RADAR GRESIK - Riuh rendah suara tawa dan sapaan hangat berbaur dengan aroma gurih opor ayam dan lontong di Desa Pekauman. Delapan hari pasca Idul Fitri, bukan berarti euforia Lebaran telah usai. Justru, inilah puncak perayaan bagi masyarakat Pekauman, sebuah tradisi unik yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Bagi sebagian besar masyarakat Jawa, tradisi kupatan memang menjadi penutup rangkaian perayaan Lebaran. Namun, di Pekauman, ada sentuhan sejarah dan filosofi mendalam yang membuat tradisi ini terasa istimewa.
Menurut Bairi (72), sesepuh desa yang menyimpan rapat cerita masa lalu, TKP ini bermula dari Kiai Baka, seorang tokoh agama yang diyakini sebagai keturunan Rasulullah SAW ke-26 dari jalur Sayyidina Husein.
"Dulu, Kiai Baka memerintahkan para santrinya untuk melanjutkan puasa sunnah selama enam hari setelah Hari Raya Idul Fitri. Baru pada hari kedelapan, beliau mengumpulkan mereka untuk menikmati hidangan kupat dan lauk pauk yang beragam," tutur Bairi dengan mata berbinar, seolah mengulang kembali kisah yang telah melekat di benaknya.
Lebih dari sekadar berkumpul dan menyantap hidangan lezat, Kupatan Pekauman menyimpan makna simbolis yang kaya. Salah satu ciri khasnya adalah "kupat lepet," ketupat yang dibelah dua dan diisi dengan urap-urap serta uang logam. Filosofinya sungguh mulia yakni mendidik anak-anak untuk gemar bersedekah.
"Setelah dibagikan kepada warga, terutama anak-anak, mereka akan menemukan uang di dalam kupat lepet. Ini adalah cara Kiai Baka menanamkan nilai berbagi sejak usia dini," jelas Bairi. Harapannya sederhana namun mendalam, "Mudah-mudahan generasi penerus kita bisa meneruskan nilai-nilai baik ini," jelasnya.
Di tengah ramainya tradisi unjung-unjung (silaturahmi dari rumah ke rumah) yang menjadi bagian tak terpisahkan dari TKP, hadir sosok istimewa: Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani. Beliau tampak larut dalam kehangatan suasana, menikmati hidangan ketupat di salah satu rumah warga Kauman sambil menyapa dan bersilaturahmi dengan masyarakat.
Gus Yani, sapaan akrabnya, tak hanya sekadar hadir. Beliau melihat Kupatan Pekauman sebagai warisan budaya yang sangat berharga dan harus terus dilestarikan. Bahkan, beliau berbagi cerita unik yang berkembang di masyarakat setempat.
"Ada cerita menarik di sini, 'Nek loro panas pusing dan hadir di Kauman makan ketupat langsung waras' (Kalau sakit panas pusing dan hadir di Kauman makan ketupat langsung sembuh). Ini menunjukkan keyakinan dan optimisme masyarakat terhadap tradisi ini," ungkap Gus Yani dengan nada antusias.
Lebih lanjut, Bupati muda ini menegaskan komitmennya untuk mendukung pelestarian tradisi-tradisi luhur seperti Kupatan Pekauman. "Kita sebagai generasi muda memiliki tanggung jawab untuk terus menjaga dan melestarikan tradisi budaya yang sangat mulia ini. Mudah-mudahan kita semua diberikan umur panjang oleh Allah SWT," pungkasnya.
Kupatan Pekauman bukan sekadar pesta kuliner setelah berpuasa Syawal. Ia adalah perpaduan sejarah, nilai-nilai luhur, dan kebersamaan yang terjalin erat dalam anyaman janur. Jejak Kiai Baka tetap terasa kuat, mengajarkan tentang berbagi dan mempererat tali silaturahmi.
Di tengah modernitas yang terus menggerus tradisi, Kupatan Pekauman di Desa Pekauman tetap berdiri tegak, menjadi pengingat akan kekayaan budaya dan kearifan lokal yang patut dijaga dan diwariskan. (jar/han)
Editor : Hany Akasah