RADAR GRESIK, Jamu Iboe. Dua kata yang cukup melegenda. Hampir setiap generasi mengenalnya. Jamu Iboe pertama kali dikenalkan pada tahun 1910 di Jl. Ngaglik 3-5 Surabaya.
Hingga sekarang Jamu Iboe terus berinovasi dan beradaptasi agar bisa diterima pada setiap generasi.
“Sekarang sudah satu abad dan masuk generasi ke empat. Kami terus berinovasi dan beradaptasi dari generasi ke generasi,” kata Stephen Walla, Direktur Utama PT Jamu Iboe Jaya, Senin (15/7).
Jamu, lanjutnya, bukan produk yang asing di Indonesia. Jamu sudah dikenal sejak jaman dulu.
Hanya dulu jamu dikonsumsi untuk kalangan tertentu saja. Untuk keluarga besar keraton.
Di setiap generasi jamu menghadapi tantangan yang berbeda. Sekarang, tantangan terberat industri jamu adalah bagaimana mengubah persepsi dan tetap bisa beradaptasi.
Sebab dikalangan anak muda, jamu masih dipersepsikan pahit dan kuno. Sehingga regenerasi konsumen, penjual bahkan industrinya bisa macet.
“Karena itu, sejak beberapa tahun lalu, kami membuat project regenerasi konsumen. Kami kembangkan produk yang sesuai dengan target market yang baru, anak-anak muda” tambahnya.
Produk baru tersebut harus sesuai dengan target market khususnya Gen-Z dan milenial mulai rasanya, kemasanya, cara menjualnya, cara komunikasinya dan tempat menjualnya.
Untuk itu, Jamu Iboe aktif membuka booth diberbagai tempat yang banyak dikunjungi masyarakat terutama kalangan muda seperti di foodcourt, kampus, mall dan juga rumah sakit.
Bahkan Jamu Iboe juga membuat flagship store pertama, Iboe Griya Herba di Jl. Gubeng Surabaya. Konsepnya dibikin seperti Café modern yang instagramable agar persepsi akan jamu bisa berubah.
“Kalau mau lihat produk Jamu Iboe lengkap ya di Iboe Griya Herba. Tapi kalau mau lihat jamu seduh yang kuno bisa dilihat di Ngaglik. cikal bakal Jamu Iboe sejak 1910,” ujarnya.
Sementara itu, Perry Angglishartono, Product Group Manager Jamu Iboe, menambahkan, untuk menjaga keberlanjutan konsumen agar produknya bisa tetap relevan di setiap jaman, Jamu Iboe terus melakukan inovasi dan adaptasi, baik dari sisi produk, cara menjual dan cara komunikasinya.
Selain memproduksi jamu seduhdan kapsul, Jamu Iboe juga membuat produk Iboe Natural Drink. Hal ini untuk mengubah persepsi terutama generasi muda.
Dikemas layaknya minuman kekinian, Iboe Natural Drink memiliki varian rasa seperti Kulit Manggis, Temulawak, Kunyit Asam, Beras Kencur, Lidah Buaya, Jahe, Rosella.
Selain disajikan dengan langsung diseduh, Iboe Natural Drink juga bisa disajikan dalam bentuk mix jus seperti Green Tamarind, Manggis Sunset, Temulawak Mato, dan lain-lain.
Juga disajikan dengan campuran kopi dan teh seperti Ginger Mocca, Matcha Latte, Aloe Vera Tea, dll yang tersedia di booth-booth Iboe Herbal Bar di Mall, Kampus, Rumah sakit, dan lain-lain.
Iboe Natural Drink tidak hanya dijual secara offline (Toko obat, apotek, dan supermarket) namun juga masuk e-commerce seperti Shopee, Tokopedia, Blibli, Lazada, Tik Tok, Instagram.
Jamu Iboe juga masuk ke hotel, café dan restaurant. Bahkan aktif di Media sosial menggandeng banyak infuencer dan endorser.
“Itu beberapa upaya yang kami lakukan untuk me-regenerasi konsumen supaya Jamu Iboe bisa diterima market yang lebih muda. Dengan begitu produk Jamu Iboe tetap relevan di setiap jaman,” tutup Perry. (fix)
Editor : Hany Akasah