RADAR GRESIK-Tidak semua habib atau habaib hadir dalam ziarah, haul atau pengajian di Walisongo, atau tokoh ulama nusantara. Begitupula dengan kiai atau santri mengidolakan maupun menjadi jamaah habib.
Namun, fenomena penyatuan kiai, ulama, santri dan habib terlihat di Haul Habib Abu Bakar Assegaf Gresik setiap kali haulnya.
Dalam struktur pengurusan, tidak banyak dari kalangan habaib. Tetapi para habaib ini menjaga dari belakang. Jika ada isu-isu penting, merekalah yang diminta nasihatnya.
Hormat kepada habaib merupakan ajaran dalam tradisi NU. Ajaran ini begitu lekat. Mereka saling menguatkan dalam dakwah. Sampai-sampai tidak sedikit terjalin hubungan kekerabatan karena pernikahan.
Sebagaimana termaktub dalam turats-turats banyak riwayat yang menganjurkan untuk memperhatikan kepada anak cucu Nabi Saw.
Karena itu dalam setiap ada majelis, para kiai enggan memimpin doa kalau ada ulama habaib di situ.
Tradisi NU sejak awal berdiri dan berbasis di pesantren itu memang dikenal kental dengan ajaran adabnya.
Para santri pun hormat pada anak kiai. Apalagi terhadap anak cucu Nabi Saw.
Jika ada yang tidak hormat kepada ulama habaib, maka itu bukan ciri NU. Pernyataan oknum itu dan pendukungnya sudah menunjukkan perlu upaya-upaya edukatif untuk generasi muda untuk mencontoh para kiai pendahulunya.
Karena itu, banyak putra-putra Kiai NU yang belajar ke Yaman, Mesir, Maroko, Makkah dan Madinah.
Pendiri NU juga alumni Makkah. Hadratus Syaikh KH Hasyim Asyari meninggalkan Indonesia bertahun-tahun untuk belajar di Masyayikh dan Habaib di Makkah.
Namun sejak PBNU memviralkan konsep “Nusantara”, mulai ditemukan anak-anak muda NU yang kurang suka hal-hal yang berbau Arab. Entah apa yang didoktrinkan, tetapi yang jelas mereka jadi sombong dan merendahkan negara-negara Arab karena sedang perang.
Namun, hal itu tidak terlihat saat haul Habib Abu bakar Assegaf di Gresik. Hal Habib Abu Bakar Assegaf di Gresik seperti momentum kumpulnya para kiai, ulama dan habaib berkumpul. Habib Abu Bakar Assegaf sebagai simbol penyatuan ulana nusantara dan habaib.
Mengutip Laduni.id, pada 1293 H saat usianya menginjak 8 tahun, Habib Abu bakar berangkat ke Hadramaut, Yaman untuk menimba ilmu di sana. Belajar ke Tanah Para Waliyullah itu merupakan permintaan nenek dari pihak ibunya, Fathimah binti Abdullah 'Allan.
Selama di Hadramaut, Habib Abu Bakar berguru ke beberapa ulama terkemuka seperti Habib Abdullah bin Umar Assegaf (pamannya), Habib Syeikh bin Umar bin Segaf Assegaf, Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi (penulis Maulid Simtudduror), Habib Abdurrahman bin Muhammad Al-Masyhur (mufti di Hadramaut pada zaman itu), dan lainnya.
Selain berguru, Habib Abu Bakar gemar berziarah mengunjungi makam para ulama salaf. Kebiasaan itu terus dilakukan hingga beranjak dewasa.
Baginya, ulama salaf mendapatkan kedudukan yang tinggi karena selalu memanfaatkan waktunya untuk belajar, beribadah, dan bermunajat kepada Allah SWT.
Bertahun-tahun belajar di Hadramaut, Habib Abu Bakar pulang ke Indonesia pada 1302 H dengan ditemani Habib Alwi bin Segaf Assegaf. Ia sempat menetap di Besuki untuk memperdalam ilmu agama yang diperoleh dari Hadramaut.
Selama tiga tahun ia habiskan waktunya di Besuki. Pada 1305 H ia berpindah ke Gresik di usia 20 tahun.
Selama berpindah ke Gresik Habib Bakar mengunjungi para ulama dan auliya zaman itu. Ia belajar, meminta ijazah, atau berkah kepada para ulama salaf pada zaman itu.
Di antara ulama salaf tersebut adalah Habib Abdullah bin Muhsin al-Attas Empang Bogor, Habib Abdullah bin Ali al-Haddad Bangil, Habib Ahmad bin Abdullah al-Attas Pekalongan, Habib Abu Bakar bin Umar bin Yahya Surabaya, dan masih banyak lagi.
Setelah bertahun-tahun menimba ilmu agama, Habib Abu Bakar kerap didatangi orang-orang dari berbagai penjuru.
Rumahnya tak pernah sepi dari tamu dengan bermacam-macam tujuan. Ada yang sekadar berkunjung, meminta doa, bahkan meminta solusi melalui Habib Abu Bakar.
Habib Abu Bakar pernah melakukan khalwat selama kurang lebih 15 tahun. Khalwat adalah aktivitas menyepi meninggalkan duniawi dan hanya beribadah kepada Allah SWT.
Setelah itu, kewalian Habib Abu Bakar tak diragukan lagi. Bahkan, para ulama di Indoensia telah membuktikan kewalian Habib Abu Bakar yang berada di tingkatan tertinggi dari para wali lainnya.
Bahkan, Habib Abu Bakar pernah bertemu Rasulullah SAW secara langsung. Karena kewaliannya, Habib Abu Bakar mendapat julukan Al Qutb atau pimpinan para wali.
“Benar adanya bahwa saudaraku Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf adalah sebuah mutiara dari keluarga Assegaf, keluarga yang memiliki derajat paling tinggi di antara lainnya,” kata Habib Muhammad Al-Muhdhor.
“Habib Abu Bakar adalah raja dari para Auliya’, barang siapa yang memandang Habib Abu Bakar terhitung ibadah,” kata Habib Ali bin Abdurrahman Al-Habsyi Kwitang Jakarta sambil berlinangan air mata di depan semua orang.
Sebagai jalan dakwah, Habib Abu Bakar mendirikan Majelis Rouhah. Majelis taklim ini adalah majelis pertama kali yang berdiri di Gresik. Majelis ini kerap didatangi oleh jemaah dari berbagai penjuru, mulai dari Surabaya, Pasuruan, Jakarta, bahkan sampai luar negeri. (han)
Editor : Hany Akasah