RADAR GRESIK - Di balik hiruk pikuk kawasan industri yang membentang, Kabupaten Gresik menyimpan daya tarik tersendiri yang tak hanya memikat para pekerja pabrik. Buktinya terpampang jelas di kantor Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dispendukcapil) Gresik. Setiap harinya, puluhan wajah baru dengan berkas-berkas di tangan mengantre.
Bukan sekadar mencari surat keterangan domisili sementara, melainkan Kartu Tanda Penduduk (KTP) baru beridentitas Gresik. Sebuah fenomena pergerakan populasi yang menarik untuk diulik.
Kepala Disdukcapil Gresik, Muhammad Hari Syawaludin mengatakan, fenomena yang orang luar Gresik tinggal di Kabupaten Gresik. Dari klarifikasi pindah datang selama bulan Januari hingga Maret 2025 sebanyak 6.090 dan klarifikasi pindah keluar sebanyak 4.656.
"Grafik warga luar Gresik yang memutuskan untuk tinggal di sini terus menunjukkan peningkatan," ungkap Sriyanto, Kepala Bidang Pengelolaan Informasi Administrasi Kependudukan Disdukcapil Gresik, sembari menunjukkan data yang tertera di layar komputernya.
Angka berbicara lantang, selama tiga bulan pertama tahun 2025, tercatat 6.090 jiwa melakukan pindah datang ke Gresik, jauh melampaui angka pindah keluar yang hanya 4.656 jiwa. Sebuah selisih signifikan yang mengindikasikan daya serap Gresik terhadap penduduk dari luar wilayah.
Fenomena ini bukan sekadar tren musiman. Sriyanto menjelaskan perpindahan domisili ini telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2006 yang kemudian diubah menjadi UU Nomor 24 Tahun 2013 tentang Administrasi Kependudukan. "Mereka yang datang ini bukan lagi sekadar pekerja non-permanen yang melapor setiap tahun. Mereka benar-benar memindahkan status kependudukannya ke Gresik," tegasnya.
Lantas, apa yang membuat Gresik begitu memikat? Tentu saja, keberadaan sejumlah perusahaan besar menjadi salah satu faktor utama. Gelombang rekrutmen tenaga kerja secara tidak langsung menarik orang-orang dari berbagai daerah untuk mengadu nasib di "Kota Pudak" ini. Namun, daya tarik Gresik tampaknya meluas, menjangkau mereka yang ingin mencari hunian yang lebih terjangkau di sekitar ring satu kawasan industri.
"Dari data yang kami lacak, banyak dari pendatang ini yang sudah memiliki alamat permanen di Gresik. Bukan lagi sekadar tinggal di kos atau kontrakan, tapi mereka membeli atau membangun rumah sendiri, terutama di wilayah Driyorejo dan Menganti," beber Sriyanto.
Kedua kecamatan ini menjelma menjadi "rumah kedua" bagi ribuan pendatang yang mencari keseimbangan antara pekerjaan di Gresik dan kualitas hidup yang lebih baik. Namun, ada satu wilayah yang menarik perhatian Dispendukcapil Gresik, yaitu Manyar. "Di daerah Manyar ini yang sedikit berbeda. Mereka banyak menempati di desa-desa, terutama di wilayah Sidomukti atau Mengare yang notabene ring satu industri. Ada kehati-hatian tersendiri dari pihak desa terkait administrasi kependudukan," jelas Sriyanto, mengisyaratkan adanya dinamika sosial yang unik di wilayah tersebut.
Menariknya, Dispendukcapil Gresik sendiri tidak memberikan batasan atau persyaratan tambahan di luar ketentuan pusat terkait proses pindah domisili. "Persyaratannya standar, seperti KTP asal dan surat pindah. Kami tidak seperti Surabaya yang mungkin lebih detail dengan koordinat dan struktur RT/RW," imbuhnya.
Data perpindahan penduduk juga mengungkap asal-usul para "warga baru" Gresik ini. Surabaya menjadi penyumbang terbesar dengan 223 jiwa, disusul Sidoarjo (75 jiwa) dan Lamongan (78 jiwa). Sementara itu, peta persebaran mereka di Gresik menunjukkan Menganti menjadi primadona dengan 214 pendatang, diikuti Manyar (175 jiwa), Kebomas (169 jiwa), dan Driyorejo (156 jiwa).
Lebih dari sekadar mencatat perpindahan penduduk, Disdukcapil Gresik memiliki peran yang lebih strategis. "Data pindah datang dan keluar, serta data kematian, akan kami laporkan secara berkala kepada Dinas Kesehatan. Ini penting untuk memvalidasi data peserta BPJS Kesehatan yang ditanggung oleh Kabupaten Gresik," pungkas Sriyanto, menunjukkan bahwa dinamika kependudukan ini memiliki implikasi yang luas bagi perencanaan dan pelayanan publik di Gresik.
Fenomena "Magnet Gresik" ini bukan hanya sekadar angka statistik. Di balik setiap formulir permohonan KTP baru, tersimpan kisah tentang harapan, mimpi, dan keputusan untuk membangun masa depan di tanah yang baru. Gresik, dengan segala daya tariknya, kini bukan hanya menjadi tumpuan ekonomi, tetapi juga rumah bagi ribuan hati yang mencari kehidupan yang lebih baik. Dan kantor Disdukcapil menjadi saksi bisu, denyut nadi perubahan demografi yang sedang berlangsung di Kabupaten Gresik. (jar/han)
Editor : Hany Akasah