Ekonomi & Bisnis Features Gaya Hidup Hukum dan Kriminal Jatim Kebo Giras Kesehatan Kota Gresik Moncer Seru Olahraga Pendidikan Peristiwa Person of The Year Pojok Perkoro

Asal Usul dan Hindari Rute Jalan Ini di Gresik Selama Puncak Tradisi Rebo Wekasan di Desa Suci

Hany Akasah • Selasa, 3 September 2024 | 17:10 WIB

 

TRADISI REBO WEKASAN: Warga mulai menerima tamu selama kegiatan Rebo Wekasan.
TRADISI REBO WEKASAN: Warga mulai menerima tamu selama kegiatan Rebo Wekasan.

RADAR GRESIK-Warga Suci Kecamatan Manyar Kabupaten Gresik menyemarakkan tradisi Rebo Wekasan dengan berbagai rangkaian acara yang berlangsung mulai hari ini (3/9/2024) hingga Rabu (4/9/2024).

Kegiatan itu, akan dilakukan pengalihan Jalan KH Syafii pada Selasa (3/9) mulai pukul 14.00 WIB sampai Rabu (4/9) pukul 14.00 WIB (kondisional).

Rangkaian acara Rebo Wekasan sebenarnya sudah dimulai Minggu (1/9), pukul 05.00-16.00 WIB akan digelar Khotmil Alquran di Pendopo Desa Suci serta seluruh musala/masjid di wilayah Desa Suci.

Pada Senin (2/9), pukul 05.00-16.00 WIB, juga kembali dilaksanakan Khotmil Alquran di Masjid Mambaut Thoat. Senin (2/9) malam, pukul 19.00 WIB, akan diselenggarakan Kirab Tumpeng Agung. Rutenya dari Pendopo Desa ke Masjid Mambaut Thoat.

Kirab itu menjadi salah satu agenda menarik yang mengundang banyak pengunjung dari berbagai daerah. Tumpeng yang dikirab berukuran raksasa.

Selanjutnya, pada Selasa (3/9), mulao pukul 18.00 WIB, ada pembacaan Ratib bertempat di Masjid Mambaut Thoat. Kemudian, pukul 24.00 WIB, warga bersama-sama akan melaksanakan salat malam.

Sementara itu, Pasar Rakyat yang biasa menjadi destinasi hiburan para pengunjung digelar pada Selasa (3/9) mulai pukul 12.00 sampai 24.00 WIB dan Rabu (4/9) mulai pukul 08.00 WIB hingga 14.00 WIB, bertempat di lapangan Desa Suci dan sepanjang Jalan KH Syafii.

Sejumlah versi cerita ikhwal tradisi Rebo Wekasan. Dikutip dari laman dinas pariwisata dan kebudayaan (disparbud) Gresik, Rebo Wekasan adalah tradisi sedekah bumi berupa selamatan di sekitar telaga Desa Suci. Kegiatan ini dilakukan setiap hari Rabu terakhir di bulan Safar.

Dari cerita tutur, pada hari Rabu terakhir bulan Safar itu, Tuhan mengabulkan permintaan warga Dusun Sumber, Desa Suci. Mereka telah lama menantikan sumber air guna mencukupi kebutuhan sehari-hari. Akhirnya, sumber air itu dapat ditemukan. Nah, pada malam Rabu akhir bulan Safar itu, warga kemudian mengadakan tasyakuran atau selamatan.

Lain lagi dari Buku Grisse Tempo Dulu karya Dukut Imam Widodo yang diterbitkan Pemkab Gresik, Rebo Wekasan adalah sebuah upacara unik yang hanya ada di Desa Suci. Wekas berasal dari evolusi kata pamungkas.

Konon, Sunan Giri memerintahkan salah seorang santrinya yang menonjol dan memiliki jiwa kepemimpinan kuat untuk menyiarkan agama Islam di sekitar perbukitan yang agak jauh dari wilayah Giri. Daerah yang dipilih adalah Desa Pelaman, sebuah bukit kapur yang tandus dan gersang.

Langkah pertama yang dilakukan santri Sunan Giri adalah mendirikan masjid di Desa Pelaman. Warga di daerah perbukitan tandus itu tentu sudah mengenal siapa itu Sunan Giri. Warga pun membantu mendirikan masjid. Bahkan, banyak yang di antara mereka memeluk agama Islam.

Tiba-tiba saja di Desa Pelaman terjadi musibah. Terjadi kemarau panjang. Sebetulnya, warga setempat sudah terbiasa menghadapi kondisi alam yang gersang dan tandus. Musim kemarau saat itu jauh lebih panjang.

Perlahan-lahan sumber air di wilayah itu mengering. Banyak tumbuhan layu. Warga dan hewan ternak kehausan sepanjang hari. Sumur di masjid Desa Pelaman ikut mengering.

Sang santri keadaan Desa Pelaman. Akhirnya, Sunan Giri mengunjungi Desa Pelaman bersama sejumlah santrinya. Setiba di Masjid Pelaman, Sunan Giri melihat sumur masjid yang mengering itu. Sunan Giri memberikan petunjuk bahwa beberapa ratus meter tidak jauh dari masjid, terdapat sumber yang sangat besar.

Singkat cerita, apa yang dikatakan Sunan Giri adalah benar. Santri dan para pengikutnya menemukan sumber air di wilayah tersebut. Warga pun bersuka ria ketika menemukan air.

Lalu, Sunan Giri memerintahkan sejumlah santrinya untuk membuat tiga buah kolam besar untuk padusan atau tempat pemadian. Satu khusus untuk laki-laki, satu untuk perempuan, dan satu lagi untuk keperluan ternak.

Kabar penemuan sumber air baru itu juga menyebar kemana-mana. Sumber air itu pun didatangi banyak orang. Masjid yang semua didirikan di Desa Pelaman, akhirnya dipindah juga ke tempat tersebut. Sejak itu, perkampungan tersebut dinamakan Sumber hingga sekarang. Menurut penanggalan Jawa, hari diketemukannya sumber dan juga selesainya pembangunan masjid jatuh pada hari Rabu pungkasan di bulan Safar.

Begitu berartinya sumber air, akhirnya warga merasa perlu untuk mengadakan tasyakuran. Wujud rasa syukur kepada Allah yang telah melimpahkan RahmatNya.

Sejak saat itu, konon Sunan Giri juga berpesan agar setiap tahun di bulan Safar, pada tengah malam Rabu pungkasan, diadakan tasyakuran.

Masyarakat pun mematuhi wejangan itu dan berlangsung hingga sekarang. Selain mengadakan tumpengan, juga mengadakan salat sunnah bersama-sama. Warga setempat juga menyajikan makan khusus berupa lontong bumbu ladan, serabi, hingga beberapa makanan khas lainnya. (han)

Editor : Hany Akasah
#tumpeng #Tradisi #gresik #rebo wekasan #manyar #Safar #sunan giri