lembaga Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana (LLHPB) PDA Gresik yang bekerja sama dengan Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Gresik (UMG) dan Dinas Pertanian Kabupaten Gresik.
Berlangsung di dua lokasi, Pimpinan Cabang ‘Aisyiyah (PCA) Panceng dan PCA Dukun, pelatihan diikuti oleh lebih dari 100 peserta. Para peserta diajarkan cara memanfaatkan pekarangan rumah untuk menanam sayur, buah, tanaman obat keluarga (TOGA), serta teknik pengolahan pangan, seperti pembuatan keripik, abon, dan jamu.
“Kegiatan ini menjadi wujud nyata kontribusi ‘Aisyiyah dalam memperkuat ketahanan pangan keluarga melalui pemberdayaan perempuan,” ujar Ketua PDA Gresik, Innik Hikmatin, S.Pd., M.Pd.I.
Dalam rangka perayaan Milad, PDA Gresik menggelar serangkaian lomba, yang seluruh hasil karyanya telah dibukukan menjadi tiga buku. Lomba pertama adalah Lomba Makanan Tradisional pada 13 Juli 2025 di Gedung Dakwah Muhammadiyah (GDM), diikuti oleh 16 cabang ’Aisyiyah se-Kabupaten Gresik.
Selanjutnya, pada 15 Juli 2025, diadakan lomba menulis cerita anak dan karya tulis ilmiah permainan tradisional yang diikuti oleh seluruh peserta Ikatan Guru Aisyiyah Bustanul Athfal (IGABA).
Tim juri yang terdiri dari Muslimah, Budayawan Samsul Arif, dan ahli gizi Sitta Ellen Nuraningtyas menobatkan Kue Bikang Pandan (PCA Sidayu) sebagai juara pertama, Bubur Masin (PCA Gresik) sebagai juara kedua, dan Enci (PCA Ujung Pangkah) sebagai juara ketiga.
“Lomba ini bertujuan melestarikan kuliner tradisional yang memiliki nilai sejarah dan filosofi tinggi dan olahan Kue Bikang Pandan akan mewakili PDA Gresik di ajang tingkat wilayah Jawa Timur,” ujar Innik.
Puncak perayaan Milad ke-108 Aisyiyah berlangsung pada Sabtu (2/8) di Gedung Dakwah Muhammadiyah dihadiri oleh 425 tamu, termasuk organisasi wanita, Sesepuh ‘Aisyiyah, Hj.Nur Sa’adah Bisri dan Ibu Sri Uchtiawati dan Pewakaf bangunan rumah Noor Azizah dan dr.Nur Chudaifah, Ketua PD Muhammadiyah Gresik H. Muhammad Thoha Mahsun, Ketua Pimpinan Wilayah Aisyiyah (PWA) Jatim, Dra. Rukmini Amar M.A.P. bersama Dra.Siti Dalilah Candrawati, M.Ag. selaku Pendamping wilayah kerja Surabaya Raya. Asisten Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Gresik Suprapto A.P., M.Si. yang mewakili Bupati Gresik, serta Dra. Latifah Iskandar selaku Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah yang juga menyampaikan tausiyah dengan topik utama penguatan pangan berbasis desa.
“Ketahanan pangan bukan hanya soal produksi, tetapi juga menyangkut stabilitas serta pemanfaatan pangan secara optimal. Oleh karena itu, Pemerintah Kabupaten Gresik berharap ‘Aisyiyah dapat berperan aktif dalam memperkuat ketahanan pangan daerah yang pada akhirnya akan berkontribusi terhadap peningkatan ketahanan pangan nasional. Kami juga menekankan pentingnya sinergi antara Aisyiyah dengan Pemerintah Kabupaten Gresik yang diharapkan terus terjalin dengan baik, demi mewujudkan Indonesia yang berdaulat, mandiri, dan berkepribadian,” jelas Suprapto.
Momentum ini juga dimanfaatkan untuk meluncurkan program Gerakan Aisyiyah Pilah Sampah (KAPAS), pementasan mini opera “Dari ‘Aisyiyah untuk Negeri”, penyerahan SK Kepala PAUD, serta penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) dan MoU antara PDA Gresik dengan sejumlah OPD, seperti Dinas Pertanian, Dinas Kesehatan, KBPPPA, Dinas Lingkungan Hidup, dan LazisMu.
Sebanyak 21 kelompok pemberdayaan terbentuk, terdiri dari 11 Kelompok Wanita Tani (KWTA) PCA Dukun dan 8 KWTA serta 2 Kelompok Wanita Nelayan (KWNA) PCA Panceng. Masing-masing kelompok beranggotakan 10 orang yang memanfaatkan lahan kosong untuk budidaya pangan bergizi dan tinggi protein, guna mendukung upaya penurunan angka stunting di Kabupaten Gresik.
Rangkaian Milad ke-108 ini membuktikan bahwa Aisyiyah bukan hanya organisasi perempuan berbasis keagamaan, tetapi juga motor penggerak pembangunan sosial berbasis komunitas dan kemandirian desa.
“Aisyiyah memiliki program kemandirian ekonomi yang mengajarkan ibu-ibu mengatur keuangan keluarga. Dengan memanfaatkan lahan dan menanam sendiri, anggaran belanja keluarga dapat berkurang secara otomatis. Perempuan adalah tiang negara. Jika perempuan tidak dididik, maka negara akan hancur. Insya Allah, perempuan siap dididik menjadi tiang negara di bawah bimbingan tiang jaler,” pungkas Rukmini Amar. (nov/han)
Editor : Hany Akasah